Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Ayub Antara penderitaan dan keheningan Tuhan (Ayub 7:7-10)

Antara penderitaan dan keheningan Tuhan (Ayub 7:7-10)

AYUB menyadari betapa riskannya hidupnya. Rapuh. Ringkih. Harapannya untuk melihat yang baik, nampaknya sirna.

Itu sebabnya dia berkata, “Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.” (7:7).

Kata ingat yang dia gunakan kemungkinan dia sedang bicara kepada Tuhan. Ayub berharap Tuhan akan menanggapi dilema yang dihadapinya saat ini..

Sebagai orang yang takut Tuhan, dia ingin agar Tuhan bertindak dengan penuh belas kasihan, dan berhenti berdiam diri, dan akan membebaskan dirinya dari penderitaannya.

Tentu harapan Ayub ini wajar. Mengingat kesetiaannya kepada Tuhan dan perbuatan kebajikannya kepada banyak orang. Normal saja jika dia menuntut agar Tuhan bertindak.

Mungkin hal yang kurang normal adalah bila seseorang yang jauh dari Tuhan, tiba-tiba menuntut Tuhan agar memperhatikannya dan segera menjawab permohonannya.

Dan ketika harapannya tidak terjadi. Dia merasa Tuhan tidak peduli. Padahal dia sendiri yang tidak peduli kepada Tuhan. Akhirnya dia mengutuk Tuhan sebagai ilah yang kosong.

Tentu Ayub sangat pantas untuk segera dapat mujizat Tuhan. Tapi Tuhan masih menunggu. Tidak segera saat itu melepaskan Ayub dari cengkraman sijahat.

Dia punya waktu dan cara yang tepat. Dalam kebijaksaan-Nya yang sulit dimengerti, dia hanya dapat berseru dan terus berharap kepada Tuhan.

Kita pun perlu terus berharap kepada Tuhan yang kebijakannya sulit kita selami. Terlebih pada saat-saat kritis.

Dia mengatakan, Hidupku hanyalah hembusan napas, uap yang cepat lenyap. Artinya, Ayub berharap Tuhan akan mengingat hidupnya yang fana ini.

Dia juga menyadari bahwa hamba-Nya hampir mencapai batas kemampuan tubuhnya.

“Mataku tidak akan lagi merasakan kesenangan..” Disini Ayub sangat takut bahwa jika Tuhan tidak campur tangan, ia tidak akan pernah lagi merasakan sisi menyenangkan dari kehidupan.

Selanjutnya di ayat 8-10, dia kembali melanjutkan..

“Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi. Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.”

Diayat tersebut, Ayub mendasarkan permohonannya kepada Tuhan untuk mengingat bahwa pada kenyataan akan rugi jika hamba-Nya mati.

Sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi. Tuhan akan mencarinya, tetapi tidak akan menemukannya. Ia akan mati secepat dan setenang awan yang melayang di langit dan lenyap.

Gambar ini menyentuh hati, karena awan yang bergerak cepat melintasi langit segera menghilang tanpa jejak, dan tidak pernah kembali.

Ayub sedang menggambarkan sifat fana atau sementaranya kehidupan manusia ini, Ayub ingin agar Tuhan menyadari betapa mendesaknya permintaannya.

Hidupnya sekarang benar-benar tidak berharga, dan akan segera berlalu tanpa makna yang abadi.

Dia yang turun ke Sheol (kuburan) tidak akan naik. Ayub tahu dia akan segera mati, turun ke Sheol. Di sana segala sesuatu akan terhenti, tidak lagi mampu berbuat baik atau memuji Tuhan.

Dia tidak pernah kembali ke rumah lagi. Dari perspektif kuno, tidak ada seorang pun yang kembali dari Sheol.

Ayub tidak akan pernah lagi mengawasi pengelolaan rumahnya atau mencintai anak-anaknya. Lingkungannya, tempatnya tidak akan lagi dikunjunginya.

Semua akan berakhir dalam kematian.

Maksud Ayub adalah jika Tuhan melepaskan dia dari penderitaannya, hidupnya akan terus bermanfaat bagi kehidupan.

Akan semakin banyak orang yang bisa dia bantu. Nama Tuhan akan dikenal oleh lebih banyak orang melalui kehidupannya.

Seperti Ayub, beranikah kita berseru kepada Tuhan agar Tuhan memberi kita kesempatan hidup lebih lama agar hidup kita bisa berdampak lebih luas kepada banyak orang?

Kita sering berdoa meminta umur panjang kepada Tuhan, tapi apakah permintaan itu untuk tujuan kepentingan pribadi atau kepentingan Tuhan..?

Ketika kita meminta umur panjang atau kesempatan hidup lebih lama, kita pun harus mengisi hari-hari kita dengan lebih banyak berbuat kebajikan dan melayani Tuhan..

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan