Iman yang bertindak, bukan menunda (Kejadian 22:3)
“Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.” Kejadian 22:3
UNTUK kedua kalinya Abraham akan kehilangan anaknya. Dia telah kehilangan Ismael lebih dahulu. Dia usir dari rumahnya atas petunjuk Tuhan..
Artinya dia terlibat langsung terhadap kehilangan Ismael. Walau kehilangan bukan karena kematian. tapi karena pengusiran.
Kalau ada waktu yang baik, kapan-kapan dia dapat mengunjungi Ismael atau Ismael datang berkunjung kerumah Abraham.
Sekarang untuk kedua kali, dia bersiap kehilangan anak keduanya – Ishak. Seperti halnya kepada Ismael, dia sangat mengasihi Ishak..
Ishak, anak yang dijanjikan Tuhan. Didapatkan dihari tuanya, yang lahir secara ajaib dan tidak lazim. Sebab itu, Ishak anak yang penuh perhatian.
Ishak beda dengan Ismael. Abraham akan kehilangan Ishak karena kematian. Dia tidak akan bertemu lagi dengan anak itu. Dia akan mati. Dan dia akan terlibat dalam kematiannya..
Tapi apa boleh buat, ini perintah Tuhan. Sebenarnya, dia bisa memilih. Mengikuti atau menolak. Sepanjang malam dia memikirkan itu.
Tetapi Abraham memilih untuk taat kepada perintah Tuhan. Mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran. Dan melakukan 7 langkah penting.
Pertama, Dia bangun pagi-pagi sekali, yang menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat. Kedua, ia memasang pelana keledainya.
Ketiga, ia memanggil dua bujangnya. Keempat, dia membawa Ishak, anaknya. Kelima, dia membelah kayu untuk korban bakaran.
Keenam, ia berangkat. Ketujuh, ia pergi ke tempat yang telah dikatakan Allah kepadanya. Ini adalah tindakan-tindakan yang terperinci dari ketaatan iman.
Memasang pelana keledai, membelah kayu dia lakukan sendirian pada pagi-pagi hari. Suara-suara patahan kayu yang dibelah Abraham, memecah kesunyian pagi itu.
Dengan hati yang hancur, dia memegang gagang kapaknya dan mengayunkan kapak untuk membelah kayu-kayu tersebut..
Mungkin saja Sara terbangun mendengar suara pukulan kapak. Dia datang mendekati sumber suara dan melihat suaminya sedang membelah kayu..
Sara melihat sesuatu yang tidak lazim dipagi hari. Abraham nampak mempersiapkan sesuatu untuk sebuah perjalanan jauh..
“Hendak kemana..” tanya Sara. Sambil memperhatikan wajah Sara yang masih setengah ngantuk, dia menjawab, “ Saya dan Ishak akan pergi kesatu tempat untuk mempersembakan korban kepada Tuhan..”
Sara tentu tidak memiliki kecurigaan apa pun yang sifatnya buruk. Dia percaya hal yang baik akan terjadi..
Abraham nampaknya pintar menyembunyikan kegalauan hatinya terhadap istrinya. Dia nampak baik-baik saja, seperti tidak terjadi apa-apa..
Dalam lubuk hati paling dalam, dia sedih, sakit. Itu sebabnya dia tidak ingin diganggu dia mau melakukannya sendiri, dia mau mempersiapkan sendiri pengorbanan untuk anaknya..
Padahal dia punya banyak pembantu, salah satu dari mereka bisa dia perintahkan untuk melakukan semua itu..
Namun dia hanya ingin sendirian saja dan tidak ingin berbicara dengan siapapun.
Dalam hidup ini ketika beban kita terlalu berat, ada saat dimana kita hanya ingin sendirian dengan Tuhan dan tidak ingin berbicara dengan siapapun..
Semua keperluan dan perlengkapan sudah beres. Bekal perjalanan sudah disiapkan Sara, yang dalam cerita ini dia pasif.
Waktunya berangkat. Sara melambaikan tangan selamat jalan kepada rombongan kecil Abraham dan Ishak.
Ketaatan Abraham melaksanakan perintah Tuhan yang tidak masuk diakal, menunjukkan kepercayaannya kepada Tuhan..
Pada tahap ini dia telah berada pada puncak kesempurnaan iman. Pada titik ini tidak ada lagi keraguan. Kekuatiran. Ketakutan.
Ketiga musuh iman ini telah dikalahkan. Tidak ada keraguan terhadap janji Tuhan untuk menjadi bangsa besar.
Dalam pikirannya, sekali pun nanti Ishak mati, Tuhan punya cara lain untuk membangkitkan baginya keturunan..
Ishak adalah harta yang paling mahal dalam hidupnya. Namun sekarang dia mau dengan tulus memberikan harta yang paling mahal itu. Anaknya sendiri untuk Tuhan.
Kerelaan memberikan satu-satunya yang berharga dan termahal dalam hidup adalah bukti terbesar dari iman. Abraham mau melakukannya. Dia lulus sejauh ini..
Poinnya, bukti iman yang terbesar adalah kerelaan memberikan satu perkara yang paling berharga dalam hidup kita..
Waktu kita berharga, namun berapa banyak dari kita yang mau memberikan waktu kita untuk Tuhan. Melayani pekerjaan Tuhan dan sesama..
Talenta dan ketrampilan kita berharga, namun berapa banyak dari kita mau memberikan talenta itu bagi pekerjaan Tuhan..
Saya mengenal seorang wanita pemain piano. Dia dibayar mahal untuk bermain piano di berbagai acara, baik dalam negeri dan luar negeri..
Namun untuk pekerjaan pelayanan, dia memberikan talentanya tanpa bayar, dengan bermain piano penuh semangat..
Uang kita sangat berharga, namun sudahkah kita memberikan yang terbaik dari semua yang kita miliki tersebut?
Kita tidak dipanggil untuk mempersembahkan anak kita untuk mati, tetapi kita diminta Tuhan mempersembankan hidup anak-anak kita bagi Tuhan..
Berapa banyak dari anak-anak kita yang dengan sukacita ambil bagian dalam pelayanan jemaat? Berapa banyak dari mereka yang ketika sudah dewasa tetap setia kepada Tuhan?
Mereka menjadi penginjil yang berkuasa membawa jiwa-jiwa bagi Tuhan..
Dalam perjalanan iman, kita harus mencapai tahap tertinggi dalam iman, seperti Abraham yaitu memberikan hidup secara total kepada Tuhan..


