Sebab-sebab kejatuhan Petrus
Teks: Markus 14:66-72; Lukas 22
Intro:
Hari itu masih subuh. Gelap dan sepi. Orang-orang masih tidur. Namun disebuah taman, ada seorang Pria menangis. Dia menangis tersedu-sedu. Hatinya sangat pedih. Pilu.
Pria itu adalah Petrus. Dan tempat dia menangis adalah Getsemani. Tangisan petrus bukan tangisan biasa. Menangis tersedu-sedu adalah tangisan yang disertai kepedihan hati yang luar biasa.
Maka pertanyaanya adalah, apa yang membuat Petrus menangis tersedu-sedu? Sebagai seorang Pria, yang besar dilingkungan yang keras, maka seharusnya dia bukanlah tipe pria yang bisa menangis apalagi sampai tersedu-sedu..
Sejarah mengatakan pantang bagi pria untuk menangis. Tetapi apakah pria tidak boleh menangis? Bagi kebanyakan orang, menangis dianggap Sebagai kelemahan.
Namun sejarah mencatat, pria menangis bukan karena dia lemah dan cengeng, ada sebab lain.
Dalam peradaban Yunani kuno ada seorang yang bernama Odyssei, seorang pendekar yang tangguh, tetapi dia menangis dan merana ketika kehilangan orang yang dicintai, rumah serta rekan seperjuangannya.
Di era tersebut, pantang bagi seorang pria untuk menangis, apalagi bagi seorang pahlawan besar seperti Odyssei.
Ia sekuat tenaga menyembunyikan air matanya dari orang-orang terdekatnya, namun dia mencari waktu yang tepat untuk menangis sendirian.
Ayah saya sepanjang hidupnya saya tidak pernah melihat dia menangis. Bahkan ketika dia kehilangan orang-orang yang dekatnya.
Maka seorang pria, kalau sampai dia menangis tersedu-sedu, itu pasti ada sesuatu yang menggoncangkan jiwanya, sampai dia tidak tahan lagi, dan akhirnya menangis tersedu-sedu.
Kita kembali kepertanyaan. Mengapa petrus menangis tersedu-sedu? dan tangisan macam apa yang sedang terjadi dalam diri Petrus?
Dia menangis, karena imannya lemah. Dia jatuh dengan menyangkal Yesus..
Kita tau ceritanya dengan baik dan kita akan melihat sebab-sebab kejatuhan Petrus, mengapa dia sampai menyangkal Tuhan Yesus..
Dan pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang membuat Petrus berbalik setelah dia jatuh.
Salah satu penyebab kejatuhan Petrus, dicatat di Lukas 22:54, “Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.”
Dia mengikut Tuhan dari jauh. Itu seperti Anak ayam yang terpisah dari induknya tinggal tunggu waktu kapan dia akan disambar burung elang.
Prajurit yang terpisah dari pasukannya, tinggal tunggu waktu kapan dia akan ditangkap musuh.
Ketika Petrus ikut Tuhah dari jauh, sekilas merupakan tindakan yang bijaksana. Sebetulnya dia sedang bermain aman.
Sebab nanti, Ketika mereka berkumpul, dia akan cerita kepada murid-murid lain, “..kalian semua penakut, meninggalkan Tuhan sendirian, saya tidak pernah meninggalkan Tuhan, saya ikut Tuhan walau dari jarak yang cukup jauh…”
Kenapa Petrus ikut Tuhan dari jauh? Cari aman. Supaya Ketika dia berada pada situasi tidak menguntungkan bagi dia, maka dia masih punya kesempatan untuk lari menyelamatkan dirinya sendiri.
Jadi disatu sisi, dia adalah pengikut Yesus, tapi disisi lain dia siap-siap untuk meninggalkan Yesus. Itu sebabnya dia ikut Tuhan dari jauh. Dan banyak orang ikut Tuhan seperti Petrus. Tidak komitmen.
Mengikut Tuhan, tapi tidak komit, itu seperti Air Suam. Air yang tidak panas dan tidak dingin. Suam-suam kuku.
Nah yang tanggung-tanggung begini, suam-suam kuku, ini yang repot. Kita ikut Tuhan, tetapi kapan-kapan kita segera lari tinggalkan Tuhan..
Kita baca ayat berikutnya Lukas 22:55. Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.
Secara fisik Petrus ikut Tuhan tapi dari jauh, maka secara mental dia tidak siap untuk berkorban bagi Tuhan. Jadi posisi fisik kita menetukan posisi mental dan rohani kita.
Itu sebabnya ketika dia melihat orang, dia sembunyikan identitasnya, dia bergabung dengan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan Yesus. Dia bergabung dengan kumpulan orang yang tidak sepaham dengan dia.
Kalau kita bergabung dengan orang yang tidak sepaham dengan kita: cara berpikirnya, falsafah hidupnya bertentangan dengan yang kita anut, maka akan terjadi pertentangan.
Tetapi karena kita ingin diterima, maka mulai kompromi. Itu sebabnya mazmur 1:1 mengingatkan,” Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,”
Coba kita lihat pergerakan ayat ini. Pertama, jalan-jalan dulu, tidak ada rencana apa-apa, tidak ada maksud apa-apa. Cuma jalan jalan.
Setelah jalan-jalan, melihat sesuatu yang menarik, mulai berhenti dan berdiri-berdiri.. setelah berdiri, melihat lihat, akhirnya ikut bergabung dan duduk disana, dan tidak lama sesudah itu sdh jadi bagian kelompok itu.
Jadi, Berbahagialah orang yang tidak berjalan, tidak berdiri, tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Siapa orang2 ini?
Mereka orang fasik, orang berdosa. Dan mereka pencemooh. Siapa yang mereka cemooh? Kebenaran..akal sehat.
Mereka mencemooh orang jujur, mereka tertawakan orang yang setia sama istrinya, mencemooh anak penurut, semua yang baik baik mereka cemooh.
Dan karena kita ada disitu duduk dengan mereka, dan kita tidak mau kelihatan berbeda dengan mereka, maka kita pura-pura setuju walapun bertentangan dengan hati nurani kita.
Inilah yang terjadi dengan Petrus. Dia duduk diantara orang-orang yang ingin menyalibkan Yesus, mereka mencemooh segala kebaikan Yesus.
Yesus menyembuhkan orang sakit, mereka cemooh, memberi makan orang, mereka cemooh..dan petrus tidak setuju dengan mereka tapi dia bergabung dengan mereka.
Raut wajahnya berbeda dari orang lain ditempat itu, itu sebabnya penampilannya menarik perhatian orang disana.
Nah inilah yang terjadi kepada anak yang baik baik yang kemudian menjadi nakal. Pertama Cuma jalan-jalan, berdiri berdiri, duduk duduk, dan supaya menunjukkan bahwa dia juga bisa nakal, tetapi keterusan, dan akhirnya dia jauh lebih nakal dan lebih jahat dari teman-temannya. Hanya karena ingin diterima.
Menjadi orang jahat itu satu hal. Tetapi lebih ngeri kalau kita pencemooh kebenaran, banyak orang jahat bergumul, dia tau dia jahat, dia tau dia salah, dia ingin berobah. Tetapi pencemooh kebenaran, sengaja dia lakukan karena dia benci kebenaran.
Itu sebabnya bagi orang yang non SDA, adalah wajar untuk merokok. Tetapi bagi seorang yang lahir, besar di advent, fakta dia merokok dia sedang mencemooh kebenaran. Karena secara sadar dia memilih melawan kebenaran yang dia sudah ketahui.
Untuks seorang yang besar di advent, untuk minum minum dia sedang mencemooh kebenaran, karena dengan sadar dia memilih dan memutuskan untuk melawan kebenaran yang dia sudah ketahui.
Lain halnya dengan orang yang tidak tau merokok itu salah, minum itu salah. Mereka jadi begitu karena mereka tidak tau kebenaran dan tidak ada yang ajar mereka.
Ayat 56. Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu berkata: “Juga orang ini bersama-sama dengan Dia.”
Satu dosa akan menuntun kepada dosa yang lainnya kalau tidak segera keluar dari sana. Petrus, sementara dia masih duduk-duduk dengan mereka, mereka mengenal dia sebagai orang yang sering bersama Yesus.
Dan dibenaknya, tidak ada rencana Petrus untuk menyangkal Yesus. Tetapi karena dia sudah duduk dengan mereka dan dia ingin terlihat sama dengan mereka, maka mulailah Petrus menyangkal Yesus, Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!”
Dosa itu bagaikan rawa, kita akan terperosok jauh lebih dalam dari yang kita siap hadapi. Kita akan jauh cepat terjerumus dari yang kita kira. Kita pikir kita bisa main aman dengan dosa, kita akan tertarik begitu cepat.
Petrus pikir dia akan aman ikut Yesus dari jauh. Justru dari jauh, dia mengutuk dan bersumpah tidak mengenal-Nya.
Itulah yang terjadi kepada Petrus, kenapa dia jatuh? Karena dia mengikut Tuhan dari jauh..dia bergabung dengan orang-orang yang salah.
Dan dia berusaha menyesuaikan diri dengan mereka. Dan tanpa dia sadari, dalam tempo yang singkat, dia sudah mengutuk dan menyangkal Yesus.
Walau pun kejatuhan Petrus begitu dalam, pertobatanya jauh lebih dalam lagi. Walau penyangkalan nya begitu mengerikan, tetapi pertobatannya jauh lebih indah.
Maka sekarang kita melihat, apa yang membuat Petrus bisa bertobat dari kejatuhannya tersebut.
Markus 14:27. Ini adalah suasana ketika semua masih dalam keadaan baik-baik saja, Yesus belum ditangkap, mereka masih berkumpul sama-sama.
Lalu Yesus katakan, “Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai”
Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua yang lain pun berkata demikian juga.
Jadi Petrus bertekad ketika masih aman, akan mati bersama dengan Yesus. Dan itu dia ucapkan berulang kali secara konsisten.
Jadi kunci utama pertobatan Petrus adalah Perkataan Yesus. Karena jauh sebelum dia menyangkal, Yesus sudah mengatakan dan mengamarkan bahwa Petrus akan menyangkal Dia tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. Dan amaran itulah yang dia ingat, dan akhirnya dia bertobat..
Ada gunanya kita mengingat nasehat dan amaran. Kita juga perlu perlu membaca alkitab dengan teratur, agar ada yang kita ingat. Kita perlu ulang-ulangi terus menerus.
Mungkin hari ini kita belum memerlukannya tapi suatu waktu kita akan memerlukannya. Nah karena Petrus sudah mendengar lebih dahulu, perkataan Yesus, maka itu berguna pada waktunya..
Dan ketika ayam berkokok, dia ingat Perkataan Yesus dan dia sadar telah berdosa menyangkal Tuhan.
Ada banyak orang ketika dihadapkan pada situasi dimana mereka harus memilih, atau memutuskan sesuatu perkara yang penting, tidak tau mau buat apa, tetapi karena dia tekun membaca alkitab, tiba-tiba dia ingat ada cerita di Alkitab sperti ini, ada ayat alkitab yang berkata demikian.
Jadi Firman yang dibaca dimasa lalu itu, akan menjadi terang pada saat akan diperlukan suatu waktu..
Dan ini yang terjadi..ketika petrus bersumpah bahwa dia tidak mengenal Yesus, berkokoklah Ayam. Bukan hanya petrus yang mendengar ayam berkokok. Seluruh orang mendengar kokokan ayam itu.
Para penjaga malam ketika mendengar kokokan ayam, artinya jam jaga mereka sudah akan selesai. Para petani yang mendengar kokokan ayam itu segera bangun dan siap-siap pergi keladang krn sudah mau pagi. Para pedagang bangun siap siap mau jualan kepasar.
Tetapi Sebagian orang tidur nyenyak, mereka tidak mendengar bahwa ayam berkokok. Tetapi bagi Petrus, suara kokokan ayam itu bagaikan petir yang menyambar di siang hari.
Yang dia dengar suara ayam, tetapi yang dia ingat dan menusuk dihatinya adalah perkataan Yesus.
Maka hati hati dengan cara kerja Tuhan. Seringkali Tuhan menggunakan hal yang sederhana untuk memalingkan wajah kita kepada-Nya.
Petrus disadarkan oleh kokokan ayam. Bukan kali ini saja Petrus mendengar suara ayam. Tiap hari dia mendengar suara ayam.Tetapi pagi itu, suara ayam adalah panggilan Tuhan yang sangat hebat bagi dia.
Kita sering menunggu tanda besar supaya kita bertobat. Sering kita tunggu tanda kecelakaan supaya bertobat, penampakan, mujizat besar, dll. Supaya kita bertobat.
Tetapi sebaliknya, Tuhan sering menggunakan hal yang sederhana, tetapi karena kita kurang sensitive, maka kita merasa itu bukan panggilan Tuhan.
Saya ingat paman saya, puluhan tahun dia jauh dari Tuhan, tetapi dia ditobatkan oleh nyanyian lagu sion dilapo tuak, dimana lagu ini dulu dia sering nyanyikan Ketika dia masih setia.
Boleh jadi renungan pagi tadi menjadi kokokan ayam supaya kita sadar, boleh jadi nasehat seorang teman, boleh jadi renungan ini jadi kokokan ayam buat saudara dan saya.
Ilustrasi Petrus Wiharja, bertobat karena tulisan ditong sampah.
Lukas 22:61, “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.”
Jadi Ketika Ayam berkokok, Yesus memang Petrus dan Petrus memandang Yesus. Pandangan itulah yang membuat Petrus mengingat perkataan Yesus.
Yesus diadili, dituduh, diantara hidup dan mati, dan begitu mendengar ayam berkokok, Yesus berpaling dan memandang Petrus.
Ketika Petrus melihat Yesus, dia tidak tahan melihat sorotan cahaya mata-Nya. Disana ada kepedihan dan kekecewaan yang dalam, tetapi jauh lebih dalam dari itu adalah cahaya pengampunan dan jaminan kasih Yesus baginya.
Melihat wajah itu, maka teringatlah Petrus dan dia keluar dari sana dan menangis tersedu-sedu. Dan dia dimenangkan.
Pada malam itu Yesus sedang memandang kepada 2 Petrus dan Yudas. Sebelum Yesus disalib, Yudas ikut perjamuan dan Yesus memandang kepadanya, tetapi dia pergi keluar dan tidak pernah kembali lagi.
Petrus, ketika Yesus memandang kepadanya dia kembali. Mereka sama sama menangis, bedanya Petrus menangis menyesali dosanya, Yudas menangis menyesali akibat dosa itu. Dan nasib mereka berbeda.
Saat ini Yesus sementara memandang kita masing masing, jangan keraskan hati. Sebagaimana suara kokokan ayam mengingatkan kita akan hal-hal yang perlu kita perbaiki, hal yang perku kita buang jangan keraskan hati.
Dan bagi kita yang ingin komitmen kepada Tuhan untuk jangan ikut Tuhan dari jauh, maukah anda berdiri?
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









