7 Pelajaran Penting dari 7 Jemaat (Wahyu 2-3)
Teks: Wahyu 2-3
Pendahuluan
Selamat malam untuk kita semua. Selamat datang di KKR pada malam ini. Sepanjang 3 hari ini kita akan mengikuti seri pelajaran dari kitab wahyu dan malam ini, topik pelajaran kita adalah Kabar kesukaan dari tujuh jemaat..
Ilustrasi:
Bertahun-tahun yang lalu, sepasang pengantin baru harus berpisah oleh jarak, karena tugas suami sebagai tentara. Satu-satunya komunikasi mereka hanya melalui surat..
Suatu kali, sang suami, menulis surat cinta untuk istrinya, namun surat itu tidak pernah tiba dialamat tujuan. Entah bagaimana surat itu terselip dan hilang..
Namun, 50 tahun kemudian, ketika mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 50, tiba-tiba seorang kurir pos mengirimkan surat yang telah hilang selama 50 tahun..
Hal itu terjadi ketika kantor pos lama dibongkar dan akan dibangun kembali, para pekerja kantor pos menemukan ada surat yang belum terkirimkan atas nama kopral muda..
Kemudian oleh kepala kantor pos, memerintahkan agar surat itu dikirim dan mencari tahu alamat pemilik surat tersebut.. surat tertanggal 28 Januari 1955.
Surat itu membuat hati istrinya Sally berdebar-debar, air mata menggenang, dan ia kembali menjadi gadis 22 tahun yang dimabuk cinta. “Itu sangat berarti bagiku saat itu,” kata Sallie. “Sekarang, itu bahkan lebih berarti lagi.”
Surat Kepada 7 Jemaat
Ribuan tahun yang lalu, Tuhan menulis surat cinta-Nya kepada kita. Surat itu menunggu untuk dibuka dan dibacakan. Surat itu sangat berarti saat itu, dan bahkan lebih berarti lagi sekarang ini.
Surat itu adalah surat Yesus, yang ditujukan kepada 7 jemaat di Asia Kecil. Surat ini disampaikan melalui Yohanes.
Surat itu adalah wahyu Yesus Kristus. Isinya petunjuk tentang peristiwa yang akan terjadi dimasa depan.
Surat ini ditulis karena kerohanian ketujuh jemaat sedang dalam keadaan yang mengerikan, yang akan mengancam keberadaan mereka sebagai umat Tuhan..
Jemaat di Asia kecil secara geografis berada di Turki: Jemaat Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, Laodekia.
Namun jemaat ini sudah tidak ada lagi sekarang. Puing-puingnya masih ada dan banyak dikunjungi orang-orang sebagai situs budaya dan religi..
Ketujuh jemaat ini, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Nama-nama mereka menggambarkan kondisi kerohanian mereka yang sebenarnya..
Jemaat Efesus, jemaat yang kehilangan kasih. Smirna, jemaat yang teraniaya. Pergamus, jemaat yang berkompromi dengan dosa. Tiatira, jemaat yang tersesat oleh perzinahan.
Sardis, jemaat yang mati rohani. Filadelfia, Jemaat yang setia. Laodikia, Jemaat yang suam-suam kuku.
Disampaing geografis, ketujuh jemaat juga menggambarkan keadaan kerohanian umat Tuhan secara pribadi saat ini.
Boleh jadi saat ini kita seperti jemaat Efesus. Kita kehilangan kasih kepada sesama. Kita menjadi sombong rohani. Merasa diri paling benar dan tidak punya belas kasihan kepada mereka yang berdosa..
Mungkin saja kita saat ini seperti jemaat Smirna. Kita sementara teraniaya karena kesetiaan kita kepada Tuhan. kita ditekan, diejek, di bully karena kita orang Kristen.
Sekolah dan pekerjaan kita terancam karena kita iman kita. Bahkan nyawa kita terancam..
Mungkin saat ini kita seperti jemaat Pergamus. Kita kompromi dengan dosa. Kita mencampurkan kebenaran dengan kepalsuan. Demi kenangan dunia, kita menurunkan standar kebenaran..
Boleh jadi kita saa ini seperti jemaat Tiatira, kita tersesat, jauh dari Tuhan karena perzinahan.
Mungkin saja saat ini kita seperti jemaat Sardis, kita mati secara rohani. Kita tidak tertarik lagi kepada hal-hal rohani.
Boleh jadi kita seperti jemaat Filadelfia, kita setia. Bersemangat dalam kerohanian. Aktif dalam pelayanan, giat menginjil.
Mungkin saja kita saat ini seperti jemaat laodekia, suam-suam kuku. Kerohanian kita tidak jelas. Kadang rajin kadang tidak. Komitmen kita kepada Yesus kurang sungguh-sungguh..
Apa pun bentuk kerohanian kita saat ini, kita dapat diubahkan..
Selanjutnya, ketujuh jemaat juga melambangkan periode gereja di sepanjang zaman Kristen, dari gereja mula-mula hingga akhir zaman..
Penggunaan angka tujuh kepada 7 jemaat, memiliki makna simbolis: angka tujuh adalah angka kepenuhan dan kesempurnaan.
Sehingga kita dapati periode Jemaat sbb:
- Jemaat Efesus (31-100)
- Jemaat Smirna (100-313)
- Jemaat Pergamus (313-538)
- Jemaat Tyatira (538-1517)
- Jemaat Sardis (1517-1798)
- Jemaat Philadelphia (1798-1844)
- Jemaat Laodikea (1844-kiamat)
Maka dari segi periode sekarang ini kita berada pada periode Laodikia..Laodikia adalah periode jemaat yang terakhir..Apa artinya ini ? kita berada di penghujung penutupan sejarah dunia..
Kalau kita perhatikan baik-baik..pekabaran pertama dan yang utama disampaikan kepada ketujuh jemaat, selalu didahului dengan seruan pertobatan..
Sama seperti Yohanes pembaptis sebelum memperkenalkan Yesus sebagai Mesias, dia menyampaikan seruan pertobatan..
Mengapa? supaya mereka siap menerima kedatangan Mesias..maka ketika Yesus menyerukan pertobatan kepada ketujuh jemaat dan kepada kita, agar kita siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali..
Jadi inti pekabaran Kepada ketujuh jemaat adalah seruan pertobatan..kecuali jemaat smirna dan filadelfia..
Misalnya kepada Efesus Yesus katakan bertobatlah..kenapa? karena mereka telah kehilangan kasih yang mula-mula..
Pada masa-masa awal mereka, orang-orang Kristen di Efesus dikenal karena “iman mereka kepada Tuhan Yesus” dan “kasih mereka kepada semua orang kudus” (Efesus 1:15).
Beberapa tahun kemudia, kasih itu memudar. Kasih mereka kepada Kristus semakin berkurang, dan akibatnya, kasih mereka kepada satu sama lain pun memudar.
Agama mereka tanpa kasih. Mereka melakukan apa yang benar, tetapi perbuatan mereka menjadi dingin, tidak memiliki kasih kepada Kristus dan sesama manusia.
Yesus menasehatkan mereka untuk mengingat dan bertobat dan kembali kepada kasih mula-mula. Mereka tidak boleh melupakan hubungan yang pernah mereka miliki dengan Kristus.
Dengan mengingat kembali kasih yang tulus kepada Kristus, maka kasih itu akan mengalir dari hati mereka..
Kemudian mereka harus bertobat, dengan menunjukkan perubahan yang radikal dalam hidup.
Pesan kepada jemaat di Efesus merupakan peringatan abadi bagi semua orang Kristen, untuk selalu mengingat tema utama Injil: kasih Allah.
Amaran bagi mereka yang tidak bertobat adalah, “Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya..” Why 2:5.
Kaki dian adalah kesaksian umat-umat Tuhan. Artinya, kalau mereka tidak bertobat, maka Tuhan akan mencabut mereka sebagai umat-Nya.
Demikian halnya juga dengan kita, bila kita tidak bertobat, Tuhan mencabut kita menjadi umat pilihan-Nya..
Kepada Smirna, mereka sementara menderita aniaya. Kata Yunani untuk penderitaan di sini menunjukkan tekanan dari beban yang menghimpit. Mereka berada dalam kemiskinan yang ekstrem dan melarat.
Karena mereka setia kepada Kristus, banyak anggota jemaat yang dikucilkan dan kehilangan pekerjaan mereka, yang lain dipenjara dan bahkan mati.
Walau demikian, jemaat Smirna kaya dalam kasih karunia dan iman.
Namun, Yesus mendorong mereka untuk tetap setia, bahkan sampai mati, dan Dia akan memberikan “mahkota kehidupan” (Why. 2:10)
Mahkota yang dijanjikan Yesus kepada umat-Nya di Smirna adalah hidup yang kekal, yang akan diberikan pada saat Kedatangan-Nya yang kedua kali (2 Tim. 4:8).
Demikian juga dengan kita, akan menerima mahkota kehidupan bila kita setia sampai akhir hidup kita..
Kepada jemaat Pergamus, mereka berkompromi dengan dosa. Sebenarnya Sebagian besar jemaat pergamus setia, namun karena takut aniaya, beberapa orang berkompromi dengan penyembahan berhala..
Mereka, kelompok Nikolaus dan ajaran Bileam. Orang-orang ini mendorong rekan-rekan mereka sesama orang Kristen untuk berkompromi menyembah kaisar dan terlibat dalam sosial keagamaan kafir (Why. 2:14), agar mereka terhindar dari penganiayaan..
Karena itu, Yesus mendorong mereka untuk tidak berkompromi dengan praktik-praktik keagamaan kafir. Ia menasihati mereka untuk bertobat. Kalau tidak, mereka akan dihakimi..
Demikian juga dengan kita, mungkin kita telah kompromi secara rohani. Kita telah memberhalakan pekerjaan kita, memberhalakan uang dan gadget kita..mari kita bertobat..
Kepada jemaat Tiatira, mereka membiarkan perzinahan rohani terjadi. Izebel, pemimpin gerakan yang mempromosikan kompromi dengan standar dunia.
Pengaruhnya yang menggoda memberikan dampak yang besar pada gereja, membuat banyak orang tersesat dan berkompromi dengan kekafiran dan kemurtadan.
Bagi mereka yang tetap setia, Yesus menjanjikan hadiah terbesar, yaitu karunia diri-Nya sendiri.
Kepada jemaat di Sardis, masalah mereka adalah rasa puas diri dan kelesuan rohani. Mereka kompromi dengan lingkungan kafir dan itu membunuh kehidupan rohani dan kesaksian mereka untuk Injil.
Seperti hal kita, mengkompromikan nilai-nilai iman kita dengan lingkungan dimana kita berada. Karena kita takut tidak diterima. Dan ini membunuh iman kita..
Kita menjadi tidak punya gairah untuk hal rohani. Pelayanan bagi kita sebagai beban. Kita setengah hati untuk Tuhan..
Satu-satunya cara untuk kembali kepada pengabdian sepenuh hati kepada Kristus adalah dengan bangun dan tetap berjaga-jaga.
“Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Efesus 5:14.
Kepada jemaat Filadelfia, tidak ada teguran untuk jemaat ini, mereka setia. Walau pun demikian mereka tidak kuat secara rohani.
Situasi mereka sama dengan situasi di Sardis, yaitu pengaruh lingkungan kafir yang memengaruhi kehidupan rohani dan kesaksian mereka bagi Injil.
Walau mereka lemah, mereka terus berpegang pada apa yang mereka Imani. Mereka tetap setia kepada Tuhan..
Pada periode ini terjadi kebangkitan Protestan yang besar. Gerakan kebangunan rohani terjadi dimana-mana, dan hal ini menghasilkan pemulihan semangat persekutuan Kristen dan pengorbanan diri.
Hasilnya, terjadi penyebaran Injil yang luar biasa yang belum pernah dialami sebelumnya. Bila kita setia dan bersemangat, maka injil akan tersebar lebih luas.
Kepada jemaat Laodekia, kondisi mereka secara rohani sangat buruk. Anehnya mereka tidak didakwa melakukan dosa, kemurtadan, atau kesesatan.
Namun teguran kepada mereka jauh lebih keras daripada jemaat lainnya. Gereja ini mencerminkan rasa puas diri dari kota yang membanggakan diri atas pencapaian dan kekayaannya..
Para anggotanya mengaku kaya dan tidak kekurangan apa pun, pada kenyataannya, mereka sengsara dan miskin secara rohani, buta, dan telanjang (Why. 3:17).
Mereka buta akan kondisi mereka, yang miskin secara rohani. Kesombongan mereka yang menipu diri sendiri menghalangi mereka untuk melihat diri mereka sendiri sebagaimana adanya.
Demikian juga dengan kita sekarang ini. Kita merasa kaya, sebenarnya kita melarat secara rohani. Kita merasa kita setia, sebenarnya kita melarat secara rohani..
Karena itu, Yesus menawarkan mereka pakaian putih untuk menutupi kondisi mereka yang menyedihkan. Pakaian putih adalah simbol keselamatan (Wahyu 3:4-5; 7:9, 13-14).
Yesus menawarkan minyak pelumas mata kepada orang-orang Laodikia untuk mengurapi mata mereka, sehingga mereka dapat melihat kondisi rohani mereka yang sebenarnya.
Pemazmur berdoa: “Bukalah mataku, supaya aku dapat melihat” (Mazmur 119:18)
Orang-orang Kristen di Laodikia membutuhkan pengaruh Roh Kudus untuk membuka mata rohani mereka, sehingga mereka dapat melihat keadaan mereka yang sebenarnya..
Yesus menasihati mereka untuk membeli emas, pakaian, dan minyak pelumas mata dari-Nya. Fakta bahwa barang-barang tersebut tidak ditawarkan secara gratis menunjukkan bahwa orang-orang Laodikia harus memberikan sesuatu sebagai ganti dari apa yang mereka butuhkan.
Mereka harus melepaskan kesombongan, rasa puas diri, dan perasaan kaya untuk dapat menerima kekayaan dari Kristus.
Satu-satunya obat bagi gereja adalah pertobatan yang tulus. Yesus mendesak jemaatnya untuk berpaling dari rasa puas diri mereka dan membuat sebuah awal yang baru.
Jadi seperti ketujuh jemaat, apa pun kelemahan rohani kita saat ini kita dipanggil untuk bertobat, bertekun, bijaksana, mengasihi Yesus..
Penutup
Jadi kabar kesukaan dari Yesus kepada ketujuh jemaat sbb:
Pelajaran dari Efesus: Kembalilah ke jalur yang benar—lakukan Pekerjaan Tuhan. Beritakan Injil dengan semangat, kasihi Kebenaran, dan kasihi satu sama lain.
Pelajaran dari Smirna: Tetaplah setia dalam pencobaan—bertahanlah sampai akhir dan jangan menyerah!
Pelajaran dari Pergamos: Jangan menoleransi ajaran sesat atau mereka yang menyebarkannya—kompromi menyebabkan orang tersandung; orang Kristen harus membela Kebenaran.
Pelajaran dari Tiatira: Jangan berpura-pura mengikuti ajaran sesat hanya demi penampilan—jangan mengkompromikan Kebenaran, jangan kembali kepada jalan yang telah kamu tinggalkan karena panggilanmu, atau kamu akan menderita kesengsaraan
Pelajaran dari Sardis: Jangan biarkan Kebenaran mati—pegang teguh Kebenaran yang telah diberikan kepadamu; hasilkan buah dari Kebenaran yang berharga ini, atau dihapus dari Kitab Kehidupan!
Pelajaran dari Filadelfia: Tetaplah setia pada Kebenaran—lakukan pekerjaan memberitakan Injil, kasihilah saudara-saudara seiman, dan jangan biarkan siapa pun mengambil mahkotamu.
Pelajaran dari Ladekia: Bangunlah sebelum terlambat, dan mohonlah kepada Tuhan untuk membuka mata Anda agar dapat melihat kondisi rohani Anda sendiri—bertobatlah dari rasa puas diri, kompromi, materialisme, dan kemandirian yang keras kepala; tanggapilah kepemimpinan Yesus Kristus dan jangan kehilangan upah Anda!
Jika kita mengindahkan pelajaran-pelajaran ini, kita akan menerima pahala dari Yesus Kristus.
Wahyu 3:22 mengatakan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









