8 Makna Ketika Kita Memberi Persembahan Kepada Tuhan

Persembahan Untuk Yesus

AYAT INTI: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.” (Mazmur 116: 12-14).

Bagaimana manusia membalas segala kebajikan TUHAN? Manusia akan mengangkat piala keselamatan dan akan menyerukan nama TUHAN serta membayar nazarnya kepada TUHAN.

Selain mengembalikan persepuluhan, ada persembahan-persembahan yang berasal dari 90 persen yang tinggal di tangan umat-umat-Nya untuk dikembalikan kepada TUHAN. Di sinilah kemurahan hati dimulai.

Ada beberapa jenis persembahan: persembahan penghapus dosa, persembahan syukur, persembahan untuk orang miskin dan persembahan untuk membangun dan memelihara rumah ibadah.

Persoalan besar kepada manusia saat ini adalah hutang dan sering tidak menguntungkan mereka yang berhutang.

Pemberian-pemberian manusia kepada TUHAN melalui persembahan-persembahan bukan sekedar memenuhi kebutuhan gereja secara fisik atau pelayanan.

Manusia membawa persembahan sebagai sambutan terhadap apa yang telah dilakukan oleh TUHAN kepada manusia, terutama pengorbanan Yesus.

Manusia mengasihi TUHAN karena TUHAN lebih dahulu mengasihi manusia (1 Yohanes 4:19).

Motif Memberi.

Baca 6:31-34; Ulangan 28:1-14.

Manusia mengasihi TUHAN karena TUHAN lebih dulu mengasihi manusia itu. Pemberian manusia kepada TUHAN adalah respons kepada pemberian-Nya yang ajaib untuk manusia.

Tuhan tidak membutuhkan persembahan-persembahan manusia.

TUHAN tidak menjadi kaya karena pemberian manusia.

TUHANlah sumber segala sesuatu yang manusia miliki.

TUHAN mengijinkan manusia untuk menunjukkan penghargaan manusia akan kebaikan-kebaikan-Nya dengan usaha-usaha pengorbanan diri manusia untuk diberikan kepada orang-orang lain.

Ini adalah satu-satunya cara di mana manusia dapat mewujudkan rasa syukur dan cinta kepada TUHAN.

Apa makna ketika manusia memberikan persembahan kepada TUHAN?

1. Tindakan ini menguatkan cinta manusia kepada TUHAN dan orang lain. Itu sebabnya uang dapat menjadi kekuatan yang sesungguhnya untuk kebaikan.

2. Ini bukti kerelaan manusia untuk mengorban diri bagi TUHAN.

3. Persembahan dapat menjadi pengalaman rohani yang dalam, satu ekspresi yang nyata bahwa kehidupan diserahkan sepenuhnya kepada TUHAN.

4. Persembahan adalah bukti kemurahan hati untuk menolong menyaksikan kasih manusia kepada TUHAN.

5. Persembahan bergantung pada keyakinan bahwa manusia memiliki kepastian keselamatan dalam Kristus.

6. Persembahan datang dari hati yang percaya kepada TUHAN yang terus-menerus menyediakan kebutuhan-kebutuhan manusia sebagaimana yang terbaik dalam pandangan-Nya.

7. Persembahan meluap dari yang telah menerima Kristus melalui iman sebagai satu-satunya sarana yang cukup untuk rahmat dan penebusan.

8.Persembahan bukanlah sesuatu untuk menenangkan hati TUHAN atau mencari penerimaan TUHAN.

Berapa Porsi untuk Persembahan?

Baca Ulangan 16:17; Mazmur 116:12-14.

TUHAN tidak menentukan persentasi akan persembahan yang umat-Nya bawa kepada-Nya. Persembahan yang manusia bawa sesuai dengan berkat yang TUHAN berikan kepada manusia.

Persembahan adalah sebuah pengakuan dan ekspresi rasa syukur manusia kepada TUHAN karena karunia yang berlimpah dari kehidupan, penebusan, nafkah dan berkat berkesinambungan dalam berbagai bentuk.

TUHAN begitu baik dengan berbagai berkat yang Dia berikan kepada manusia.

Pertanyaannya, bagaimana manusia membalas kebaikan TUHAN yang luar biasa itu? Manusia tidak dapat membalas kebaikan TUHAN.

Namun manusia dapat melakukan sesuatu yaitu berbuat baik melalui menolong pekerjaan TUHAN dan sesama.

Yesus berpesan kepada para murid-murid-Nya bahwa mereka telah menerima kuasa dari TUHAN dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8).

Persembahan manusia berkontribusi pada perkembangan karakter seperti Kristus. Manusia yang mencintai dirinya sendiri diubahkan kepada saling mengasihi, peduli kepada orang lain dan pekerjaan TUHAN sama seperti Kristus peduli.

Kasih TUHAN yang begitu besar telah diberikan kepada manusia. Sekarang manusia harus membagikan kasih itu.

Sebaliknya, menimbun untuk diri sendirim semakin mencintai diri sendiri, manusia akan semakin sengsara.

Itu sebabnya, TUHAN memberikan kebebasan kepada manusia berapa jumlah atau persentasi yang diberikan dan kepada siapa akan diberikan.

Namun, membawa persembahan kepada TUHAN adalah satu tugas Kristiani dengan implikasi moral dan rohani.

Mengabaikan hal penting ini berhubungan dengan kehancuran rohani diri sendiri mungkin lebih yang seseorang sadari.

Persembahan-persembahan dan Ibadah.

Baca 1 Tawarikh 16:29; Mazmur 96:8,9; 116:16-18.

Kitab Suci tidak memberikan kepada manusia aturan ibadah. Tapi paling tidak ada empat hal yang ada dalam pelayanan ibadah yaitu berkhotbah, berdoa, musik dan memberikan persembahan serta persepuluhan.

Tiga kali setahun para pria dan keluarga Israel datang ke hadirat TUHAN. Mereka datang tidak dengan tangan hampa.

Ini berarti bagian dari pengalaman beribadah adalah membawa persepuluhan dan persembahan. Membawa persembahan dan persepuluhan merupakan bagian inti dari pengalaman beribadah bangsa Israel.

Ibadah yang benar bukan hanya disertai rasa syuku dan terima kasih dalam kata-kata dan pujian dan doa kepada TUHAN.

Ungkapan rasa syukur itu dinyatakan dengan membawa persembahan ke rumah TUHAN. Manusia datang ke rumah TUHAN, sujud menyembah TUHAN, masuk ke dalam pelataran-Nya dan membawa persembahan kepada TUHAN. Ini merupakan satu kesempatan istimewa dan tanggung jawab manusia.

Anak-anak harus juga diajar untuk berbagi sukacita dengan orang tua dalam membawa persepuluhan dan persembahan.

Intinya, mengembalikan persepuluhan dan membawa persembahan adalah bagian dari pengalaman beribadah manusia dengan TUHAN.

Allah Memperhatikan Persembahan Kita.

Baca Markus 12:41-44; Kisah Para Rasul 10:1-4.

Yesus mengamati mereka yang membawa persembahan ke rumah TUHAN. Yesus menyatakan bahwa persembahan janda yang miskin itu lebih banyak daripada yang lain (Markus 12:41-44).

Janda miskin itu memberikan persembahan dari kekurangannya. Dia memberikan semua yang dimilikinya. Persembahannya datang dari hati yang mengasihi TUHAN.

TUHAN melihat motif manusia dalam memberi persembahan. Sang janda percaya pelayanan di kaabah adalah petunjuk TUHAN dan dia sangat ingin melakukan yang terbaik untuk mempertahankannya.

Sang janda melakukan apa yang mampu dia buat. Hati sang janda pergi bersama dengan persembahannya.

Nilai persembahan dihitung bukan berdasarkan harga dari mata uang, tetapi melalui kasih kepada TUHAN dan ketertarikan manusia pada pekerjaan-Nya yang telah mendorong perbuatan itu. Hanyalah persembahan janda ini yang Yesus puji.

Pengalaman Kornelius menunjukkan bahwa ketulusan hati, kesetiaan, kesungguh-sungguhan dan sukacita memberikan pemberian-pemberian ke pekerjaan TUHAN menjadi perhatian TUHAN.

Motif Kornelius memberikan persembahan diperhatikan oleh TUHAN. Kornelius adalah seorang pemberi yang murah hati.

Hati Kornelius mengikuti persembahannya. Doa dan sedekahnya terikat erat dan menunjukkan kasih kepada TUHAN dan sesama. Persembahan Kornelius telah naik ke hadapan TUHAN.

Proyek Khusus: Memberi dari Stoples Besar.

Baca Markus 14:3-9; Yohanes 12:2-8.

Penelitian menunjukkan bahwa hanya 9 persen aset manusia yang dapat segera dijadikan uang dan dapat dikontribusikan sebagai persemabahan pada saat diberitahukan atau diminta.

91 persen lainnya adalah aset yang tidak mudah untuk diuangkan (tanah, rumah, investasi, dll.).

Aset yang hanya 9 persen itulah yang disebutkan “toples kecil” dan aset yang 91 persen itu disebut “toples besar.”

Kebanyakan orang memberi persembahan atau kontribusi mereka dari stoples kecil. Ini adalah yang ada di buku tabungan, ATM dan dompet.

Tetapi ketika seseorang benar-benar tertarik tentang sesuatu, dia akan memberi dari stoples yang besar.

Beberapa contoh dalam Alkitab antara lain:

1. Maria, saudari Marta dan Lazarus, meminyaki Yesus dengan minyak yang mahal. Minyak itu seharga 300 dinar yang merupakan upah seorang pekerja selama sat tahun.

Inilah aset dari stoples besar. Apa yang mendorong Maria melakukan hal tersebut? Maria melakukannya sebagai persiapan untuk kematian Yesus.

Maria melakukannya karena dia telah menerima kasih karunia dari Yesus yang begitu mahal. Maria telah menerima pengampunan dari Yesus.

Menuntunt kasih dan komitmen yang sejati untuk dapat memberi dari stoples besar (investasi-investasi).

Namun ketika manusia justru menjadi serakah, manusia justru menjual jiwanya untuk sesuatu yang sia-sia. Inilah yang dilakukan oleh Yudas.

Yudas memprotes apa yang Maria lakukan dengan mencoba membawa pikiran manfaat dari uang 300 dinar itu seandaianya dibagikan kepada orang-orang miskin.

Apa yang terjadi kepada Yudas? Dia justru menjual Yesus. Dia menjadi orang yang mengkhianati Yesus. Ini akibat keserakahan.

2. Barnabas menjadi orang kedua yang memberi dari stoples besar. Dia menjual ladang miliknya dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Barnabas menjadi misionari yang besar bersama Paulus. Dia bukan hanya memberikan dirinya menjadi misionaris tapi dia juga memberikan stoples besarnya.

Pemberian pengorbanan sama pentingnya baik bagi si pemberi maupun si penerima. Ini mengikis roh mementingkan diri, rasa syukur kepada TUHAN sebagai pemberi berkat dan kerendahan hati.

Inilah pembuktian dua pembuktian besar kasih manusia kepada TUHAN dan sesame. Kasih kepada TUHAN dinyatakan dalam hubungan manusia dengan TUHAN melalui doa-doa.

Kasih kepada manusia dinyatakan dalam memberi persembahan.

Kesimpulan.

Buku catatan peringatan di surga juga mencatat kesetiaan keuangan dari anggota keluarga TUHAN. Catatan yang teliti untuk setiap persembahan yang didedikasikan untuk TUHAN dan yang dimasukkan dalam perbendaharaan.

Motif dalam memberi juga dicatat. Mereka yang mengorbankan diri, orang-orang yang dikuduskan yang mengembalikan kepada TUHAN hal-hal yang adalah milik-Nya seperti yang dituntut-Nya, pasti akan dihargai menurut perbuatan mereka.

Meskipun cara yang ditetapkan salah diterapkan, sehingga hal itu tidak mencapai sasaran yang dilihat oleh si pemberi, mereka yang membuat pengorbanan dari jiwa yang sungguh-sungguh, dengan mata yang tertuju pada kemuliaan saja, tidak akan kehilangan upah mereka.

Umat TUHAN perlu Bersatu dalam doa dan memberi. Doa-doa dan pemberian naik kepada TUHAN sebagai satu peringatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati; dan tanpa iman yang hidup tidaklah mungkin menyenangkan TUHAN.

Sementara berdoa, seseorang menyerahkan semua yang mungkin dapat diberikan, baik pekerjaan maupun cara mengerjakannya, untuk kegenapan bagi doa-doa. Jika manusia bertindak dari iman, manusia tidak akan dilupakan TUHAN.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *