Mungkin Kita Tidak Menyadarinya, Tetapi Kesalahan Ini Perlahan Melemahkan Kehidupan Rohani

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun…” (Ibrani 4:12)

Artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Karena saya juga sedang belajar untuk bertumbuh. Hanya sekedar mengingatkan kita..

Mengapa ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi jemaat, tetapi kehidupannya tidak banyak berubah? Mungkin jawabannya bukan karena kurang mengikuti ibadah, melainkan karena ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan tanpa disadari.

Kalau kita tidak sadar, kesalahan-kesalahan ini hanya akan membuat kita sekedar rajin beribadah, tetapi lambat untuk bertumbuh dalam iman..

1. Datang ke Gereja, tetapi Tidak Datang kepada Kristus

Barangkali mungkin ini kesalahan yang paling sering terjadi. Kita rajin menghadiri ibadah. Kita menyanyi, berdoa, mendengar khotbah.

Tetapi setelah ibadah selesai, hidup kita tidak banyak berubah. Masih seperti yang lama..

Mengapa? Karena kehadiran kita di gereja tidak selalu berarti kita telah bertemu dengan Yesus.

Misalnya, ada orang yang sudah puluhan tahun menjadi anggota gereja, tetapi belum pernah benar-benar menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Itu seperti orang-orang Farisi yang ditegur Yesus, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Matius 15:8)

Idealnya, gereja adalah tempat kita untuk semakin dekat kepada Yesus, bukan sekadar tempat memenuhi kewajiban agama.

2. Lebih Cepat Melihat Kesalahan Orang Lain

Kita juga sering tidak menyadari hal ini, yaitu mudah melihat kekurangan orang lain? Misalnya kita merasak kalau pendeta kurang bagus berkhotbah.

Pemusik kurang latihan. Majelis kurang ramah. Anak-anak ribut. AC kurang dingin. Sound system kurang jelas. Kita bisa melihat semuanya.

Dan barangkali apa yang kita lihat itu boleh jadi semuanya benar. Tetapi masalahnya, sering kali kita tidak melihat bahwa kita pun memiliki kekurangan seperti mereka..

Yesus pernah bertanya,

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3)

Kritik, masukan, nasehat memang perlu. Tetapi introspeksi diri jauh lebih penting dan lebih berharga.

3. Menjadi Penonton, Bukan Pelayan

Ada jemaat yang datang setiap minggu seperti sedang menonton sebuah acara atau pertunjukan, yang tujuannya untuk memuaskan hatinya..

Kalau khotbah bagus, ia puas dan memberikn pujian. Kalau musik kurang bagus, ia mengeluh.

Kalau pelayanan tidak sesuai harapan, ia kecewa dan berharap segera akan keluar ketempat lain..

Padahal gereja bukan panggung hiburan, yang bertujuan memuaskan keinginan penonton..

Gereja adalah tubuh Kristus, dimana setiap anggota tubuh memiliki fungsi atau peranan dalam tubuh.

Paulus berkata, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak…” (1 Korintus 12:12)

Karena itu pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang gereja bisa berikan kepadaku?”

Tetapi, “Apa yang dapat kulakukan bagi pekerjaan Tuhan?”

Kontribusi apa yang bisa saya lakukan agar music lebih baik. kotbah lebih baik, pelayanan lebih baik..!

4. Sibuk Beribadah, tetapi Jarang Membaca Alkitab

Kesalahan lain yang kita tidak sadari, jarang meditasi Alkitab. Bukan karena kita kekurangan Alkitab. Banyak orang memiliki lebih dari satu Alkitab.

Ada yang berwarna hitam. Ada yang kulit asli. Ada yang edisi studi. Tetapi jarang dibuka.

Akibatnya, iman dibangun lebih banyak dari pendapat orang lain daripada Firman Tuhan.

Padahal Alkitab berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

Kalau tubuh membutuhkan makanan setiap hari, mengapa jiwa kita hanya diberi makan seminggu sekali? Idealnya setiap hari..

5. Berdoa Hanya Saat Ada Masalah

Nah, kapan biasanya kita paling khusuk dan rajin berdoa? Saat banyak berkat? Biasanya saat kita berada dalam masalah..

Misalnya saat kita sedang sakit. Saat kehilangan pekerjaan. Saat anak bermasalah. Saat ekonomi sulit. Saat ujian datang.

Lalu setelah semuanya kembali baik-baik saja? Doa mulai berkurang, hingga akhirnya jarang..

Hubungan dengan Tuhan seharusnya bukan seperti menghubungi pemadam kebakaran. Dipanggil saat butuh dalam keadaan darurat. Saat ada kebakaran.

Paulus menulis, “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17)

Artinya, doa bukan tombol darurat. Bukan ketika ada keperluan. Doa adalah napas kehidupan rohani.

Diperlukan setiap saat. Dalam suka dan duka. Ketika penuh berkat dan ketika masa sulit.

6. Terlalu Mudah Tersinggung

Kita harus akui bahwa salah satu penyebab mengapa banyak orang meninggalkan gereja adalah karena mudah tersinggung.

Misalnya ketika kita tidak disapa. Tidak dipilih menjadi pengurus. Tidak mendapat jabatan. Tidak dihargai. Tidak dipuji. Lalu kecewa. Kemudian menjauh.

Padahal gereja terdiri dari manusia yang masih belajar. Tidak semua sudah dewasa imannya.

Lagi pula kita perlu sadari bahwa tidak ada gereja yang sempurna. Kalau kita menunggu gereja yang sempurna, kita tidak akan pernah menemukannya.

Paulus mengingatkan, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain.” (Kolose 3:13)

Kasih selalu memberi ruang untuk mengampuni orang-orang bersalah kepada kita..

7. Mendengar Firman, tetapi Tidak Melakukannya

Selanjutnya kesalahan terakhir dan ini terbesar. Setiap minggu kita mendengar khotbah. Kita bahkan bisa mengingat ilustrasinya.

Tetapi esoknya hidup kembali seperti biasa.

Yakobus berkata, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.” (Yakobus 1:22)

Firman Tuhan bukan untuk dikagumi. Tetapi untuk ditaati.

Karena pengetahuan Alkitab yang kita miliki tidak otomatis mengubah hidup. Ketaatan pada Firman itulah yang mengubah hidup kita.

Pertanyaan yang Perlu Kita Renungkan

Sebelum kita menyalahkan gereja. Sebelum kita mengkritik pendeta. Sebelum kecewa kepada jemaat lain…

Cobalah kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya masih mengasihi Tuhan seperti dahulu?

Apakah saya masih menikmati doa? Apakah saya masih lapar akan Firman Tuhan? Apakah saya masih rindu melayani?

Apakah saya masih cepat mengampuni yang bersalah kepada saya?

Sebab, kebangunan rohani tidak dimulai dari mimbar. Tetapi dimulai dari hati.

Penutup

Ada orang yang setiap hari membawa teropong. Ia bisa melihat kesalahan orang lain dari jauh.

Tetapi ia lupa membawa cermin. Akibatnya, ia tidak pernah melihat dirinya sendiri.

Firman Tuhan bukanlah teropong untuk melihat dosa orang lain. Firman Tuhan adalah cermin untuk melihat siapa diri kita di hadapan Allah.

Hari ini, mungkin kita menemukan satu atau dua kesalahan yang masih ada dalam hidup kita.

Jangan berkecil hati.

Tuhan tidak menunjukkan kesalahan kita untuk mempermalukan kita, tetapi untuk mengubah kita.

Gereja tidak membutuhkan lebih banyak pengkritik, tetapi lebih banyak murid Kristus yang mau berubah.

Karena perubahan besar tidak dimulai ketika semua orang berubah, tetapi dimulai ketika saya berkata,

“Tuhan, ubahlah aku terlebih dahulu.”

Karena ketika hati kita berubah, cara kita melihat gereja pun akan berubah.

Dan ketika semakin banyak jemaat mengizinkan Tuhan mengubah hidup mereka, gereja akan menjadi tempat di mana kasih Kristus benar-benar terlihat, bukan hanya dikhotbahkan.

Maka gereja akan berubah dan orang-orang akan ditarik kepada Yesus..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *