7 Kesalahan Ibadah Di Gereja Kala Virus Corona Mengamuk

Mendamaikan Pro kontra penutupan gereja ditengah pandemic virus corona Covid – 19

Gereja ditutup dan semua kegiatan kebaktian dialihkan dirumah masing-masing anggota gereja selama 14 hari telah menyebabkan pro dan kontra dikalangan masyarakat gereja.

Mereka yang pro berpendapat demi mematuhi himbauan pemerintah untuk beribadah sementara dirumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona yang cepat.

Sementara mereka yang kontra berpendapat bahwa virus corona tidak boleh menghalangi kita untuk terus beribadah di gereja. Kita tidak boleh takut dengan virus ini, kita harus lebih takut kepada Tuhan.

Mungkin yang lebih ekstrim lagi adalah menuduh mereka yang menutup gereja karena virus corona sebagai orang yang kurang iman.

Sementar mereka yang pro juga menuduh mereka yang kontra sebagai orang yang bodoh, tidak berhikmat dan sok beriman.

Demikianlah terjadi sahut menyahut, sindir menyindir, dikalangan warga gereja dalam minggu ini akibat penutupan gereja sementara waktu.

Memang menarik membaca status-status, komentar-komentar dan tulisan-tulisan dimedia sosial yang produksinya membludak seperti buah jengkol dimusim panen.

Baik yang pro dan kontra berusaha mempertahankan pandangan masing-masing dan kadang berusaha untuk memenangkan argument.

Sesekali bahkan sering mereka tersulut emosi yang tanpa tidak sadar atau sadar melontarkan umpatan dan makian dengan kalimat mutiara yang saling merendahkan.

Saya sendiri tidak ikut campur dalam perdebatan ini dan juga tidak memihak siapapun, saya senang menjadi penengah saja dan mendamaikan dua pendapat yang berbeda.

Mereka yang pro dan kontra sebenarnya sama-sama memiliki maksud yang baik. Ketika si pro menutup gereja dan mengalihkan ibadah dirumah-rumah supaya virus corono tidak menyebar itu niat yang mulia sekali.

Si kontra juga punya niat baik, maksudnya mungkin bahwa ibadah tidak boleh berhenti apapun masalah yang terjadi, Cuma hanya masalah persepsi antara ibadah di gereja dan dirumah yang membuat diskusi jadi ramai.

Maksud baik penutupan Gereja

Apa jadinya bila semua gereja kususnya di wilayah dimana virus sangat cepat dan massif penyebarannya dan mereka tetap mengadakan pertemuan seperti biasa ditengah merebaknya virus corona?

Bayangkan sekelas gereja katedral, GBI mawar Sharon, JKI, GBI Keluarga Allah Solo dll, yang kehadiran orang setiap kebaktian bisa ratusan bahkan ribuan orang, kita tidak tahu apakah ada orang yang hadir disana yang sudah tertular virus corona.

Satu orang saja positif corona itu sudah cukup menulari ratusan bahkan ribuan jemaat dalam waktu singkat.

Kita masih ingat bagaimana virus corona merebak di Korea selatan dari seorang perempuan yang sudah tertular dan dia sudah sakit tetapi masih ke gereja dan menulari ribuan orang di Korea selatan.

Cara penularan yang mudah dan cepat yang menyebabkan pemerintah dan banyak pihak untuk mengambil tindakan cepat dan ekstrim demi menghentikan laju perkembangannya.

Jadi mereka yang menutup gereja dan mengalihkan ibadah dirumah-rumah demi tujuan yang mulia yaitu menyelamatkan banyak jiwa dari penyakit dan kematian.

Dilakukannya tindakan penutupan sementara bukan persoalan takut atau berani, bukan persoalan beriman atau tidak beriman, tapi ini persoalan pencegahan penyakit.

Banyak cara melakukan pencegahan virus corona salah satunya melalui menghindari pertemuan-pertemuan yang mendatangkan banyak orang.

Gereja adalah tempat perkumpulan yang mendatangkan banyak orang dan penutupan sementara dinilai efektif menghentikan laju penyebaran virus corona.

Apakah yang terjadi jika tidak mendengarkan protokol pencegahan virus corona?

1. Pelanggaran terhadap hukum Allah (Kel 20:6)

Tindakan seperti ini pada saat yang genting sesuai dengan perintah Tuhan menurut hukum keenam yaitu Jangan membunuh (Keluaran 20:6).

Sebab dengan tetap menggelar pertemuan yang mendatangkan orang-orang dari berbagai sudut kota ditengah wabah yang kita sendiri ketahui sedang merajalela merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah, karena situasi itu berpotensi menyakiti para pengunjung bahkan dapat mengancam nyawa mereka.

2. Mengabaikan amaran

Selain pelanggaran hukum Allah, tindakan menggelar pertemuan yang menghadirkan banyak orang adalah pengabaian terhadap amaran atau peringatan.

Jika kisah kapal Titanic masih segar diingatan anda itu bisa jadi contoh. Sebelum kapal Titanic tenggelam, kapal-kapal lain sudah mengingatkan bahwa di depan ada gunung es, tetapi kru kapal mengabaikan peringantan dan tidak berusaha menghindari bahaya yang ada dihadapan mereka, karena menganggap kapal ini besar, bahkan Tuhan sendiri tidak bisa menenggelamkannya.

Kita tahu cerita selanjutnya, ketika gunung es sudah dekat, kru kapal terkejut dan berusaha menghindari gunung es itu, tetapi sudah terlambat.

Gunung es itu berobek lambung kapal dan perlahan-lahan air masuk, semua orang panik, dan akhirnya kapal tenggelam, ratusan jiwa tewas.

Sama halnya sekarang ini. Pemerintah dan para ahli sudah mengamarkan bahwa virus corona sangat mudah tertular dan kita tidak bisa prediksi orang-orang disekitar kita tertular atau tidak.

Maka semua orang di amarkan untuk menghindari tempat keramaian dan gereja salah satu pusat keramaian itu.

3. Membawa diri dalam pencobaan (Yakobus 1:13-14)

Berikutnya, dengan menghadirkan atau sengaja hadir dipusat keramaian sementara kita sudah punya pengetahuan tentang potensi bahanya, kita telah membawa diri kedalam pencobaan dengan sengaja.

Yakobus mengatakan,“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

4. Pengorbanan yang sia-sia (1 Petrus 4:15)

Selanjutnya dengan menghadirkan orang banyak berkumpul disatu tempat atau mendatangi keramaian ditengah wabah virus corona, kita berpotensi mengorbankan hidup dengan sia-sia.

Para petugas medis yang tertular virus corona kemudian sakit bahkan ada yang meninggal, pengorbanan mereka tidak sia-sia. Mereka sakit, meninggal demi menyelamatkan orang lain yang menderita.

Nah..kalau kita, demi siapa kita sakit dan meningga ditengah wabah virus corona? Tidak demi siapa-siapa..karena kita bukan petugas medis, bukan pemerintah yang pekerjaanya menolong langsung mereka yang sakit.

Alkitab mengatakan orang Kristen tidak boleh menderita/sakit/mati sia-sia. 1 petrus 4:15, “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau..”

Kelihatannya ayat ini tidak relevan dengan pembahasan, mungkin anda akan katakan terlalu dipaksakan supaya cocok dengan narasi.

Konteks utama ayat ini memang tentang penderitaan orang Kristen karena ujian terhadap iman mereka.

5. Jangan mati sebagai pembunuh, pencuri, pengacau

Tetapi secara prinsip tidak salah juga menggunakan ayat ini untuk penerapan terhadap apa yang terjadi sekarang ini.

Seorang pembunuh dia akan menderita secara badani, dia akan dipenjara, dipukuli, bahkan bisa dibunuh balik dan secara batin tersiksa.

Nah dalam konteks sekarang ini ketika himbauan untuk tidak berkumpul dan mengadakan kumpulan orang banyak diamarkan karena berpotensi tinggi penyebaran virus corona, namun kita tabrak aturan itu maka sama saja kita bunuh diri dan berpotensi membunuh orang lain.

Sama dengan tulisan dalam bungkus rokok, merokok membunuhmu. Sudah tertulis amaran disana, maka semua yang merokok sementara bunuh diri dan bunuh orang lain disekitarnya, dan penderitaan seperti ini sia-sia.

Jangan menderita sebagai pencuri. Mengadakan pertemuan orang banyak dan mendatangi pertemuan ditengah krisis virus corona, sama dengan mencuri kesempatan hidup sehat dan umur panjang diri sendiri dan orang lain.

Jangan menderita sebagai pengacau. Mengadakan pertemuan orang banyak dan mendatangi kerumunan orang banyak ditengah virus corona, berpotensi membuat kekacauan. Hidup kita akan kacau, juga keluarga kita, orang lain juga akan kacau, lingkungan tidak akan nyaman lagi, dan ini kesia-siaan.

6. Tidak bijaksana (Amsal 22:3)

“Orang bijaksana menghindar apabila melihat bahaya; orang bodoh berjalan terus lalu tertimpa malapetaka.” Amsal 22:3 BIS)

Raja salomo menunjukkan salah satu ukuran kebijaksaan seseorang adalah ketika menghadapi bahaya. Sebisa mungkin menghindari bahaya, menangkis bahaya, bukan menerjangnya.

Adakalanya kita harus menghadapi bahaya, kalau bahaya tidak bisa dihindari lagi, dimana kita berjuang untuk melewati bahaya yang datang.

Tetapi jika bahaya itu bisa dihindari kenapa harus berjalan terus menerjang bahaya..itu sama dengan bunuh diri.

Pada situasi sekarang ini, berkumpul dikerumunan orang banyak termasuk digereja berbahaya penularan virus corona.

Maka cara terbijak yang bisa dilakukan adalah menghindari pertemuan orang banyak di gereja dengan mengalihkan semua peribadatan dirumah masing-masing sampai wabah mereda.

Daud ketika menghadapi bahaya pembunuhan raja Saul, dia pergi melarikan diri, bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain, mencari tempat yang aman. Bisa saja dia menghadapi Saul, tetapi dia akan mati konyol dan tidak akan pernah menjadi raja.

Kita jangan sampai mati konyol virus corona, hindari, lari dan sembunyi sampai virus ini berlalu, sampai obat dan vaksinnya ditemukan.

7. Tidak beriman dan murtad (1 Timotius 5:8)

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.”

Relevansi ayat ini terhadap situasi terkini adalah dalam bahaya yang mengancam hidup, kita harus memelihara keluarga kita.

Caranya dengan mematuhi amaran terhadap bahaya virus corona yang kapan saja bisa menimpa kita. Menerjang amaran yang berpotensi mencelakai keluarga kita merupakan tindakan tidak beriman.

Yakobus 2:17 mengatakan iman tanpa perbuatan adalah mati. Itu benar.

Iman dilihat dari perbuatan bukan dari kata-kata. Iman yang hidup dan benar dilihat dari perbuatanya yang baik, yang menghasilkan keberkahan, keselamatan diri dan orang lain.

Jika perbuatan saya menciderai, melukai, bahkan membinasakan orang lain maka itu bukan iman.

Maka jika kita membuat kerumunan orang banyak, sementara kita sudah diamarkan itu berpotensi penularan virus corona dan kita datang kesana atas nama ibadah maka itu bukan iman yang hidup.

Iman yang hidup di dalamnya ada hikmat dan kebijaksanaan, menghindarkan diri dan orang lain dari bahaya adalah perbuatan sejati orang beriman.

Orang beriman akan mencari cara bagaimana terus menghidupkan ibadah ditengah wabah corona yang mengamuk?

Cara bijak orang beriman adalah beribadah dikelompok kecil, bukan ditempat perkumpulan orang banyak.

Maksud baik mereka gereja tetap buka

Sekarang saya akan berdiri di sisi saudara yang ingin ibadah tetap dilakukan di gereja ditengah amaran pencegahan penyebaran virus corona.

Mungkin maksud mereka adalah bahwa ibadah tidak boleh berhenti apapun masalah yang terjadi, cuma hanya masalah persepsi antara ibadah di gereja dan dirumah yang membuat diskusi jadi ramai.

Benar ibadah tidak akan berhenti oleh virus corona, karena ibadah bukan hanya ritualnya, tempat tetapi juga jiwa ibadah itu yaitu perbuatan kasih kepada sesama.

Saya setuju gereja harus tetap buka karena gereja yang Tuhan maksud adalah orang-orang percaya. Itu sebabnya orang –orang percaya harus tetap kumpul dirumah-rumah beribadah selama wabah masih mengamuk, karena dimana dua tiga orang berkumpul Tuhan hadir disana.

Tidak takut virus corona

Satu lagi Pandangan bahwa kita tidak boleh takut kepada virus corona perlu direnungkan kembali.

Benarkah kita tidak takut virus corona? Jangankan virus corona, diserang batuk dan flu saja kita mungkin sudah kuatir.

Para petugas medis yang memiliki pengetahuan saja mereka takut kepada virus ini, itu sebabnya mereka menggunakan perlengkapan perlindungan diri.

Saya yakin kita hanya sesumbar saja menunjukkan seolah kita tidak takut, padahal rasa takut itu perlu dimiiliki terutama ketika bahaya datang.

Apa jadinya jika kita tidak punya rasa takut? Kita bisa mati sebelum waktunya. Kita bisa lompat dari gedung tinggi, kita bisa menginjak pedal gas mobil kita 160 km perjam dijalan raya.

Mereka yang masih memiliki rasa takut adalah orang yang masih waras. Jika memang anda tidak takut virus corona bagaimana kalau anda buktikan dulu keberanian itu dengan memeluk dan mencium mereka yang terinfeksi?

Tapi saran saya janganlah, semakin terlihat nanti ketidak normalan kita…

Orang beriman selalu punya rasa takut terhadap bahaya. Semua tokoh-tokoh iman dalam alkitab memiliki rasa takut akan bahaya. Dan ditengah ketakutan itu, mereka bersandar kepada Tuhan.

Yesus dalam kemanusiaan-Nya merasakan ketakutan menghadapi penyalibanya.

Markus 14:33 mengatakan, “Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar..”

Jika Yesus saja takut menghadapi bahaya, apakah kita telah melebihi Yesus dalam hal keberanian?

Jadi hindarilah bahaya selama ada jalan lain menghindarinya. Hadapilah bahaya jika tidak ada cara lain menghadapinya.

Yesus tidak punya cara lain menghindari bahaya yang mengancam nyawanya, maka dia hadapi terus sampai di atas kayu salib.

Jika menghindari virus corona masih ada cara lain, mari kita lakukan. Jika menutup sementara pertemuan ibadah di gereja untuk menghindari virus corona, mari kita lakukan.

Ibadah sejati bukan soal tempat

Lagi pula peribadatan sejati tidak diukur oleh tempat peribadatan. Tempat peribadatan untuk berkumpul bersama sesama orang percaya penting. Dalam sejarah gereja orang-orang percaya selalu berkumpul bersama.

Ibrani 10;25 mengatakan supaya tidak meninggalkan peribadatan, justru harus semakin tekun beribadah bersama orang percaya lainya.

Saat ini kita tidak sedang meninggalkan peribadatan, virus corona tidak boleh menghentikan ibadah kita, hanya tempat peribadatan bersama dialihkan dirumah masing-masing.

Sekalipun dirumah tidak mengurangi nilai ibadah kita, karena ibadah sejati bukan soal tempat tetapi soal hati.

Karena itu marilah kita mengakhiri perdebatan soal buka tutup gereja pada hari ibadah ditengah pandemic virus corona. Mari kita lebih banyak berdoa, tekun belajar Firman Tuhan.

Sebab apa yang terjadi saat ini merupakan kegenapan nubuatan, kedatangan Yesus sudah dekat.

Jika kita memaksakan diri harus beribadah digereja, saya tidak akan menyalahkan anda, lakukan saja tetapi ikuti protokol pencegahan yang diamarkan pemerintah, tanpa menilai mereka yang beribadah dirumah.

Jika gereja terkunci gunakan halaman gereja beribadahlah dan mari kita saling mendoakan jangan saling menghakimi.

Orang yang beribadah saling menjaga, mendoakan, dan menginginkan kebaikan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang lain.

Jadi, Iman, hikmat, kebijaksaan, rasa takut, berjalan bersama-sama.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *