7 Alasan Rohani Kenapa Harus Berpuasa

[pastordepan.com] Puasa adalah disiplin rohani yang disebutkan beberapa kali dalam PL dan PB dalam Alkitab. Praktek puasa ini kemudian berlanjut kepada orang-orang Kristen mula-mula.

Seterusnya kepada para Pembaru seperti Martin Luther, John Calvin, dan John Wesley menganjurkan puasa secara teratur.

Namun, sekarang ini, kita tidak lagi mendengar hari ini tentang disiplin rohani yaitu puasa dilakukan, kecuali kalau tiba pada masa kesusahan dan program kebangunan rohani/kkr.

Dalam Perjanjian Lama ada 4 kata utama untuk menunjukkan puasa. Empat kata Yang paling umum adalah tsowm, digunakan 26 kali, dan tsuwm kata yang sama, digunakan 21 kali.

Kata-kata ini digunakan dalam konteks menyangkal sementara dari makanan untuk diri sendiri. Puasa yang dimaksud dengan kata ini biasanya dinyatakan untuk memohon kebaikan Allah (Ezra 8:21), menunjukkan pertobatan (Yun. 3: 5), dan / atau sebagai tanda berkabung (2 Sam. 1:12).

Kata Ibrani lainnya adalah, nazar, yang dalam Zakharia 7: 3 diterjemahkan sebagai “puasa” (NIV), “abstain” (ESV), atau “pemisahan” (KJV), kata ini telah digunakan sepuluh kali dalam Alkitab.

Kata ini membawa arti memisahkan atau menguduskan diri untuk jangka waktu yang lama atau permanen demi kesucian.

Istilah ini terutama digunakan (empat dari sepuluh kali) sehubungan dengan janji nazir untuk mengkususkan diri bagi Tuhan (Bil. 6: 2–6).

Kata keempat, `anah, yang berarti“ menderita atau rendah hati, ”kadang-kadang digunakan dalam konteks menyangkal diri sendiri melalui puasa.

Dua contoh penting dari penggunaan ini adalah sehubungan dengan puasa Hari Pendamaian dalam Imamat 23: 27–32 dan doa syafaat dan puasa syafaat Daud dalam Mazmur 35:13.

Jadi Dari keempat istilah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa puasa dalam Perjanjian Lama menunjukkan penolakan sementara atas makanan dan merendahkan diri di hadapan Allah untuk menunjukkan kesedihan yang mendalam atau untuk mencari perkenan Allah.

Perjanjian Baru menggunakan tiga kata Yunani, semuanya dari akar yang sama, untuk menunjukkan puasa:  nēsteuō (digunakan 21 kali), nēsteia (8 kali), dan nēstis (2 kali) .5

secara harfiah kata ini dapat diterjemahkan sebagai “tidak makan,” namun konteks kata-kata ini digunakan untuk merujuk pada suatu ritual atau praktik keagamaan.6

Bagi banyak orang selama masa Perjanjian Baru, puasa telah menjadi sekadar ritual untuk menunjukkan kesalehan atau kebiasaan daripada cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Lukas 18: 10-12). Itu sebabnya Yesus mengecam puasa yang hanya pamer kesalehan (Mat. 6: 16-18).

Yesus dan gereja abad pertama mempromosikan puasa dengan suatu tujuan. Bagi Yesus, puasa adalah mendapatkan pengalaman pribadi yang intim dengan Allah, dilakukan secara pribadi atau bersama, untuk membangun kekuatan dalam peperangan rohani (Mat. 4: 2; Markus 9:29).

Gereja mula-mula terus berpuasa seperti Yesus, mereka juga berpuasa ketika memilih para pemimpin gereja (Kisah Para Rasul 14:23) dan juga untuk hal lain.

Maka pertanyaannya Apakah puasa itu?

Dalam Alkitab puasa adalah menyangkal makanan dan minuman supaya fokus pada pertumbuhan rohani (Mat. 17:21; Kis. 9:97),

Seperti berdoa (Dan. 9: 3), pengudusan diri (Kis. 13: 3; 14:23), untuk kelepasan (Ester 4:16; Mzm. 109: 24), perayaan bersama (Im. 23: 26-32), mencari solusi masalah (Hak. 20:26), pertobatan (Ul. 9:18; Yun. 3: 5) , berkabung (2 Sam. 1:12; 1 Taw. 10:12), permohonan (Yoel 1:14; 2 Sam. 12:16), atau mencari kehendak Allah (Kis. 13: 2).

Puasa dalam alkitab, bukan hanya bersifat pribadi, tetapi juga sebagai latihan bersama bersama seluruh bangsa dan komunitas keagaaman.

Misalnya ketika raja saul mati (1 taw 10:11), ketika terjadi krisis kelaparan yang hebat, mereka puasa (Yoel 1:14). Namun puasa pribadi adalah puasa yang paling umum dilakukan baik di PL dan PB

Berpuasa tanpa focus kepada Tuhan, kita hanya melewatkan makanan saja.. Karena itu tujuan puasa adalah untuk meningkatkan hubungan kita dengan Allah dan masuk lebih dalam kepada kehidupan doa kita.

“Ketika kita berpuasa, kita diundang untuk memestakan Yesus sebagai roti hidup. . . . Karena itu berpuasa bagi Tuhan kita adalah berpesta — memestakan Yesus  dan melakukan kehendak-Nya.

Yohanes 6:32-48, “Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”

Ayat 48 “Akulah roti hidup.”

Ayat ini menunjukkan bahwa  ada hal lain, yang makanan jasmani tidak bisa lakukan..

“ Manusia perlu lebih sedikit dalam memikirkan soal apa yang akan mereka makan atau minum dari makanan jasmani, dan lebih banyak memikirkan tentang makanan dari semawi yang akan memberi kebugaran dan vitalitas kepada pengalaman rohani yang sempurna.— MM 283 (1896).

Tujuan puasa yang dianjurkan Allah tetap kita pelihara bukanlah untuk menyakiti tubuh karena dosa jiwa, tetapi untuk membantu kita dalam merasakan tabiat dosa yang memilukan, dalam merendahkan hati di hadapan Allah dan menerima kasih karunia-Nya yang mengampuni.

Perintah-Nya kepada Israel ada-lah, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu.” Joel 2:13.

Jadi Puasa mengalihkan perhatian kita dari diri kita sendiri dan mengarahkannya ke surga.

Tujuan dan Manfaat puasa

1. Puasa adalah disiplin rohani untuk memperkuat otot-otot iman kita sehingga kita dapat tahan menghadapi tantangan yang lebih besar lagi yang menghadang kita.

Salah satu alasan utama Alkitab untuk berpuasa adalah untuk mengembangkan hubungan yang  lebih dekat berjalan dengan Allah dan mengakui kebutuhan kita akan Dia. Kita melihat ini dalam puasa orang-orang Niniwe menandai pertobatan mereka (Yun. 3).

Dengan mengalihkan pandangan kita dari hal-hal dunia ini, kita dapat lebih fokus pada Kristus.

Ketika puasa, kita sadar akan kebutuhan fisik kita, maka saat yang sama kita akan ingat kebutuhan rohani kita. Yesus katakan manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari Firman Tuhan. (Mat 4:4)

2. Berpuasa adalah untuk mengingatkan kita bahwa kita dapat bertahan tanpa banyak hal untuk sementara waktu, tetapi kita tidak dapat bertahan tanpa Tuhan, walau hanya sementara.

3. Puasa adalah disiplin rohani yang diharapkan dalam Perjanjian Lama dan Baru.

Musa berpuasa setidaknya selama dua periode 40 hari yang dicatat (Kel 24:18; 34:28; Ul 10:10).

Yesus berpuasa 40 hari (Mat. 4: 2) dan Yesus mengingatkan para pengikut-Nya untuk berpuasa (Mat. 6:16).

Daud berpuasa selama 7 hari (2 Sam. 12: 16-18);

Mordekai, Ester, dan orang israel 3 hari (Ester 4:16);

dan seluruh bangsa berpuasa pada Hari Pendamaian (Imamat 23: 26–32).

Kenapa kita harus berpuasa?

Saya akan berikan beberapa alasan:

1. Puasa dapat menjadi bagian integral dari perjalanan spiritual seseorang. Hull menyebut puasa jenis ini yang “sangat memberi makan [es]. . . jiwa.

Kita melihat ini dalam kehidupan Yesus ketika Roh membawa-Nya ke padang belantara untuk mempersiapkan-Nya bagi pelayanan (Mat. 4: 1, 2; Lukas 4: 1, 2).

Paulus juga berpuasa setelah bertemu dengan  Kristus dalam penglihatan dan melihat kebutuhannya akan kebangunan rohani pribadi (Kis. 9: 9).

Itu sebabnya Yesus dan Paulus menghabiskan banyak waktu dalam membawa kebangunan rohani kepada orang lain.

Seorang penulis Kristen menggambarkan doa  dan puasa sebagai cara untuk mempercepat pertumbuhan imannya.

Dia berkata, berpuasa, “Melembutkan hatiku terhadap Tuhan. Roh saya menjadi semakin peka terhadap bisikan-bisikannya, suaranya, sentuhannya. ”

2. Berpuasa mempersiapkan jalan bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam kita untuk mengatasi dosa (Mat. 4: 4).

Yesaya 58:6-seterusya, mengatakan, “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

Puasa dapat menunjukkan kepada kita hal-hal yang kita abaikan dalam hidup kita, prilaku kita, cara kita memperlakukan sesame, dll.  

Dengan puasa, Di sana kita terhubung dengan kekayaan Tuhan, yang benar-benar bertemu dengan kebutuhan kita. ”

3. Puasa sering dilakukan sebelum membuat keputusan penting atau peristiwa besar dalam kehidupan. contohnya Esther.

Demikian juga, kita juga dapat beralih ke puasa dan doa ketika dihadapkan dengan keputusan penting, seperti ketika mencari pendeta baru, ketika memutuskan proyek pembangunan, atau ketika meluncurkan kampanye penginjilan besar.

Berpuasa juga dapat menjadi bagian dari momen pengambilan keputusan pribadi, seperti ketika mencari pekerjaan baru, memasuki hubungan pernikahan, atau membuat langkah besar.

4. Berpuasa dapat membantu dalam menghadapi atau mengatasi tantangan dan masalah pribadi.

Ketika Daud secara salah dikritik dan dituduh, dia berbalik kepada Tuhan dalam puasa dan doa.

Dia berusaha merendahkan dirinya dan berdoa untuk nama baiknya daripada membalas (Mazmur 35:13; 69:10; 109: 24).

5. Berpuasa dan berdoa dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan kesedihan dan penyesalan mendalam kita atas ketidaksetiaan umat Allah, seperti yang dilakukan Ezra ketika dia berdoa dan berpuasa untuk pertobatan dan mencari pembaruan spiritual (Ezra 10: 6).

Sebaliknya, kita perlu meluangkan waktu dalam doa dan puasa, tidak hanya bagi mereka yang telah meninggalkan Tuhan tetapi juga agar kita memiliki tabiat seperti Kristus.

6. Puasa dan doa dilibatkan dalam proses pemilihan para pemimpin gereja mula-mula dan tugas mereka untuk pelayanan publik sebagaimana dibuktikan dalam penahbisan Barnabas dan Paulus dan dalam penunjukan para penatua (Kisah Para Rasul 13: 2, 3; 14:23).

7. Berpuasa dan berdoa dapat membuka gerbang surga untuk menyelamatkan umat Allah dari penganiayaan.

Kasus Esther, seperti disebutkan di atas, untuk menyelamatkan orang-orangnya dari plot Haman patut diingat (Esther 4: 3).

Dimanapun umat Allah mengalami ancaman, bisa jadi teraniaya karena injil, kita harus terlibat dalam doa dan puasa.

Mereka yang menggabungkan doa dengan puasa menunjukkan kepada Allah bahwa mereka sungguh-sungguh dalam permohonan mereka.

Dengan demikian, puasa ada sebagai “Ungkapan lahiriah yang total yang menunjukkan komitmen batin seseorang dan mengandalkan kekuatan Allah yang menyelamatkan.”

Berapa lama kita harus berpuasa?

Alkitab menyajikan banyak contoh puasa selama 40 hari (Musa dalam Kel 34:28, Elia dalam 1 Raja-raja 19: 8, dan Yesus dalam Lukas 4: 2).

Secara normal orang Yahudi berpuasa hanya pada siang hari. Puasa bersama dalam Hakim-hakim 20:26 adalah contoh puasa yang berlangsung sampai malam. Ester puasa 3 hari.

Jadi, lama dan panjangnya  puasa kita sering kali ditentukan oleh alasan kita berpuasa.

Beberapa orang mungkin berpuasa sekali setahun, sementara yang lain mungkin memilih satu hari dalam seminggu. Jadi tidak ada aturan berapa lama berpuasa tergantung kebutuhan kita.

Puasa untuk kebagungan rohani

Buku pertama Samuel memberikan contoh puasa untuk menghasilkan kebangunan rohani di antara umat Allah. Israel tahu bahwa mereka membutuhkan pemulihan rohani, dan mereka berbalik kepada Tuhan dengan pertobatan dan puasa.

Kata-kata saja tidak cukup; mereka berpuasa untuk menunjukkan ketulusan hati mereka.

“Ketika mereka berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan menuangkannya ke hadapan Tuhan. Pada hari itu mereka berpuasa dan di sana mereka mengaku, ‘Kami telah berdosa terhadap Tuhan’ ”(1 Sam. 7: 6).

Dan inilah tujuan puasa sedunia hari ini, supaya terjadi revival..

Kesimpulan

Maka Berpuasa bukanlah untuk kesombongan diri — sesperti yang dilakukan orang farisi.

Sebaliknya, puasa sejati dalam pengertian Alkitab harus mengarah pada kerendahan hati (Yes. 58: 3) dan kehidupan rohani yang ditandai dengan doa dan pencarian terus-menerus dari wajah Allah. “

Berpuasa dapat membawa terobosan dalam kebangunan rohani yang tidak akan pernah terjadi dengan cara lain.”

Dengan berpuasa, kesadaran kita akan kebesaran Tuhan dan kasihNya sering menyertai pengalaman puasa.

Maka  Ibadah ditingkatkan, hubungan dengan Kristus menjadi lebih kuat, persekutuan satu sama lain menjadi bermakna dan penting.

Puasa sejati yang harus dianjurkan kepada semua orang adalah berhenti dari setiap jenis makanan merangsang, dan menggunakan makanan sederhana yang menyehatkan secara tepat yang Allah telah sediakan dengan limpahnya.

Manusia perlu lebih sedikit dalam memikirkan soal apa yang akan mereka makan atau minum dari makanan jasmani, dan lebih banyak memikirkan tentang makanan dari semawi yang akan memberi kebugaran dan vitalitas kepada pengalaman rohani yang sempurna.— MM 283 (1896).

seorang penulis bersaksi, karena puasa dan doa,

Firman Allah menjadi lebih hidup bagi saya. Doa saya lebih bermakna dan efektif.

Berpuasa telah memungkinkan saya untuk mengalami peningkatan sukacita akan Tuhan dan kuasa kebangkitan-Nya dengan cara yang baru. ” Itulah berkat dari puasa yang sejati.(dp)

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.