Pendahuluan

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan ketika mengalami penderitaan adalah, “Kalau Tuhan itu baik, mengapa saya harus menderita?”

Mengapa anak saya yang masih kecil, menderita kanker? Mengapa suami saya meninggal saat masih diperlukan?

Ada banyak pertanyaan, yang muncul dalam hati kita, dan rasanya sulit memahami mengapa Allah yang penuh kasih membiarkan penderitaan ini terjadi.

Tidak sedikit orang kehilangan iman karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaan ini.

Apakah ada jawaban untuk pertanyaan tersebut? kalau ada dimana? Dan Kemanakah kita pergi untuk menemukan jawabannya?

Kita dapat pergi kepada ALkitab. Disana kita akan menemukan bahwa Yesus tidak menutup mata terhadap penderitaan kita.

Justru sebagian besar tokoh Alkitab pernah mengalaminya: Ayub kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya dan dia sendiri hampir mati. Yusuf menderita karena dijual saudara-saudaranya,

Daud menderita karena dikejar-kejar Saul hendak dibunuh. Yeremia menderita dipenjara. Paulus berkali-kali dipukul dan dipenjara, bahkan Yesus sendiri mengalami penderitaan yang paling berat.

Jika para hamba-hamba Tuhan menderita, itu berarti penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Maka sekarang kita kembangkan pertanyaannya. Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan?

1. Karena kita tinggal dilingkungan Dosa

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” (Roma 8:22)

Masuknya dosa membawa konsekuensi penderitaan total manusia.

Seperti penyakit, kematian, bencana alam, peperangan, kejahatan, dan berbagai bentuk kesengsaraan lainnya dan itu bukanlah rancangan Allah.

Tuhan menciptakan dunia yang sempurna. Tidak ada dosa. Namun kesempurnaan dunia rusak akibat dosa manusia.

Dan dosa masuk kedunia, dibawa oleh setan.

Uniknya, manusia sering kali menyalahkan Tuhan atas penderitaan. Padahal semua penderitaan muncul karena dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Poinnya: Tuhan bukan penyebab utama penderitaan. Justru sebaliknya, Allah bekerja melindungi umat-Nya di tengah dunia yang telah rusak oleh dosa.

2. Tuhan Menggunakan Penderitaan untuk Membentuk Karakter

“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.” (Roma 5:3-5)

Tuhan tidak ingin umat-Nya menderita, namun dia menggunakan penderitaan untuk tujuan-Nya, yaitu sebagai alat untuk memproses tabiat umat-Nya.

Sama seperti emas dimurnikan melalui api. Kita pun demikian dimurnikan melalui api penderitaan.

Seringkali ketika hidup kita berjalan mulus. Segala sesuatu baik-baik saja. Kita mengandalkan diri sendiri. kita merasa kuat.

Tetapi ketika penderitaan datang, ternyata diri kita tidak dapat diandalkan. Kita lemah dan tidak mampu. Maka dalam situasi seperti inilah kita belajar berserah kepada Tuhan.

Banyak orang yang justru menjadi lebih rendah hati, lebih sabar, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada Tuhan setelah melewati masa-masa sulit.

Penderitaan bukan selalu hukuman, tetapi sering kali merupakan proses pembentukan tabiat, agar kita rendah hati dan mengandalkan Tuhan.

3. Supaya Kita Belajar Bergantung kepada Tuhan

Rasul Paulus pernah mengalami penderitaan yang disebutnya sebagai “duri dalam daging.” Mungkin sebuah penyakit yang tidak kunjung sembuh. Sangat mengganggu aktifitasnya.

Ia berdoa agar Tuhan mengambilnya. Agar dia bisa menginjil tanpa gangguan penyakit. Tuhan bisa saja mengabulkan permohonannya. Dia sembuh total.

Namun jawaban Tuhan nampaknya kurang memuaskan. Tidak sesuai permintaan. Penyakitnya tidak disembuhkan. Tidak ada mujizat.

Tuhan hanya bilang, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9)

Seperti Paulus, kadang Tuhan tidak segera mengubah keadaan kita. Kita masih menderita sakit. Miskin, penuh masalah. Tidak ada tanda-tanda akan segera berlalu..

Mungkin saat itu, Tuhan tidak menyembuhkan fisik kita, sebaliknya, Ia mengubah hati kita agar mampu melewati keadaan itu.

Karena, kesembuhan rohani jauh lebih utama dari kesembuhan fisik. Namun lebih baik lagi kalau dua-duanya.

Iman bukan berarti bebas dari masalah. tetapi memiliki Tuhan yang berjalan bersama kita dalam segala keadaan.

4. Tuhan Dapat Mengubah Penderitaan Menjadi Berkat

Penderitaan awalnya menyakitkan. Namun kalau kita tabah. Sabar. Tekun. Kita akan menemukan berkat diujung penderitaan..

Kisah Yusuf adalah contoh yang relevan untuk itu.

Betapa hancur hatinya, ketika saudara-saudaranya sendiri menjual dirinya sebagai budak. Kerja baik-baik dirumah orang, justru difitnah dan dijebloskan dalam penjara tanpa kesalahan.

Namun semuanya dia jalani dengan sabar. Sebagai hasilnya, pada waktu dan cara Tuhan, Firaun mengangkat Yusuf menjadi penguasa di Mesir.

Yusuf akhirnya memahami cara kerja Tuhan dalam hidupnya, itu maka dia berkata kepada saudara-saudaranya:

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (Kejadian 50:20)

Sejak awal, penderitaan Yusuf seperti tragedy yang tidak berujung. Namun cara Tuhan bekerja tidak dapat ditebak dan Dia memberkati Yusuf menjadi berkat bagi keluarga dan banyak bangsa.

Tuhan mampu menuliskan akhir yang indah dari cerita kehidupan seseorang yang awalnya kelihatannya hancur.

5. Agar Kita Dapat Menghibur Orang Lain

Tujuan berikutnya mengapa Tuhan mengijinkan kita menderita adalah agar kita mampu berempati kepada mereka yang menderita. Dan dapat menghibur mereka.

“Allah menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka.” (2 Korintus 1:4)

Orang yang pernah mengalami kehilangan sering kali paling mampu menguatkan mereka yang berduka.

Orang yang pernah gagal dapat memberi semangat kepada mereka yang putus asa.

Luka yang disembuhkan Tuhan sering berubah menjadi pelayanan bagi banyak orang yang menderita.

6. Karena Tuhan Memiliki Rencana yang Lebih Besar

Saat awal penderitaan datang, kita tidak punya gambaran besar tentang rencana Tuhan. Saat itu kita tidak mampu memahami mengapa kita menderita.

Seperti Ayub, dia tidak pernah mengetahui alasan mengapa ia mengalami semua penderitaan itu.

Namun pada akhirnya ia berkata:

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5)

Kadang kita baru memahami apa maksud Tuhan bagi kita setelah bertahun-tahun berlalu.

Bahkan banyak pertanyaan kita, yang tidak terjawab selama di Bumi ini, baru akan terjawab ketika kita tiba di Kerajaan Surga.

Iman berarti tetap percaya meski belum mengerti semuanya saat ini.

7. Karena Yesus Sendiri Pernah Menderita

Penderitaan Yesus adalah penghiburan terbesar bagi kita. Karena Yesus sendiri turut menanggung penderitaan karena dosa.

Sehingga kita dan Yesus sama-sama menderita. Bedanya kita menderita sebagai akibat dosa. Yesus menderita agar Dia dapat membebaskan kita dari penderitaan akibata dosa.

Karena itulah, Ia datang ke dunia dan mengalaminya sendiri.

Seperti, Yesus merasakan lapar, kelelahan, penolakan, penghinaan, pengkhianatan, penderitaan, bahkan kematian di kayu salib.

Dan di kayu salib, Yesus merasakan puncak dari penderitaan manusia akibat dosa. Bukan hanya menderita fisik, namun juga batin.

Karena itu, saat kita menangis karena tanggungan kita berat, Tuhan mengerti air mata kita.

Saat kita terluka, Tuhan memahami setiap luka kita.

Ia bukan Allah yang jauh. Dia dekat dan sedih saat kita menderita, karena Dia pernah merasakan penderitaan manusia.

Itu sebabnya Dia mau mati untuk kita, agar dimasa depan, kita bebas dari penderitaan.

Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Menderita?

  1. Tetap berdoa meski kita tidak mendapat jawaban.

Jangan berhenti datang kepada Tuhan hanya karena keadaan belum berubah. Tetaplah berharap dengan setia.

  1. Percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam segala keadaan

Walaupun kita tidak melihatnya, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk kita.

  1. Jangan menghadapi penderitaan sendirian.

Carilah dukungan dari keluarga, sahabat, atau jemaat yang dapat menguatkan iman kita. Jangan menyendiri, namun bergabung dalam persekutuan orang beriman.

  1. Pegang janji Tuhan.

Firman Tuhan menjadi pengharapan ketika keadaan terasa gelap.

  1. Ingat bahwa penderitaan tidak berlangsung selamanya.

Seperti malam yang gelap akan berganti dengan pagi hari yang sejuk, demikian juga penderitaan, akan berlalu suatu masa.

Setiap air mata suatu hari akan digantikan dengan sukacita. Kita akan tertawa karena Tuhan.

Ilustrasi

Seorang pemahat sedang memukul sebuah batu besar dengan palu. Seorang anak kecil bertanya, “Mengapa batu itu dipukul terus?”

Pemahat tersenyum.

“Karena di dalam batu ini ada patung yang indah.”

Beberapa minggu kemudian, batu kasar itu berubah menjadi patung yang memukau. Indah dan bernilai.

Begitulah cara Tuhan bekerja. Kadang hidup kita terasa seperti dipukul bertubi-tubi oleh masalah. Kita mengalami sakit yang perih.

Namun di tangan Sang Pencipta, setiap pukulan bukan untuk menghancurkan, melainkan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih indah.

Agar kita menjadi bejana yang berharga dimata Tuhan.

Kesimpulan

Penderitaan memang menyakitkan. Tidak ada orang yang menginginkannya. Namun Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan menyertai umat-Nya didalam menjalani kesusahan.

Ia dapat memakai penderitaan untuk membentuk karakter, memperdalam iman, menguatkan pengharapan, agar kita menjadi berkat bagi orang lain dan semakin serupa dengan Kristus.

Bahkan ketika kita tidak memahami alasan di balik setiap peristiwa, kita dapat tetap percaya bahwa Tuhan memegang kendali.

Mungkin hari ini kita sedang bertanya, “Mengapa saya harus mengalami semua ini?”

Jawabannya tidak langsung kita temukan. Saat ini. Tetapi satu hal yang pasti: Tuhan tidak meninggalkan kita.

Ia berjalan bersama kita, menopang setiap langkah kaki kita, dan Dia sanggup mengubah penderitaan menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya.

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” (Roma 8:28)

FAQ

Apakah semua penderitaan berasal dari Tuhan?

Tidak. Banyak penderitaan merupakan akibat dosa, pilihan manusia, atau kondisi dunia yang telah rusak. Namun Tuhan sanggup memakai penderitaan itu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Apakah penderitaan berarti Tuhan sedang menghukum saya?

Tidak selalu. Tokoh-tokoh seperti Ayub, Yusuf, dan Paulus mengalami penderitaan bukan karena mereka ditolak Tuhan, melainkan karena Allah memiliki tujuan yang lebih besar.

Bagaimana tetap percaya kepada Tuhan saat menderita?

Tetaplah berdoa, membaca Firman Tuhan, bersekutu dengan sesama orang percaya, dan ingat bahwa Yesus sendiri pernah mengalami penderitaan sehingga Ia memahami pergumulan kita.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *