Sepanjang sejarah dunia, perang telah mengubah nasib bangsa-bangsa. Perang meruntuhkan kerajaan, menghancurkan kota, kematian yang sia-sia, sehingga meninggalkan luka yang bertahan selama beberapa generasi.

Ada perang yang berlangsung hanya beberapa hari, tetapi dampaknya berlangsung berabad-abad.

Ada pula perang yang melibatkan puluhan negara dan mengubah seluruh tatanan dunia.

Berikut ada 50 perang dalam sejarah dunia dari dunia kuno hingga dunia modern.

A. Perang kuno dan kehancuran kerajaan

1. Jatuhnya Niniwe (612 SM)

Mesopotamia • Perang koalisi Babilonia dan Media melawan Asyur

Kota Niniwe, ibu kota Kekaisaran Asyur, direbut dan dihancurkan. Kekalahan ini mengakhiri dominasi Asyur sebagai kekuatan utama Timur Dekat. Peristiwa tersebut menjadi simbol runtuhnya sebuah imperium yang sebelumnya dikenal karena ekspansi militernya.

2. Pengepungan Yerusalem (70 M)

Yudea • Kekaisaran Romawi melawan pemberontak Yahudi

Perkiraan puluhan ribu hingga ratusan ribu orang meninggal, meskipun angka kuno sangat diperdebatkan. Bait Suci Kedua dihancurkan, kota mengalami kehancuran besar, dan banyak penduduk dibunuh atau diperbudak. Peristiwa ini mengubah kehidupan keagamaan dan sejarah diaspora Yahudi.

3. Perang Punisia Ketiga dan kehancuran Kartago (149–146 SM)

Afrika Utara • Romawi melawan Kartago

Setelah pengepungan panjang, Kartago jatuh ke tangan Romawi. Kota dihancurkan dan sebagian besar penduduk yang selamat diperbudak. Kekalahan Kartago memperkuat dominasi Romawi di kawasan Mediterania barat.

4. Pertempuran Cannae (216 SM)

Italia • Republik Romawi melawan Kartago

Pasukan Hannibal menghancurkan tentara Romawi dalam salah satu kekalahan militer paling terkenal pada zaman kuno. Perkiraan korban Romawi mencapai puluhan ribu dalam satu hari. Pertempuran ini memperlihatkan betapa cepatnya sebuah pasukan besar dapat dikepung dan dimusnahkan.

5. Perang Zaman Tiga Kerajaan Tiongkok (184–280 M)

Tiongkok • Perang saudara dan perebutan kekuasaan

Pemberontakan Serban Kuning dan konflik antarkerajaan menyebabkan kehancuran luas, perpindahan penduduk, dan melemahnya pemerintahan pusat. Angka kematian yang kadang disebut mencapai puluhan juta sangat tidak pasti dan tidak dapat dipisahkan dengan mudah dari kelaparan serta perubahan pencatatan penduduk.

6. Pemberontakan An Lushan (755–763)

Tiongkok • Pemberontakan terhadap Dinasti Tang

Perang saudara menghancurkan banyak wilayah makmur Dinasti Tang. Sensus sebelum dan sesudah perang menunjukkan penurunan jumlah penduduk yang sangat besar, tetapi angka tersebut tidak sama dengan jumlah orang yang tewas. Konflik ini melemahkan pemerintahan Tang dan mengubah keseimbangan kekuasaan regional.

B. Invasi, penaklukan, dan perang abad pertengahan

7. Penaklukan Mongol (abad ke-13 hingga ke-14)

Asia dan Eropa • Kekaisaran Mongol melawan berbagai kerajaan

Perkiraan korban berkisar puluhan juta, tetapi angka tepatnya tidak dapat dipastikan. Kota-kota dihancurkan, penduduk dibantai atau diperbudak, dan pusat perdagangan maupun pertanian mengalami kerusakan. Penaklukan ini membentuk ulang jaringan perdagangan Eurasia sekaligus meninggalkan trauma mendalam.

8. Jatuhnya Baghdad (1258)

Irak • Mongol melawan Kekhalifahan Abbasiyah

Baghdad direbut dan mengalami pembantaian serta kehancuran besar. Kekuasaan politik Abbasiyah di Baghdad berakhir. Kerusakan terhadap lembaga pemerintahan, kawasan permukiman, dan pusat pembelajaran menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Timur Tengah.

9. Penaklukan Timur Lenk (1370–1405)

Asia Tengah, Persia, dan Asia Selatan

Kampanye militer Timur Lenk disertai pembantaian penduduk, penghancuran kota, dan deportasi. Perkiraan jumlah korban mencapai jutaan, tetapi sangat bergantung pada sumber dan metode perhitungan. Penaklukan ini memperluas kekuasaannya, sekaligus merusak sejumlah pusat perkotaan dan ekonomi.

10. Jatuhnya Konstantinopel (1453)

Eropa–Asia • Kesultanan Utsmaniyah melawan Kekaisaran Bizantium

Pengepungan berakhir dengan jatuhnya ibu kota Bizantium. Banyak penduduk terbunuh, ditawan, atau diperbudak. Berakhirnya kekaisaran yang telah bertahan lebih dari seribu tahun menjadi perubahan besar dalam politik Mediterania dan hubungan antara Eropa dengan Asia.

11. Perang Seratus Tahun (1337–1453)

Prancis dan Inggris

Rangkaian perang selama lebih dari satu abad menyebabkan kehancuran desa, penjarahan, kelaparan, dan kemerosotan ekonomi di banyak daerah. Perang ini turut memperkuat identitas politik kerajaan, mengubah cara berperang, dan memperlemah sebagian struktur feodal lama.

12. Penaklukan Kekaisaran Aztek (1519–1521)

Meksiko • Spanyol dan sekutu pribumi melawan Aztek

Jatuhnya Tenochtitlan disertai pengepungan, kekerasan, kelaparan, dan wabah penyakit. Penduduk pribumi mengalami kemerosotan demografis yang sangat besar, terutama akibat penyakit yang dibawa dari Dunia Lama, selain perang, kerja paksa, dan perubahan sosial. Kekuasaan kolonial Spanyol kemudian berkembang di Meksiko.

13. Pengepungan Malta (1565)

Malta • Kesultanan Utsmaniyah melawan Ordo Santo Yohanes

Pertempuran berbulan-bulan menewaskan ribuan prajurit dan penduduk. Pulau ini mengalami kerusakan berat, tetapi pertahanannya bertahan. Kegagalan Utsmaniyah merebut Malta menjadi momen penting dalam persaingan kekuatan laut di Mediterania.

C. Perang agama, perebutan dinasti, dan kolonialisme

14. Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)

Eropa Tengah • Konflik agama dan perebutan kekuasaan

Perang menghancurkan sebagian wilayah Kekaisaran Romawi Suci. Pertempuran, penjarahan, kelaparan, dan wabah menyebabkan jutaan kematian. Beberapa wilayah Jerman mengalami penurunan penduduk yang tajam. Perjanjian Westfalen ikut membentuk perkembangan sistem hubungan antarnegara di Eropa.

15. Perang Saudara Inggris (1642–1651)

Inggris, Skotlandia, dan Irlandia

Konflik antara pendukung raja dan parlemen menimbulkan kematian, pengungsian, dan kerusakan ekonomi. Raja Charles I dieksekusi pada 1649, monarki dihapus untuk sementara, dan perdebatan mengenai kedaulatan serta batas kekuasaan penguasa memperoleh pengaruh besar.

16. Peralihan Dinasti Ming ke Qing (1618–1683)

Tiongkok • Perang dinasti, pemberontakan, dan invasi Manchu

Keruntuhan Ming dan pembentukan kekuasaan Qing melibatkan perang berkepanjangan, pemberontakan, kelaparan, serta pembantaian. Angka korban yang sangat tinggi dalam sejumlah perkiraan mencakup kematian tidak langsung dan perubahan demografi. Tatanan politik Tiongkok berubah secara mendasar.

17. Perang Utara Besar (1700–1721)

Eropa Utara • Swedia melawan koalisi yang dipimpin Rusia

Perang, penyakit, dan kelaparan membebani tentara serta penduduk. Swedia kehilangan posisi sebagai kekuatan dominan di kawasan Baltik, sementara Rusia berkembang menjadi kekuatan utama Eropa. Dampaknya mengubah keseimbangan politik Eropa Utara.

18. Perang Tujuh Tahun (1756–1763)

Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia

Perang global ini menewaskan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang menurut sejumlah perkiraan, tergantung cakupan. Biaya perang menambah utang negara, mengubah penguasaan koloni, dan memperkuat Inggris di beberapa wilayah. Dampak finansialnya turut memengaruhi ketegangan yang mengarah pada Revolusi Amerika.

19. Perang Napoleon (1803–1815)

Eropa dan wilayah kolonial

Perang koalisi, invasi Rusia, penyakit, dan kehancuran logistik menyebabkan jutaan korban. Kerajaan berganti, perbatasan berubah, dan nasionalisme berkembang. Kongres Wina kemudian berusaha membangun keseimbangan kekuatan baru di Eropa.

20. Penaklukan Prancis atas Aljazair (1830–1903, dengan perlawanan berlanjut)

Afrika Utara • Prancis melawan berbagai perlawanan Aljazair

Penaklukan dan perluasan kekuasaan kolonial berlangsung melalui perang, penghancuran permukiman, pengusiran, dan perampasan tanah. Kekerasan serta perubahan ekonomi dan sosial meninggalkan dampak panjang bagi masyarakat Aljazair dan hubungan dengan Prancis.

D. Perang saudara dan perang revolusi abad ke-19

21. Pemberontakan Taiping (1850–1864)

Tiongkok • Pemberontakan melawan Dinasti Qing

Perkiraan kematian berkisar sekitar 20–30 juta dalam banyak rujukan, meskipun rentang yang lebih tinggi juga pernah dikemukakan. Perang, pembantaian, kelaparan, dan wabah menghancurkan kawasan luas di Tiongkok selatan dan tengah. Ini termasuk salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah.

22. Perang Saudara Amerika (1861–1865)

Amerika Serikat • Uni melawan Konfederasi

Sekitar 620.000–750.000 tentara diperkirakan meninggal, bergantung pada metode perhitungan. Perang ini menghancurkan banyak wilayah Selatan dan mengakhiri perbudakan secara hukum. Namun, penghapusan perbudakan tidak langsung mengakhiri rasisme, segregasi, dan ketimpangan sosial.

23. Perang Paraguay atau Perang Aliansi Tiga (1864–1870)

Amerika Selatan • Paraguay melawan Brasil, Argentina, dan Uruguay

Paraguay mengalami kehancuran demografis dan ekonomi yang luar biasa. Proporsi penduduk yang meninggal masih diperdebatkan karena data sebelum dan sesudah perang tidak lengkap. Kekalahan ini melemahkan Paraguay selama beberapa generasi dan meninggalkan trauma nasional yang mendalam.

24. Revolusi Meksiko (1910–1920)

Meksiko • Revolusi dan perang antarfaksi

Sekitar satu hingga dua juta orang sering disebut sebagai perkiraan korban, tetapi angka tersebut mencakup dampak tidak langsung dan masih diperdebatkan. Perang menyebabkan pengungsian, kehancuran ekonomi, dan perubahan besar dalam hubungan antara negara, tanah, buruh, serta masyarakat pribumi.

E. Perang dunia dan kekejaman abad ke-20

  1. Perang Dunia I (1914–1918)

Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan wilayah lain

Sekitar 15–22 juta kematian sering diperkirakan untuk gabungan militer dan sipil, bergantung pada cakupan. Senapan mesin, artileri, gas beracun, dan perang parit menyebabkan korban massal. Kekaisaran besar runtuh, peta Eropa berubah, dan ketegangan pascaperang ikut membuka jalan menuju Perang Dunia II.

26. Genosida Armenia (1915–1917 dan sesudahnya)

Kesultanan Utsmaniyah • Perang Dunia I

Sekitar 1–1,5 juta orang Armenia diperkirakan meninggal akibat pembunuhan, deportasi paksa, kelaparan, dan kondisi perjalanan. Komunitas Armenia di banyak wilayah hancur atau terusir. Peristiwa ini menjadi salah satu contoh penting bagaimana perang dapat digunakan untuk menutupi penghancuran suatu kelompok etnis.

27. Perang Saudara Rusia (1917–1923)

Rusia dan bekas wilayah Kekaisaran Rusia

Jutaan orang meninggal akibat pertempuran, teror politik, kelaparan, dan penyakit. Keluarga terpisah, ekonomi runtuh, dan jutaan orang mengungsi. Kemenangan Bolshevik menghasilkan negara Soviet, yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utama dunia.

28. Perang Tiongkok–Jepang Kedua (1937–1945)

Tiongkok • Jepang melawan Republik Tiongkok

Perang menyebabkan puluhan juta kematian dalam sejumlah perkiraan, termasuk korban sipil akibat pembantaian, pemboman, kelaparan, dan penyakit. Infrastruktur hancur dan jutaan orang terusir. Konflik ini menjadi bagian utama perang Asia-Pasifik dalam Perang Dunia II.

29. Pembantaian Nanjing (1937–1938)

Tiongkok • Kekejaman tentara Jepang setelah kota direbut

Dalam minggu-minggu setelah jatuhnya Nanjing, warga sipil dan tawanan perang dibunuh dalam jumlah besar, disertai kekerasan seksual dan penjarahan. Perkiraan korban yang sering digunakan berkisar sekitar 100.000–300.000, dengan perbedaan dalam cakupan wilayah dan periode. Peristiwa ini tetap menjadi isu penting dalam ingatan sejarah Asia Timur.

30. Perang Dunia II (1939–1945)

Perang global • Sekutu melawan Blok Poros

Sekitar 70–85 juta kematian diperkirakan dalam sejumlah perhitungan luas. Perang mencakup Holocaust, pembantaian sipil, pengeboman kota, kelaparan, kamp tawanan, dan penggunaan senjata atom. Perang mengubah batas negara, mempercepat berakhirnya kolonialisme, mendorong pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan mengawali era nuklir.

31. Holocaust (1933–1945; pembunuhan massal terutama 1941–1945)

Eropa • Genosida oleh rezim Nazi dan kolaboratornya

Enam juta orang Yahudi dibunuh secara sistematis. Nazi juga menganiaya dan membunuh jutaan korban lainnya, termasuk orang Roma, penyandang disabilitas, tawanan perang Soviet, serta kelompok yang dianggap musuh rezim. Holocaust memperlihatkan bagaimana propaganda, rasisme, birokrasi, dan kekuasaan negara dapat digabungkan untuk melakukan genosida.

32. Pertempuran Stalingrad (1942–1943)

Uni Soviet • Tentara Soviet melawan Jerman dan sekutunya

Korban militer dan sipil diperkirakan mencapai sekitar satu hingga dua juta, bergantung pada definisi dan cakupan. Kota berubah menjadi reruntuhan, penduduk mengalami kelaparan dan suhu ekstrem, sementara banyak tentara tewas atau ditawan. Kekalahan Jerman menjadi titik balik strategis di Front Timur.

33. Pertempuran Berlin (1945)

Jerman • Serangan Soviet menjelang akhir Perang Dunia II

Pertempuran di ibu kota Nazi menyebabkan kematian tentara dan warga sipil, kerusakan bangunan, serta penderitaan penduduk yang terjebak di kota. Jatuhnya Berlin mempercepat berakhirnya perang di Eropa dan diikuti pendudukan Jerman serta pembagian negara tersebut.

34. Bom atom Hiroshima dan Nagasaki (1945)

Jepang • Serangan nuklir Amerika Serikat

Di Hiroshima, sekitar 140.000 orang diperkirakan meninggal hingga akhir 1945; di Nagasaki, perkiraannya sekitar 70.000. Angka ini mencakup korban yang meninggal akibat luka dan radiasi setelah ledakan. Kota-kota hancur, penyintas mengalami penyakit dan stigma, dan dunia memasuki era ketika perang nuklir berpotensi mengancam peradaban manusia.

F. Perang pascakolonial, perang saudara, dan genosida

35. Pemisahan India dan Pakistan (1947)

Asia Selatan • Kekerasan komunal setelah kemerdekaan

Sekitar 10–15 juta orang berpindah tempat dalam salah satu migrasi paksa terbesar pada abad ke-20. Jumlah korban jiwa diperkirakan ratusan ribu hingga sekitar dua juta, dengan angka yang sangat diperdebatkan. Pembunuhan antarkomunitas, kekerasan seksual, dan kehilangan tempat tinggal meninggalkan luka mendalam serta memperburuk hubungan India–Pakistan.

36. Perang Saudara Tiongkok (1927–1949)

Tiongkok • Nasionalis melawan komunis

Perang yang berlangsung dalam beberapa tahap menyebabkan jutaan kematian, disertai kehancuran ekonomi dan pengungsian besar-besaran. Kemenangan komunis pada 1949 menghasilkan Republik Rakyat Tiongkok, sedangkan pemerintahan Republik Tiongkok mundur ke Taiwan. Perpecahan politik tersebut terus memengaruhi hubungan lintas Selat Taiwan.

37. Perang Korea (1950–1953)

Semenanjung Korea • Korea Utara dan sekutu melawan Korea Selatan dan pasukan PBB

Sekitar dua hingga tiga juta kematian sering diperkirakan, termasuk banyak warga sipil. Kota dan desa hancur, keluarga terpisah, dan jutaan orang mengungsi. Gencatan senjata 1953 tidak menghasilkan perjanjian damai permanen; semenanjung Korea tetap terbagi dan sangat termiliterisasi.

38. Perang Indochina Pertama (1946–1954)

Vietnam, Laos, dan Kamboja • Prancis melawan gerakan kemerdekaan

Perang kemerdekaan ini menyebabkan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta kematian menurut perkiraan luas. Pertempuran dan pengungsian menghancurkan banyak wilayah. Kekalahan Prancis di Dien Bien Phu mempercepat berakhirnya kekuasaan kolonial Prancis di Indochina dan mengawali pembagian Vietnam yang kemudian memicu konflik berikutnya.

39. Perang Vietnam (1955–1975)

Vietnam, Laos, dan Kamboja • Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan kekuatan regional

Perkiraan korban sangat bervariasi, tetapi mencapai jutaan orang. Pemboman, pertempuran, pengungsian, ranjau, dan bahan kimia seperti Agen Oranye membawa dampak jangka panjang. Vietnam bersatu di bawah pemerintahan komunis pada 1975, sementara veteran dan warga sipil terus menghadapi konsekuensi kesehatan, lingkungan, dan sosial.

40. Perang Kemerdekaan Bangladesh (1971)

Pakistan Timur • Perang melawan pemerintahan Pakistan Barat

Pembunuhan massal, kekerasan seksual, operasi militer, dan pengungsian melanda Pakistan Timur. Jumlah korban diperdebatkan secara tajam; perkiraan berkisar dari ratusan ribu hingga beberapa juta. Sekitar sepuluh juta pengungsi melarikan diri ke India. Perang berakhir dengan berdirinya Bangladesh sebagai negara merdeka.

41. Genosida Kamboja di bawah Khmer Merah (1975–1979)

Kamboja • Rezim Khmer Merah

Sekitar 1,5–2 juta orang meninggal akibat eksekusi, kerja paksa, kelaparan, dan penyakit. Kota-kota dikosongkan, keluarga dipisahkan, pendidikan dan kehidupan keagamaan ditekan, dan banyak orang dibunuh karena latar belakang atau dugaan politik mereka. Dampaknya mencakup trauma antargenerasi serta hilangnya banyak tenaga terdidik.

42. Perang Soviet–Afghanistan (1979–1989)

Afghanistan • Uni Soviet dan pemerintah sekutunya melawan kelompok mujahidin

Perang menyebabkan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta kematian menurut sejumlah perkiraan, selain jutaan pengungsi. Desa hancur, ranjau tersebar luas, dan struktur sosial melemah. Setelah penarikan Soviet, konflik internal berlanjut dan ikut menciptakan kondisi bagi munculnya Taliban serta intervensi internasional berikutnya.

43. Perang Iran–Irak (1980–1988)

Timur Tengah • Iran melawan Irak

Ratusan ribu orang meninggal dan sejumlah perkiraan mendekati satu juta korban jiwa, tergantung metode penghitungan. Kedua negara mengalami kerusakan infrastruktur, kehilangan generasi muda, serta beban ekonomi besar. Penggunaan senjata kimia oleh Irak menambah penderitaan tentara dan penduduk sipil serta meninggalkan dampak kesehatan jangka panjang.

44. Genosida Rwanda (1994)

Afrika Tengah • Pembunuhan massal terutama terhadap Tutsi, juga Hutu moderat

Dalam sekitar 100 hari, sekitar 800.000 orang atau lebih dibunuh menurut berbagai perkiraan. Kekerasan terjadi di rumah, gereja, sekolah, dan tempat perlindungan. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana propaganda, organisasi kekerasan, dan kegagalan perlindungan internasional dapat berujung pada pembunuhan massal dalam waktu sangat singkat.

45. Perang Bosnia (1992–1995)

Bekas Yugoslavia • Perang antarkelompok nasional dan etnis

Sekitar 100.000 orang meninggal dan jutaan orang mengalami pengungsian. Pengepungan Sarajevo berlangsung hampir empat tahun. Pembantaian Srebrenica pada 1995 diakui sebagai genosida oleh pengadilan internasional. Perang ini meninggalkan masyarakat yang terpecah dan persoalan keadilan yang berlangsung lama.

G. Konflik modern dan perang yang dampaknya masih terasa

46. Perang Kongo Pertama (1996–1997)

Afrika Tengah • Zaire melawan koalisi pemberontak dan negara tetangga

Runtuhnya pemerintahan Mobutu terjadi di tengah kekerasan regional setelah genosida Rwanda. Pengungsi, warga sipil, dan kelompok bersenjata terjebak dalam situasi yang kompleks. Perang menggulingkan Mobutu, mengubah nama negara menjadi Republik Demokratik Kongo, dan membuka fase ketidakstabilan regional berikutnya.

47. Perang Kongo Kedua (1998–2003)

Republik Demokratik Kongo dan sejumlah negara Afrika

Konflik ini sering disebut sebagai salah satu perang paling mematikan sejak Perang Dunia II. Jutaan kematian diperkirakan, sebagian besar akibat penyakit, kelaparan, dan runtuhnya layanan kesehatan, bukan hanya pertempuran langsung. Eksploitasi sumber daya, pengungsian, dan kekerasan terhadap warga sipil terus memengaruhi kawasan tersebut.

48. Perang Darfur (2003–berlanjut dalam berbagai fase konflik)

Sudan • Pasukan pemerintah, milisi sekutu, dan kelompok pemberontak

Pembunuhan, serangan terhadap desa, kekerasan seksual, serta pengusiran paksa menyebabkan krisis kemanusiaan besar. Perkiraan korban berbeda menurut periode dan definisi, dengan ratusan ribu kematian disebut dalam sejumlah kajian untuk fase awal. Pengungsian massal, kelaparan, dan ketidakamanan berkepanjangan menghancurkan kehidupan banyak komunitas.

49. Perang Saudara Suriah (2011–berbagai fase hingga kini)

Timur Tengah • Pemerintah, kelompok oposisi, organisasi bersenjata, dan aktor asing

Ratusan ribu orang terbunuh dan jutaan warga mengungsi di dalam maupun ke luar negeri. Kota-kota mengalami kehancuran, sementara layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi melemah. Perang menghasilkan salah satu krisis pengungsi terbesar pada abad ke-21 dan meninggalkan persoalan rekonstruksi, pertanggungjawaban, serta pemulangan pengungsi yang rumit.

50. Perang Rusia–Ukraina (2014–bereskalasi menjadi invasi skala penuh pada 2022)

Eropa Timur • Rusia dan Ukraina

Invasi skala penuh pada 2022 memperluas konflik yang dimulai pada 2014. Pertempuran, serangan terhadap infrastruktur, ranjau, dan perpindahan penduduk telah menyebabkan banyak korban jiwa serta jutaan pengungsi. Perang ini mengubah keamanan Eropa, memperkuat kembali peran NATO, dan menimbulkan dampak global terhadap energi, pangan, perdagangan, dan hubungan internasional.

Referensi

  1. Beevor, Antony. The Second World War. London: Weidenfeld & Nicolson, 2012.
  2. Britannica, The Editors of Encyclopaedia. “Encyclopaedia Britannica.” https://www.britannica.com/
  3. Hastings, Max. Catastrophe 1914: Europe Goes to War. London: William Collins, 2013.
  4. International Committee of the Red Cross (ICRC). “International Committee of the Red Cross.” https://www.icrc.org/
  5. International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY). “International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia.” https://www.icty.org/
  6. Keegan, John. A History of Warfare. New York: Alfred A. Knopf, 1993.
  7. Kershaw, Ian. To Hell and Back: Europe 1914–1949. New York: Viking, 2015.
  8. Our World in Data. “War and Peace.” https://ourworldindata.org/war-and-peace
  9. Our World in Data. “Conflict Measures: How Do Researchers Measure How Common and Deadly Armed Conflicts Are?” https://ourworldindata.org/conflict-measures-how-do-researchers-measure-how-common-and-deadly-armed-conflicts-are
  10. Pinker, Steven. The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined. New York: Viking, 2011.
  11. United Nations. “United Nations.” https://www.un.org/
  12. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). “The UN Refugee Agency.” https://www.unhcr.org/
  13. United States Holocaust Memorial Museum. “Holocaust Encyclopedia.” https://encyclopedia.ushmm.org/
  14. Uppsala Conflict Data Program (UCDP). “UCDP: Uppsala Conflict Data Program.” Uppsala University. https://ucdp.uu.se/
  15. Tuchman, Barbara W. The Guns of August. New York: Macmillan, 1962.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *