Pastordepan Media Ministry
Beranda Khotbah 5 Kotbah Pemakaman dan Penghiburan Bagi Orang Kristen

5 Kotbah Pemakaman dan Penghiburan Bagi Orang Kristen

I. KEMATIAN YANG MEMBAWA BERKAT

Alkitab mengajarkan bahwa hidup tidak berakhir di kuburan. Kematian hanyalah peristirahatan sementara. Yohanes pasti memikirkan kebenaran ini ketika dia menulis Wahyu 14:13.

“Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Dalam ayat ini, Yohanes melihat kematian dari sisi lain. Karena kalau dari sudut pandang kita, kematian tampak mengerikan, mengalahkan, dan menghancurkan.

Tapi dari sudut pandang Tuhan, kematian itu sama sekali berbeda. Dia menyebut orang mati, yang percaya sebagai “berbahagia.”

Kata itu secara harfiah berarti “diberkati”, “diberi selamat”, “beruntung”. Kata itu jauh dari perngertian kita sebagai “menyedihkan” “sangat malang” dll..

Disini Tuhan memberi tahu kita bahwa mereka yang mati dengan iman kepada Tuhan sebagai diberkati atau berbahagia.

Ada tiga alasan mengapa kematian orang percaya itu disebut berbahagia:

1. Supaya mereka dapat beristirahat

1) Kematian adalah sarana dimana kita dapat beristirahat dari kerja keras kita. Karena selama kita masih hidup, kita tidak akan mendapat istirahat yang damai.

Kata “Jerih lelah” menggambarkan kelelahan dari pekerjaan, kerja keras yang melelahkan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hidup itu keras.

Istirahat sangat manis setelah kerja keras yang melelahkan.

“Kerja keras” dalam Wahyu 14:13 mengacu pada pengabdian Orang-orang percaya akhir zaman untuk pelayanan dan untuk proklamasi Injil, dimana mereka menderita kesulitan dan penganiayaan sampai mati (lih. Wahyu 12:11).

Karena hidup Itu penuh dengan kesulitan, kekecewaan, dan penyakit. Maka Tuhan menjanjikan kita istirahat dari semua itu.

2) Kematian adalah sarana bagi umat Allah untuk mendapat perhentian. Kita perlu berterima kasih kepada Tuhan atas kematian. Ada saatnya kita perlu meletakkan beban kita dan beristirahat.

Kata “istirahat” yang muncul dalam ayat ini adalah kata yang indah. Artinya menjadi nyaman, disegarkan. Ini menunjukkan akhir dari kerja keras dan kesengsaraan hidup.

Inilah yang Yesus janjikan kepada kita ketika Dia berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:28-29.

Di dunia yang penuh masalah ini, kita sekarang tahu bahwa pentinya istirahat. Tapi ada istirahat yang lebih besar dan lebih banyak lagi, sebuah istirahat total yang tersedia bagi kita.

Istirahat itu adalah Ketika Yesus datang kedua kali, membangkitkan orang benar dari kematian dan tinggal bersama Tuhan di Sorga.

2. Supaya mereka mendapatkan upah

Yohanes menuliskan dalam Wahyu 14:13, “karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Semua perbuatan kita tercatat dalam kitab peringatan Tuhan. Catatan itu akan membawa kita selamat atau tidak.

Dengan kehidupan yang kita jalani, dengan perkataan yang kita ucapkan, dan dengan perbuatan yang kita lakukan, baik atau buruk, kita telah mengumpulkan harta di surga bagi diri kita sendiri. Dan semua tercatat dalam kita Tuhan.

Yesus berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat. 10:42).

Alkitab memberi tahu kita bahwa Tuhan tidak akan melupakan pekerjaan dan jerih payah yang telah kita lakukan dalam nama-Nya saat kita melayani orang lain (Ibr. 6:10).

Perbuatan kita akan menyertai kita. Mereka menemani kita sampai ke penghakiman Allah.

Jika kita telah hidup dengan setia dan melayani Tuhan kita dengan penuh kasih maka mahkota kehidupan akan menanti kita.

Dan mereka yang mendapatkan pahala yang baik beruntung. Mereka harus diberi selamat.

3. Mereka akan dibangkitkan

Dalam ayat ini memang kebangkitan tidak disebutkan, tetapi hal itu ditegaskan dalam 1 Korintus 15:20-22:

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.”

Paulus menegaskan, kebangkitan orang percaya nanti, karena kebangkitan Yesus dari kematian. Seperti Yesus telah bangkita dari kematian, demikian orang benar akan bangkit.

Sebagaimana tubuh-Nya dapat dikenali, maka teman dan orang yang kita kasihi juga dapat dikenali. Sebagaimana tubuh-Nya melampaui batasan ruang dan waktu, demikian pula tubuh kita tidak akan tunduk pada batasan kehidupan ini.

Sebagaimana tubuh-Nya tidak lagi tunduk pada penyakit dan pembusukan, demikian pula tubuh kita akan menjadi tubuh yang baka.

Dan kita akan hidup selamanya.

II. RUMAH KITA DI SORGA

1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

2Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,

3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.

4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.

5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.

6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

7 –sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat–

8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.

Kita berkumpul di sini hari ini untuk memberikan penghormatan kepada saudara/i terkasih kita, yang telah beristirahat di dalam Kristus.

Kita tahu bahwa bagi kita semua terlebih keluarga, ini adalah masa yang menyedihkan–tetapi ini juga adalah saat kesedihan bercampur dengan kegembiraan.

Ini adalah saat kesedihan karena:

Pertama, kita kehilangan orang yang kita kasihi ini. Untuk sementara waktu kita tidak akan dapat melihat wajahnya.

Kita sedih karena kita tidak dapat lagi merasakan sentuhannya. Kita tidak dapat lagi melihat senyumannya.

Kita sedih karena tawa yang tidak akan terdengar lagi. Kesedihan karena suara yang tak lagi memanggil kita.

Kesedihan karena cinta yang akan dikenang. Ya, ada kesedihan di saat kematian ini – tetapi ada juga kegembiraan yang besar.

Ada sukacita besar hari ini karena: orang yang kita kasihi ini adalah seorang Kristen. Dia telah menyerahkan hidupnya kepada Yesus.

Sukacita karena dia telah dimandikan dalam darah Anak Domba. Sukacita karena dia membuat keputusan untuk menerima Yesus.

Sukacita karena melalui kuasa kebangkitan Yesus, dia akan dibangkitkan pada hari kedatangan Yesus yang kedua kali.

Dan kita bersukacita mengetahui bahwa saudari terkasih ini mati dalam Kristus dan untuk sementara dia beristirahat dari jerih lelahnya.

Dan Ketika Yesus datang, hidup kekal akan menjadi bagiannya dan kita semua, dimana tidak ada lagi kematian, atau perkabungan atau tangisan dan penyakit.

Kita bisa bersukacita mengetahui bahwa dia beristirahat dalam Yesus.

Ada dua alasan kita bersukacita sekalipun kita berdukacita

1. Kita akan berjumpa lagi dengan orang yang kita kasihi ini

a) Kita akan berjumpa lagi. Almarhum telah beristirahat di dalam pengharapan akan kebangkitan orang percaya.

Ketika Yesus datang Kembali, kuburan akan terbuka dan dia akan keluar dari sana dan kita akan dipertemukan Kembali.

b) Kita akan bertemu muka dengan muka dengan Yesus. Oh, betapa senangnya melihat Dia yang menumpahkan darah-Nya di Kalvari sehingga semua yang percaya dapat masuk ke tempat kesempurnaan ini.

Kita dapat menyentuh tangan dan kaki yang ditusuk karena dosa sewaktu di dunia ini. Kita akan dekat dengan Dia yang memberikan nyawa-Nya, agar kita bisa memiliki hidup yang kekal.

c) Kita akan bertemu dengan semua orang percaya sepanjang zaman. Tidak ada lagi perpisahan.

2. Kita akan hidup dalam dunia baru.

Alkitab mengajarkan kita bahwa dunia saat ini bukanlah rumah kita yang permanen.

Petrus memulai suratnya yang pertama dengan menyebut orang-orang Kristen sebagai “orang asing” dan pendatang di dunia ini.

Sekali lagi dalam 1 Petrus 2:11 ia menyebut orang-orang percaya dengan cara yang sama – sebagai “orang asing dan peziarah” di dunia.

Orang Kristen yang hidup di bumi ini tidak cocok untuk tinggal lama disini. Kita di sini untuk tujuan sementara–untuk memuliakan Tuhan–tetapi rumah kita yang sebenarnya ada di Surga.

Kabar baiknya adalah orang yang kita cintai ini sudah mengakhiri pengembaraannya di dunia ini. dia sementara tidur untuk menantikan realisasi janji dunia baru.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.”

Karena itu, mari kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ingat janji Yesus, yang dia ucapkan kepada kita semua dalam Yohanes 14:1-3.

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”

III. SATU LANGKAH DENGAN MAUT

“.. demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu, hanya satu langkah jaraknya antara aku dan maut.” 1 Samuel 20:3

Kita semua akan mati

Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.

Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu. Pengkotbah 3:19-20.

Tiada seorang pun berkuasa menahan angin dan tiada seorang pun berkuasa atas hari kematian. Tak ada istirahat dalam peperangan, dan kefasikan tidak melepaskan orang yang melakukannya. Pengkotbah 8:8

Kita tidak mengetahui kapan kita akan mati

Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba. Pengkotbah 9:12

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4:13-14

Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Lukas 4:20

Kematian adalah perpisahan

Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya. Ayub 7:9-10.

Mati dalam Kristus

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:4

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Yesaya 43:2

Persiapan yang kita perlukan

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23

Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 1 Korintus 15:56 alam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut. Amsal 14:26-27.

Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Ibrani 3:6

Perubahan Terakhir

Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku. Ayub 14:14

Ini adalah ungkapan Ayub yang sangat alami. Hidupnya sangat monoton pada saat dia mengucapkan kata-kata ini.

Dia sementara menghadapi pergumulan hidup: dukacita dan penyakit. Hari demi hari yang dia jalani selalu sama, ada kehadiran rasa sakit, celaan, dan godaan.

Hari-harinya seperti tidak ada yang berubah..semua masih nampak sama..kata berubah adalah injil kabar baik yang Ayub ingin dengar.

Mari ceriakan hati kita dengan merenungkan perubahan tertentu yang menanti kita semua.

Itu Perubahan yang tidak di inginkan

Bagi beberapa orang, kematian adalah hal yang sangat menakutkan. Tetapi Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari ketakutan akan kematian, juga dari semua ketakutan lainnya.

Kita harus ingat, bahwa Yesus telah mematikan sengat kematian. Karena itu kita tidak perlu takut dan kehilangan iman kepada-Nya.

“Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis:

“Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” 1 Korintus 15:54-55.

Itu akan menjadi perubahan yang besar

Kita akan meninggalkan semua yang ada di dunia ini, nama kita, keluarga, sahabat, harta, pekerjaan, dll. Kita berubah dari tubuh fana ini menjadi debu tanah.

Tetapi, pada waktu kebangkitan orang-orang benar, kita akan diubahkan, dari tubuh yang fana ke tubuh yang baka. Dari dunia lama ke dunia baru. Itu adalah perubahan besar.

Itu mungkin perubahan yang tiba-tiba atau mendadak

Kematian yang mendadak, dalam kasus orang-orang percaya, bisa menjadi tanda nikmat atau kebaikan Ilahi, sejauh yang kita dapat pahami. Artinya Tuhan tahu yang terbaik.

Mengerikan ketika seseorang yang kita kasihi tiba-tiba mati. Tidak sakit, tidak sedang dirawat, tetapi dalam keadaan dia masih baik-baik saja, tiba-tiba dia meninggal.

Dan terkadang kita tidak siap menerima keadaan seperti ini. tetapi perubahan yang tiba-tibat tidak dapat kita cegah.

Itu mungkin perubahan yang luput dari perhatian

Kita bisa mati sendirian tanpa ada yang melihat dan mengetahui. keluarga, gereja dan teman tidak tahu. Mungkin kita sedang di kota lain, atau dalam perjalanan, dll.

Tetapi meskipun sendirian di saat kematian, betapa indahnya kumpulan malaikat menyaksikan dan menyertai kita saat beristirahat.

Itu mungkin perubahan yang terakhir

Kita tidak pernah akan mengetahui apa-apa tentang “perubahan”; karena gagasan kita tentang perubahan terkait dengan perpisahan dan ketidakpastian yang menyakitkan.

Namun, sejauh yang kita tahu, bahwa Tuhan akan menyertai kita dalam setiap perubahan yang terjadi dalam hidup kita.

V. KETIDAK PASTIAN HIDUP

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” Markus 13:33

Terselubungnya masa depan adalah rahmat bagi sebagian besar dari kita. Tuhan tidak memberitahukan seperti apa hidup kita besok adalah supaya kita menjalani hari kita dengan gembira dan bergantung kepada Tuhan.

1. FAKTA BAHWA HIDUP TIDAK PASTI

Dua fakta yang mungkin menarik perhatian kita.

a. Kepastian kematian.

Kematian tidak bisa dihindari. Kita lahir untuk mati. Alam mengajarkan kita bahwa tujuan akhir kita akan tiba. Namun kita tidak tahu pasti kapan kita akan mati.

b. Dekatnya kematian.

Kita semua harus segera mati. Seberapa cepat itu yang kita tidak bisa mengatakannya. Ada yang masih anak-anak, muda dan hingga lansia.

Kita mungkin adalah orang yang memegang tanggung jawab dimasyarakat. Pekerjaan kita mungkin terpuji, kita orang baik, motif kita benar.

Tapi, ketika “waktunya” tiba, kita harus meninggalkan semuanya itu.

Ada orang yang hidup jauh dari Tuhan, hidup dalam kejahatan, memberontak kepada-Nya. Kitab Suci memberikan contoh tentang malapetaka yang tiba-tiba menimpa orang jahat.

Seperti zaman Nuh, orang-orang di kota Sodom dan Gomora, Korah, dan teman-temannya, mati tiba-tiba. Tidak kesempatan bagi mereka untuk bertobat.

Tapi orang jahat bukan satu-satunya yang bisa mati mendadak. Tidak ada tingkat moralitas, iman, atau kekudusan yang dapat melindungi kita dari kematian mendadak.

Karena itu, kita harus siap sedia setiap saat, dengan bertobat dan hidup benar selagi masih bernafas.

2. TUGAS DALAM KETIDAKPASTIAN HIDUP

Banyak yang lalai dan tidak siap untuk mati. Kelalaian ini muncul dari sifat menyerap kekayaan duniawi. Dan tidak berbuat apa-apa.

Ketidaktahuan. Kelalaian akan menyebabkan Anda kehilangan surga. Karena pada waktu kematian itu datang secara mendadak, kita tidak sempat bertobat, kita akan kehilangan hidup yang kekal. Walaupun keselamatan itu adalah hak preogratif Tuhan.

Karena itu berjaga-jagalah dalam doa. Hiduplah seolah-olah ini adalah hari terakhir kita untuk hidup.

Oleh sebab itu coba amati tiga hal ini:

1) Bangunlah hubungan yang erat dengan Yesus setiap hari. Karena semua persiapan untuk kekekalan ada di sana. Kristus adalah segalanya. Dia adalah jalan kehidupan. Kebangkitan dan hidup.

2) Biasakan bersekutu dengan Tuhan

Persekutuan dengan Allah terjadi Ketika kita hidup dalam pertobatan. Persekutuan membuat kita terhubung dengan Tuhan, dan membuka komunikasi antara kita dan Tuhan.

3) Hidup terus-menerus dalam Tuhan. Konsisten.

Hubungan dengan Tuhan bukan hanya pada waktu tertentu saja, tapi terus menerus tanpa terputus. Ktia harus hidup dalam kebenaran, aktif dalam tugas melayani Tuhan dan sesama.

Kita berutang kewajiban kepada Tuhan dan manusia. Iman Kristen harus dimulai dengan Tuhan; dari itu kemudian terus meluas ke masyarakat.

Inilah peringatan bagi mereka yang tidak berjaga-jaga atau berdoa.

Inilah teguran bagi kita yang suam-suam kuku dan murtad.

Inilah dorongan bagi orang percaya yang bersungguh-sungguh, berharap, dan memperhatikan.

Komentar
Bagikan:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan