5 Cara Menemukan Makna Hidup Menurut Pengkhotbah 2:1-26

Pengkotbah Mencari Makna Hidup

Baca: Pengkhotbah 2:1-26

“Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” Pkh 2:24-25.

Pelajaran kita sebelumnya mencatat bagaimana Pengkhotbah memulai pencariannya akan makna hidup

Pertama, dia mengamati kesia-siaan yang terlihat dalam siklus alam dan kehidupan – Pkh 1:4-11

Kedua, dia memulai dengan hikmat manusia – Pkh 1:12-18. Dan ternyata gagal dan semua sia-sia.

Karena itu kita perlu memulai dengan hikmat yang agung dari Tuhan, yang mana kita gunakan untuk mencari nilai kebijaksanaan manusia.

Kesimpulan tentang kebijaksaan manusia dalam mencari makna hidup disebut seperti menjaring angin- Pkh 1:17

Kebijaksanaan seperti itu adalah sumber dari banyak kesusahan dan kesedihan – Pkh 1:18.

Karena dipasal dua nanti disebutkan bahwa hikmat manusia dalam mencari makna hiduo dimulai dengan kegembiraan, kesenangan, anggur, kebodohan.

Pencariannya untuk menemukan makna hidup dimulai dengan hal yang bersifat duniawi seperti perolehan kekayaan dan pencapaian besar.

Apakah dia menemukan jawabannya di sana? Jika tidak, kesimpulan apa yang dia capai?

Dalam pelajaran ini kita akan mengijinkan Pengkhotbah untuk memberi tahu kita sendiri jawabanya.

Pertama-tama kita perhatikan caranya..

PENGKHOTBAH MENGUJI HIDUP

Kemudian dia meringkaskan apa yang dia temukan.

  1. Kegembiraan dan kesenangan adalah kesia-siaan. “Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia.” Pkh 2:1
  2. Tertawa adalah kebodohan, kegembiraan hanya menghasilkan sedikit kegunaan, itupun jika ada. “Tentang tertawa aku berkata: “Itu bodoh!”, dan mengenai kegirangan: “Apa gunanya?” Pkh 2:2 (Tertawa dan kegembiraan diluar Tuhan sia-sia.)

DIA MENJELASKAN APA YANG TELAH DIA LAKUKAN…

Dalam mencari makna hidup, dia mencoba dengan anggur dan kebodohan. “Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur… sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.” Pkh 2:3.

Jadi Salomo menggunakan kebijaksaannya sendiri, untuk menemukan apa yang benar-benar baik untuk dilakukan orang-orang “di bawah langit”

Dia melakukan banyak hal, seperti yang tertulis dalam Pkh 2:4-6 antara lain:

Seperti rumah, kebun anggur, kebun, kebun buah, kolam air. Perhatikan juga 1 Raj 7:1-12; 9:15-19.

Dia memperoleh apapun yang dia inginkan, seperti pelayan, ternak, perak, emas, harta, penyanyi, dan kesenangan anak-anak manusia, gundik..

“Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku.

Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik.” Pkh 2:7-8.

Dia menjadi orang hebat dan tampak bahagia – Pkh 2:9-10. Dia lebih besar dari sebelumnya, sambil mempertahankan kebijaksanaannya.

Dia memiliki semua harta dan semua yang diinginkan hatinya, dia menemukan kenikmatan dalam pekerjaannya.

Tetapi pada akhirnya dia katakan, semua sia-sia seperti menjaring angin..maka dia melakukan 5 hal:

1. REFLEKSI DIRI

Setelah semua yang telah lakukan dan capai, dia lalu mengadakan reflesi diri, dia melihat kembali apa yang dia lakukan dimasa lalu..

“Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.” Pkh 2:11

Dia menyimpulkan dua poin penting. Pertama: “Semuanya sia-sia, dan usaha menjaring angin.” Pkh 2:11b. Kedua: “Tidak ada keuntungan di bawah matahari.” – Pkh 2:11c.

Kesimpulan yang ditarik oleh Pengkhotbah mungkin tampak aneh, karena sebelumnya dia mengakui bahwa dia menemukan kegembiraan dalam segala jerih payahnya (Pkh 2:10).

Mengapa kesimpulan yang diberikan Pengkotbah seperti itu? Mari kita pelajari selanjutnya..

2. PENGKOTBAH TIDAK MENYUKAI HIDUP

Setelah dia merenungkan, dia temukan dirinya bijak sendiri, dia telah hidup dalam kegilaan dan kebodohan hidup. Inilah yang dia telah lihat:

  1. Dia mengevaluasi Hidupnya.

Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.Pkh 2:12

  1. Dia melihat bahwa hikmat lebih baik daripada kebodohan – Pkh 2:13-14a. Sama seperti cahaya lebih baik dari kegelapan. Setidaknya orang bijak bisa melihat kemana dia pergi.
  2. Namun pada akhirnya kelebihan hikmat manusia adalah kesia-siaan! – Pkh 2:14b-16

Karena orang bijak dan orang bodoh sama-sama mati. Setelah kematian, tidak ada lagi kenangan untuk mereka. Semua mereka akan dilupakan.

  1. Pengkhotbah membenci kehidupan, karena semua pekerjaan yang dilakukan dibawah matahari, sangat menyedihkan baginya. Semua sia-sia dan usaha menjaring angin.

“Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” – Pkh 2:17.

3. SETELAH MERENUNGKAN KEKAYAANNYA…

Dia mulai membenci segala usaha yang dilakukannya – Pkh 2:18-19. Karena semua itu akan ditinggalkan dan diserahkan kepada orang-orang sesudah dia.

Siapa yang tahu apakah mereka yang mewarisi akan menjadi bijaksana atau bodoh? Dan orang lain akan menguasai semua hasil kerjanya!

Karena itu. dia menjadi putus asa dari semua pekerjaannya “di bawah matahari” – Pkh 2:20-23

Ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Pada akhirnya semua usaha yang dia lakukan hanya akan dinikmati oleh orang yang tidak lelah untuk itu.

“Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?

Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia.” Pengkhotbah 2:22-23.

Pada akhirnya, apa yang dia miliki untuk semua usahanya? Yang dia dapatkan hanya hari-hari yang menyedihkan, malam-malam yang menggelisahkan.

Karena Pekerjaan yang menyedihkan, yang mengarah pada kesia-siaan.

Melihat kehidupan “di bawah matahari”, pengkotbah telah mencoba menemukan makna dalam hidup ini untuk semua jerih payah seseorang.

Hasilnya Pengkhotbah membenci hidup dan putus asa dari semua usahanya yang besar. Tetapi seperti yang dia katakan, “hikmatku tetap bersamaku” (Pkh2:9).

Maka dengan kebijaksanaan itu, dia membagikan untuk pertama kalinya apa yang harus dilakukan seseorang dalam hidup, supaya semua tidak berakhir sia-sia..?

4. SEKARANG PENGKOTBAH MENCINTAI HIDUP

Dia mengatakan bahwa manusia harus berusaha menikmati kebaikan dalam usahanya.

Tidak ada yang lebih baik, merupakan kesimpulan yang akan dia ambil enam kali – Pkh 2:24a; lihat Pkh 3:12-13,22; 5:18-19; 8:15; 9:7-9

Perhatikan dengan seksama:

A. Pengkhotbah tidak mempromosikan pandangan tentang menyerah saja pada nasib atau takdir, seperti filsafat orang Yunani, “Mari makan, minum, dan bergembira, karena besok kita mati.”

B. Dia mengatakan untuk menikmati apa yang kita telah lakukan dan nikmati apa yang telah Tuhan berikan kepada kita – lih. 1 Ti 6:17.

“Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” Pkh 2:24-25.

Jadi, semua harus dilakukan didalam Tuhan, maka hidup akan bermakna.

5. KEMAMPUAN UNTUK MENIKMATI USAHA/PEKERJAAN KITA ADALAH KARUNIA DARI TUHAN…

Dia melihat bahwa kemampuan untuk menikmati jerih payah seseorang adalah karunia dari Tuhan – Pkh 2:24b

Karena tidak seorang pun dapat benar-benar menikmati hidup tanpa Allah – Pkh 2:25

Bagi mereka yang hidup dalam Tuhan, Dia memberikan hikmat, pengetahuan, dan sukacita – Pkh 2:26a, “Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan,”

Tetapi bagi orang yang diluar Tuhan, mereka kerja mereka hanya mengumpulkan dan menimbum – Pkh 2:26b, “tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun..”

Padahal pada akhirnya semua itu akan diberikan kepada orang yang berkenan kepada Tuhan. Maka, bagi orang yang berdosa, pekerjaannya menjadi kesia-siaan dan usaha menjaring angin! – lihat Pkh 6:1-2

— Ya, banyak orang sangat berhasil mengumpulkan kekayaan, tetapi untuk tujuan apa?

KESIMPULAN

  1. Untuk pertama kalinya, Pengkhotbah memperkenalkan Tuhan dalam sebuah gambar
  2. Dia telah melihat kehidupan “di bawah matahari” tanpa Tuhan …Dia telah mencari makna hidup melalui kebijaksanaan, kebodohan, kegilaan, kesenangan dan kekayaan.

Tetapi setelah berhasil, realitas hidup bahwa semua orang akan mati dan itu menyebabkan dia membenci kehidupan.

Poinnya: Bahwa “di bawah matahari” dan diluar Tuhan, semuanya sia-sia dan usaha mengejar angin

  1. Tapi sekarang, dengan Tuhan memberikan hikmat dan pengetahuan dan sukacita kepada seseorang, mereka dapat menikmati kebaikan dalam pekerjaannya.

Maka, tujuan dan makna hidup hanya ditemukan di dalam Tuhan.

Live each day as it was your last

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.