
Teks: Matius 26:55-56
Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.
Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. Matius 26:55-56
TATAPAN tajam dan sinis orang-orang banyak itu kepada Yesus, seolah Dia penjahat besar. Padahal Yesus tidak punya catatan kriminal. Bahkan baru saja dia berbuat baik. Menyembuhkan Malkhus.
Dikantor polisi atau kantor keamanan negara, Yesus tidak pernah terindikasi melakukan tindak pidana kejahatan..
Kalau kita ikuti persidangan Yesus, tidak ada satu bukti yang dapat menjerat Dia dengan tindakan pelanggaran hukum sipil..
Tetapi musuh-musuh-Nya merekayasa sesuatu supaya terlihat memenuhi unsur pidana. Walau tetap tidak dapat dibuktikan..
Apa pun dapat dibuat-buat, orang benar tampak bersalah dan orang salah tampak benar, bila orang-orang yang memiliki otorias agama dan poliik bersatu mendisain suatu kejahatan secara terstrukur dan massif..
Ditambah lagi, ormas-ormas agama, partai politik, orang-orang kaya terlibat disana..
Maka pengerahan massa yang begitu besar dan waktu penangkapan tengah malam sudah didesain begitu rupa untuk mengesankan Yesus seperti penjahat..
Selain itu mereka ingin menghindari gerakan massa dari orang-orang yang pro kepada Yesus kalau dilakukan penangkapan di siang hari..
Itu sebabnya Yesus menjawab mereka,
“Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku?
Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.”
Licik memang siasat mereka. Disaat semua orang sedang tertidur. Mereka menangkap Yesus. Pada saat siang hari, Yesus mengajar di Bait Allah, mereka tidak berani. Mereka pengecut.
Pikiran mereka telah digelapkan oleh kebencian. Sehingga mereka kehilangan akal sehat. Walau mereka tahu Yesus tidak mempunyai salah, tetap saja mereka nekat.
Dan kenekatan mereka untuk terus menjalankan rencana jahat mereka, sekaligus untuk menggenapi rencana Allah..Itu sebabnya Yesus mengatakan,
“Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.”
Mendengar perkataan Yesus yang kembali diulang, membuat para murid sadar bahwa Yesus sekarang berada ditangan musuh..
Dia tidak akan melakukan tindakan apa pun untuk melawan dan meloloskan diri. Pada saat Yesus ditangkap, Yesus meminta supaya murid-murid-Nya dibiarkan pergi..
Para murid sebenarnya takut ditangkap. Karena boleh jadi mereka akan disangka sebagai kaki tangan Yesus. Oleh karena itu semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri.
Murid-murid yang “kurang beriman” tidak mempercayai Yesus untuk menyelamatkan mereka dan takut mengambil risiko menderita dan bahkan mungkin mati bersama-Nya.
Apa yang terjadi kepada para murid sangat manusiawi. Sebaiknya kita tidak menghakimi kelemahan iman mereka. Seperti para murid, kita pun terkadang bahkan seperti seperti itu..
Kita lari dan meninggalkan Yesus. Kita takut menghadapi resiko karena Yesus. Harga pemuridan memang mahal. Seperti para murid, kita juga mengalami cacat rohani.
Paling tidak ada empat hal yang membuat para murid gagal secara rohani menghadapi resiko.
Pertama, mereka tertidur. Tidak berdoa saat pergumulan besar Yesus terjadi, akibanya mereka tidak siap Ketika ujian datang.. Mereka terlalu percaya diri dan merasa tidak perlu berdoa.
Kedua, Kesebelas murid, khususnya Petrus, bereaksi berdasarkan emosi dan bukan berdasarkan wahyu Ilahi.
Mereka tidak melihat situasi ini dari sudut pandang kebenaran Tuhan yang sempurna, melainkan dari sudut pandang pemahaman mereka sendiri yang tidak sempurna dan menyimpang.
Oleh karena itu, alih-alih bertindak berdasarkan Firman Tuhan dan berdasarkan kuasa Roh-Nya yang dijanjikan, mereka bereaksi berdasarkan emosi dan kelemahan mereka sendiri.
Jadi orang yang tidak menggunakan Firman Allah sebagai senjata rohaninya akan kalah dalam peperangan rohani…
Akibanya, Pemikirannya didasarkan pada emosi saat itu, dan tindakannya didasarkan pada dorongan hati saat itu..
Ketiga, mereka tidak sabar. Mereka menjadi cemas dan tidak sabar ketika segala sesuatunya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka tidak sabar menunggu penyelamatan Tuhan dan akhirnya merancang rencana mereka sendiri.
Banyak orang Kristen mengambil jalan mudah dengan melarikan diri dari masalah daripada memercayai Tuhan untuk membantu mereka melewati masalah tersebut.
Keempat, mereka hidup dalam kedagingan. Para murid, yang dilambangkan oleh Petrus, bergantung sepenuhnya pada kekuatan kedagingan mereka sendiri untuk melindungi mereka.
Karena dia menolak memercayai jalan dan kuasa Tuhan, maka tidak ada yang Petrus bisa andalkan kecuali pedangnya..
Saat kita mengandalkan senjata duniawi kita, maka kita akan menemukan bahwa senjata tersebut tidak efektif. Akibatnya, kita akan melarikan diri dalam keputusasaan.
Pada akhirnya menjadi terang benderang. Satu murid mengkhianai Yesus. Sebelas murid melarikan diri meninggalkan Yesus sendirian..
Walau demikian, pekerjaan penebusan ilahi terus digenapi sesuai jadwal Tuhan, sesuai dengan kedaulatan dan rencana Allah yang dinubuatkan.
Rencana musuh berhasil mencapai tujuan mereka. Namun rencana Allah lebih berhasil lagi meskipun mereka juga berhasil.
Jadi baik Allah dan musuh-musuhnya sama-sama berhasil melaksanakan rencana mereka. Yesus berhasil mereka tangkap dan mereka bunuh..
Tetapi tujuan mereka tidak berarti apa-apa karena kematian Yesus bukan akhir cerita. Itu baru awal cerita selanjutnya.
Saat Yesus bangkit, rencana Allah berlanjut, sementara rencana mereka terhenti bahkan tenggelam..
Mari kita belajar dari kegagalan rohani para murid Yesus. Mari kita memahami rencana dan tujuan Allah dalam hidup kita..
Mari kita membangun hubungan yang erat dengan Yesus dalam doa untuk memenangkan peperangan rohani kita setiap saat.
