3 Tema Natal Dan Sekilas Asal Usulnya

Sebuah analogi sering digunakan, tidak tepat merayakan ulang tahun anda bukan pada tanggalnya.

Tetapi untuk sesuatu yang tanggal peristiwanya tidak diketahui, seperti waktu kelahiran Yesus, yang mana sudah ribuan tahun ditentukan sebagai hari natal, bolehkah tanggal itu dirayakan sebagai hari kelahiran-Nya?

Jika itu murni dari hasil penyelidikan alkitab yang dilakukan silahkan saja. Jangankan 25 desember, tanggal 1 januari pun kalau itu murni penyelidikan anda terhadap alkitab, tidak ada yang salah.

Tetapi jika itu di adopsi dari satu peristiwa yang tidak berdasarkan Alkitab, atau hasil dari sebuah kompromi dari sebuah ajaran lain supaya kelihatan sama dengan budaya atau tradisi luar, sebaiknya ini dipertimbangkan.

Asal Usul Natal 25 Desember

Menurut sejarahnya, adopsi tanggal 25 desember menjadi liturgi keagamaan Kristen adalah pengaruh dari ibadah penyembahan matahari. Adalah fakta yang diketahui bahwa pesta penyembahan berhala dies natalis Solis Invicti— hari ulang tahun Matahari yang Tak Terkalahkan, diadakan pada tanggal itu.1

Apakah sumber-sumber Kristen secara terbuka mengakui peminjaman tanggal perayaan kafir semacam itu? Secara umum tidak. Mengakui meminjam perayaan kafir, reinterpretasi maknanya, sama saja dengan pengkhianatan iman yang terbuka. Inilah yang para Bapa ingin hindari.

Komentar dari seorang penulis Suriah yang tidak dikenal yang menulis di Expositio di Evangelia dari Barsalibaeus sebagai berikut:

“Itu adalah upacara khidmat di antara para penyembah berhala untuk merayakan terbitnya matahari pada hari ini, Desember 25. Selain itu, untuk menambah keseriusan hari itu, mereka terbiasa menyalakan api, yang dalam ritus-ritus mereka terbiasa mengundang dan mengijinkan orang-orang Kristen. Oleh karena itu ketika para Guru memperhatikan bahwa orang-orang Kristen cenderung condong pada kebiasaan ini, mereka merancang sebuah dewan dan menetapkan pada hari ini perayaan Kebangkitan sejati ”2

Peringatan kelahiran dewa Matahari tidak mudah dilupakan oleh orang Kristen. Agustinus dan Leo Agung menegur dengan keras orang-orang Kristen yang pada saat Natal menyembah Matahari daripada kelahiran Kristus.3

Dalam disertasinya The Cult of Sol Invictus, Gaston H. Halsberghe juga menyimpulkan:

“Para penulis yang kami tanyakan mengenai hal ini sepakat dan mengakui pengaruh perayaan kafir untuk menghormati Deus Sol Invictus pada tanggal 25 Desember, Natalis Invicti, pada perayaan Kristen tentang Natal.

Pengaruh perayaan kekafiran ini dianggap bertanggung jawab atas pergeseran ke tanggal 25 Desember menjadi kelahiran Kristus, yang sampai saat itu diadakan pada hari Epifani, tanggal 6 Januari.

Perayaan kelahiran dewa Matahari, yang disertai dengan kelimpahan cahaya dan obor serta dekorasi dan pohon kecil, telah memikat para pengikut aliran sesat sedemikian rupa, bahkan setelah mereka menjadi Kristen, mereka terus merayakan pesta kelahiran dewa Matahari. ”4

Sebenarnya indikasi eksplisit pertama bahwa pada tanggal 25 Desember orang Kristen merayakan ulang tahun Kristus, ditemukan dalam dokumen Romawi yang dikenal sebagai Chronograph of 354 (kalender yang dikaitkan dengan Fuzious Dionysius Philocalus), di mana tertulis: “VIII Kal. Natus Christus di Betleem Yudaeae — Pada kalender ke delapan Januari [yaitu, 25 Desember] Yesus dilahirkan di Betlehem di Yudea. ”5

A History of Liturgy, menulis:

“Untuk memfasilitasi penerimaan iman oleh penyembah berhala masses, yang merasa nyaman untuk melembagakan tanggal 25 Desember sebagai perayaan kelahiran Kristus, untuk mengalihkan mereka dari pesta penyembahan berhala, dirayakan pada hari yang sama untuk menghormati Mithras “Invincible Sun”, sang penakluk kegelapan. ” 6

Namun, di Timur, kelahiran dan baptisan Yesus dirayakan masing-masing pada tanggal 5 dan 6 Januari. B. Botte, seorang sarjana Benediktin Belgia, dalam sebuah penelitian yang signifikan menyimpulkan bahwa tanggal ini juga berevolusi dari perayaan pagan yang semula, yaitu Epifani, yang memperingati kelahiran dan pertumbuhan cahaya.7

Adopsi tanggal 25 Desember untuk perayaan acara kelahiran Kristus tidak hanya dari pengaruh Sun-cult, tetapi juga dari peran yang diberikan oleh Gereja Roma dalam mempromosikan adopsi liburan kafir Dies Solis (Hari Matahari) dan Natalis Solis Invicti (hari ulang tahun Tak Terkalahkan matahari) yang diadakan pada tanggal 25 Desember, yang tujuannya untuk menjangkau orang-orang kafir pada masa itu.

Dengan demikian asal usul sejarah perayaan kelahiran Yesus 25 desember, bukan dari penyelidikan alkitab yang murni, tetapi adopsi dari perayaan kekafiran tempo dulu.

Saling menghargai

Kalau demikian apakah boleh merayakan ditanggal itu? Boleh atau tidak kembali kepada kita masing-masing. Sebab hati, motif dan maksud hanya anda dan Tuhan yang mengetahui. Saya tidak bisa menghakimi pilihan dan pendapat anda sehubungan perayaan natal 25 desember.

Banyak orang Kristen yang jujur dan mengetahui sejarah itu, mereka merasa tidak sedang merayakan kelahiran matahari, melainkan Kristus. Banyak yang merasakan natal membawa pertumbuhan iman mereka. Natal telah menghangatkan hubungan dalam keluarga mereka. Natal telah mempersatukan mereka yang sedang bertikai.

Bagi mereka yang tidak merayakan kelahiran Yesus seperti gereja pada umumnya dengan alasan itu bukan kelahiran Yesus, juga harus dihargai keyakinannya. Kita tidak boleh menghakimi mereka, dengan mengatakan, mereka tidak mengingat Yesus.

Tidak merayakan natal 25 desember tidak berarti tidak mengingat Yesus. Tidak berarti mereka bukan Kristen. Kekristenan tidak diukur dari perayaan-perayaan agama yang dilakukan, tetapi dari kehidupan Kristus yang diwujudkan lewat kehidupan setiap hari yaitu saling mengasihi.

Natal yang sesungguhnya

Anda menjadi Kristen sejati bukan diukur dari perayaan dan atribut lahiriah yang kita kenakan. Sudah berapa tahun anda merayakan kelahiran Yesus dan Kematian-Nya?

Jika dari tahun ke tahun tidak ada perobahan dalam hidup kita, dalam arti kita tidak lebih rohani, tidak lebih baik, tidak lebih dermawan, kita masih saja tukang fitnah, gossip, suka berkelahi, gampang tersinggung, tidak senang yang baik, pelit, tidak ramah, dll..tidak ada faedahnya anda merayakan natal setiap tahun.

Itu sebabnya, Natal bukan soal tanggal dan perayaan. Itu mengenai Yesus yang lahir dan hidup dihati kita setiap hari.

Galatia 2:20 mengatakan,

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Maka dengan melihat sudut pandang Alkitab mengenai kelahiran Yesus, itu dihubungkan dengan tiga tema utama:

(1) pemujaan dan penyembahan (Lukas 2: 8-12);

(2) Pemberian Persembahan kepada Allah (Mat 2: 1-11);

(3) Proklamasi perdamaian dan kebaikan (Lukas 2: 13-14).

Semoga perayaan kita akan kelahiran Kristus, kapan saja sepanjang tahun, memasukkan unsur-unsur penting ini: Beribadah, Memberi, dan Memuji.

Referensi:

  1. In the Philocalian calendar (A.D. 354) the 25th of December is
    designated as “N[atalis] Invicti—The birthday of the invincible one” (CIL I, part 2, p. 236); Julian the Apostate, a nephew of Constantine and a devotee of Mithra, says regarding this pagan festival: “Before the beginning of the year, at the end of the month which is called after Saturn [December], we celebrate in honor of Helios [the Sun] the most splendid games, and we dedicate the festival to the Invincible Sun. That festival may the ruling gods grant me to praise and to celebrate with sacrifice! And above all the others may Helios [the Sun] himself, the king of all, grant me this” (Julian, The Orations of Julian, Hymn to King Helios 155, LCL p. 429);
  2. J. S. Assemanus, Bibliotheca orientalis 2, 164, trans. by P. Cotton,
    From Sabbath to Sunday, 1933, pp. 144-145.
  3. Augustine, Sermo in Nativitate Domini 7, PL 38, 1007 and 1032,
    enjoins Christians to worship at Christmas not the sun but its Creator; Leo the Great rebukes those Christians who at Christmas celebrated the birth of the sun rather than that of Christ (Sermon 27, In Nativitate Domini, PL 54, 218).
  4. Gaston H. Halsberghe, The Cult of Sol Invictus, 1972, p. 174.
  5. T. Mommsen, Chronography of Philocalus of the Year 354, 1850, p. 631; L. Duchesne, Bulletin critique, 1890, p. 41, has established that the
    calendar goes back to 336, because the Depositio martyrum is preceded in the Philocalian by the Depositium episcoporum of Rome, which lists Sylvester (d. A.D. 335) as the last pope.
  6. Mario Righetti, Manuale di Storia Liturgica, 1955, II, p. 67.
  7. B. Botte, “Les Denominations du dimanche dans la tradition chré-
    tienne,” Le Dimanche, Lex Orandi 39, 1965, pp. 14ff.
Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.