3 Alasan Menyanyi Menurut Alkitab

Seri Prinsip Alkitab mengenai musik gereja

Alasan untuk menyanyi.

Musik rohani di dalam Alkitab adalah berpusat pada Tuhan (God-Centered), bukan berpusat pada diri (Self-centered).

Gagasan memuji Tuhan untuk pertunjukan atau hiburan itu sesuatu yang asing dalam alkitab.

Tidak ada “Baik orang Yahudi” atau “orang Kristen” mengadakan konser musik pada jaman Alkitab, dimana mereka tampil dengan band atau artis penyanyi di bait suci atau sinagog atau gereja gereja Kristen.

1. Memuji Tuhan

Musik rohani tidak dipahami sebagai tujuan akhir, tapi dimaksudkan untuk memuji Tuhan oleh melantunkan/menyanyikan firman-Nya.

Penemuan luar biasa baru-baru ini yang akan disebutkan kemudian, adalah bahwa seluruh Perjanjian Lama pada awalnya dimaksudkan untuk dinyanyikan (dinyanyikan).

Menyanyi di dalam Alkitab bukan untuk kesenangan pribadi atau untuk menjangkau orang asing dengan nada yang akrab dengan mereka,

Tetapi memuji Tuhan oleh menyanyikan Firman-Nya – metode ini kita kenal sebagai “Cantillation.

Kenikmatan menyanyi bukan berasal dari irama ritmik yang merangsang orang secara fisik, tetapi dari pengalaman memuji Tuhan.

Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah! (Mazmur 135:3);

Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. (Mazmur 147:1).

Bernyanyi bagi Tuhan, “Dia baik “ dan “menyenangkan,” hal itu menyanggupkan orang-orang percaya untuk mengungkapkan kepada Tuhan sukacita dan rasa syukur mereka atas berkat penciptaan-Nya, atas perlindungan-Nya, dan keselamatan.

2. Berterimakasih kepada Tuhan

Menyanyi dalam alkitab adalah mempersembahkan ucapan terimakasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya dan berkat-Nya.

Konsep ini diungkapkan secara khusus di Mazmur 69:30-31: “Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur.”

Pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah.

Gagasan bahwa bernyanyi memuji Tuhan lebih baik daripada berkorban, mengingatkan kita akan konsep serupa bahwa ketaatan lebih baik daripada pengorbanan (1 Sam 15:22).

3. Sarana karunia bagi orang percaya

Menyanyikan pujian untuk Tuhan dengan mengucapkan Firman-Nya, bukan hanya pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga sarana kasih karunia bagi orang percaya.

Melalui nyanyian orang-orang percaya yang dipersembahkan kepada Tuhan suatu ibadah pujian, yang mana menyanggupkan mereka menerima dari Tuhan karunia-Nya.

Cara atau sikap dalam menyanyi.

Untuk memenuhi fungsi yang dimaksudkan, nyanyian harus mengekspresikan kegembiraan, kegembiraan, dan ucapan syukur. “Nyanyikan bagi Tuhan dengan ucapan syukur” (Mz 147: 7).

Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel. Bibirku bersorak-sorai sementara menyanyikan mazmur bagi-Mu, juga jiwaku yang telah Kaubebaskan.

Mazmur 71:22-23

Perhatikan, nyanyian disertai dengan kecapi (sering disebut psaltery – Mazmurs 144: 9; 33: 2; 33: 3), dan tidak dengan instrumen perkusi.

Alasannya seperti yang tercantum dalam bab sebelumnya instrument string menyatu dengan suara manusia dan tidak menggantikannya.

Di banyak tempat, Alkitab menunjukkan bahwa nyanyian kita harus emosional dengan sukacita dan kegembiraan.

Kita diberitahu bahwa orang Lewi “menyanyikan pujian dengan sukacita, dan mereka membungkuk dan menyembah ”(2 Tawarik 29:30).

Bernyanyi harus dilakukan tidak hanya dengan kegembiraan, tetapi juga dengan sepenuh hati. “Aku akan bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku” (Mazmur 9: 1).

Jika kita mengikuti prinsip alkitab ini, maka nyanyian hymn atau nyanyian pujian kita di gereja, seharusnya menyenangkan dan antusias.

Untuk menyanyi dengan antusias, anugerah Allah perlu meresap pada hati orang percaya (Kol 3:16).

Tanpa cinta dan kasih kita kepada Tuhan, nyanyian kita hanya akan seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1 Korintus 13: 1), artinya tidak ada maknannya.

Orang yang mengalami kuasa anugrah Tuhan yang mengubahkan (Ef 4:24), akan dapat bersaksi bahwa Tuhan,” Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.” (Mazmur 40:3).

Musik dari hati yang tidak bertobat dan memberontak adalah suara yang menjengkelkan bagi Tuhan.

Karena ketidak taatan mereka, Tuhan mengatakan kepada anak Israel, “Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.” (Amos 5:23).

Pada masa kini pernyataan ini relevan untuk pengeras suara musik pop yang keras.

Apa yang berkenan kepada Tuhan bukan volume musik, tapi kondisi hati.

Sumber: THE CHRISTIAN and ROCK MUSIC: A STUDY ON BIBLICAL PRINCIPLES OF MUSIC. Editor Samuele Bacchiocchi

Baca materi sebelumnya: Pentingnya Musik Dalam Alkitab

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *