3 Alasan Mengapa Orang Kristen Berbohong

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4:25

Salah satu masalah moral terbesar yang kita semua perjuangkan adalah mengatakan kebenaran, seluruh kebenaran, dan hanya kebenaran.

Buku, The Day that America Told the Truth, menyatakan (hlm. 45) bahwa 91 persen dari kita sering berbohong (dikutip oleh Alistair Begg, “Cedarville Torch, Fall, 1994, p. 15). “

Dari orang yang diwawancarai, 92 persen mengatakan alasan utama mereka berbohong adalah untuk menyelamatkan muka, dan 98 persen mengatakan alasan mereka berbohong agar tidak menyinggung orang” (ibid.).

Survei lain terhadap 20.000 siswa sekolah menengah dan atas menunjukkan bahwa 92 persen mengaku berbohong kepada orang tua mereka pada tahun sebelumnya, dan 73 persen mengatakan bahwa mereka berbohong setiap minggu.

Meskipun mereka membuat pengakuan ini, namun 91 persen dari semua responden mengatakan mereka “puas dengan etika dan karakter saya sendiri” (Reader’s Digest [Nov., 1999], hlm. 81-82).

Hati nurani mereka tidak lagi peka terhadap dosa yang mereka lakukan!

Mengapa orang-orang beriman (dan orang-orang pada umumnya) mempraktekkan kebohongan, padahal mereka tahu itu berbahaya?

Paling sedikit ada 3 alasan mengapa orang-orang berbohong:

1. Kita berbohong untuk membuat diri kita terlihat lebih baik (sedikit melebih-lebihkan membuat cerita lebih baik).

2. Kita berbohong untuk melindungi diri kita dari konsekuensi (seringkali untuk menutupi kegagalan).

3. Kita berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan (seperti nilai bagus, promosi, atau tunjangan).

Alkitab menerangkan dan membuka siapa sumber kebohongan. Ia adalah Iblis.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8:44.

Ketika kita berbohong, menipu, atau melebih-lebihkan, kita meniru ayah lama kita, Setan.

Kebohongannya di Taman itulah yang menyebabkan kejatuhannya. Bahkan, sebagai penguasa dunia ini, ia membangun seluruh sistem dunia di atas kebohongan.

Sukses adalah ini, kecantikan adalah itu, pernikahan adalah ini, dll. Dunia dibangun di atas kebohongan.

Musuh berbohong untuk menarik orang lebih jauh dari Tuhan, dan lebih jauh dari rencana Tuhan bagi hidup mereka.

Ini persis apa yang Setan lakukan di Taman Eden untuk membawa Adam dan Hawa menjauh dari Tuhan, dan dia melakukan hal yang sama kepada orang-orang hari ini.

Ketika orang Kristen berbohong, mereka tidak hanya merusak gambar Allah, tetapi juga mendorong diri mereka sendiri dan orang lain menjauh dari Tuhan.

Ketika kita berbohong, menipu, dan menipu, kita membuka pintu bagi iblis untuk bekerja di dalam dan melalui kita.

Nasehat Untuk Berkata Benar

Paulus memberi nasehat untuk berkata benar…

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4:25.

“Jangan lagi kamu saling mendustai…” Kolose 3:9.

Dalam Imamat 19:11 dikatakan, “..Janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.”

Perikop di dalam Efesus 4 adalah panggilan Paulus untuk berjalan seperti Yesus.

Dalam Efesus 4:25 Paulus beralih dari prinsip-prinsip iman ke praktik iman. Dia mulai memberikan contoh spesifik tentang apa yang terjadi ketika kita menanggalkan sifat lama dan memakai sifat baru.

Karena itu buanglah..menunjukkan peralihan dari manusia lama ke manusia baru.

Ringkasnya, kata kerja ayat ini menandakan bahwa kita yang telah diselamatkan harus melakukan suatu tindakan (amalan mereka) yang sesuai dengan perubahan identitas (kedudukan mereka), dari orang lama (yang berlatih berbohong) menjadi orang baru yang dipanggil untuk berbicara kebenaran (dalam cinta).

Membuang Dusta

Kata buanglah (Yun Apotithemi) artinya kita sebagai manusia baru di dalam Kristus harus membuang, menanggalkan kebohongan dan kepalsuan.

Kita harus mengesampingkan setiap bentuk ketidakjujuran, termasuk menutupi kebenaran, melebih-lebihkan, kegagalan untuk menepati janji, pengkhianatan terhadap kepercayaan, dll. Tidak ada yang namanya “kebohongan putih kecil”

Dalam Khotbah di Bukit Yesus memanggil para pendengarnya ke standar tinggi. Dia menyatakan…

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37.

Yang paling berbahaya dari semua kepalsuan adalah kebenaran yang sedikit menyimpang. Setengah kebenaran adalah seluruh kebohongan.

Paulus menggunakan apotithemi dalam nasihatnya kepada orang-orang kudus di Roma, menulis bahwa “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Rm 13:12)

Kata dusta, dari kata Yun (pseudo dari pseudomai = berbohong) menggambarkan pernyataan yang tidak benar, pelanggaran yang disengaja terhadap kebenaran. Kebohongan. Penipuan.

Kebohongan adalah sesuatu yang dalam keadaan tidak benar. Pseudo adalah isi dari ucapan yang salah.

Pseudo adalah kepalsuan yang disengaja. Dalam arti luas, Pseudo adalah apa pun yang nampak tidak seperti aslinya.

Kamus Webster mengatakan kebohongan adalah menyatakan sesuatu yang oleh pembicara diyakini dan diketahui sebagai tidak benar dengan maksud untuk menipu. Ini adalah pernyataan palsu yang disengaja.

Kebohongan adalah setiap pernyataan atau tindakan yang dirancang untuk menipu orang lain.

Karena motivasi sebagian besar kebohongan adalah keinginan untuk menyakiti orang yang menjadi sasaran kebohongan atau untuk melindungi diri sendiri, biasanya karena takut atau harga diri.

The Evangelical Dictionary of Biblical Theology mengatakan, “Kesucian dari kebenaran adalah fundamental dalam pengajaran Alkitab karena didasarkan pada sifat dan karakter Tuhan.

Oleh karena itu, membenci kebenaran berarti menghina Tuhan, dan Kitab Suci memperlakukan topik ini dengan sangat serius.

Di taman Eden, ular menyangkal kebenaran Firman Allah dan ia mendorong Hawa untuk melakukan hal yang bertentangan dengan kebenaran ilahi (Kej 3:4)…

Karena itu, setiap kita berbohong itu merusak standar moral dan, oleh karena itu, sering dikaitkan dengan dosa yang lebih mencolok. ((Lie, Lying – Baker’s Evangelical Dictionary of Biblical Theology)

Di Alkitab PB, ada 10 ayat yang menggunakan kata Yunani dusta = Pseudos.

Yohanes 8:44

Roma 1:25

Efesus 4:25

2 Tesalonika 2:9, 11

1 Yoh 2:21, 27

Wahyu 14:5; 21:27; 22:15.

Apakah kata Alkitab tentang berbohong? Apakah itu dosa?

Alkitab sangat jelas mengatakan bahwa berbohong adalah dosa dan tidak menyenangkan Tuhan.

Dosa pertama di dunia adalah kebohongan yang diceritakan setan kepada Hawa. Karena itu Sepuluh Perintah yang diberikan kepada Musa meliputi: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16).

Di gereja mula-mula, Ananias dan Safira berbohong tentang sumbangan supaya mereka terlihat lebih murah hati daripada yang sebenarnya.

Teguran Petrus keras: “Ananias, mengapa Setan memenuhi hatimu untuk berbohong kepada Roh Kudus?” (Kisah 5:3).

Penghakiman Allah lebih keras: pasangan itu mati sebagai akibat dari dosa kebohongan mereka (Kisah Para Rasul 5:1-11).

Kita lihat bahwa berbohong adalah dosa. Perintah kesembilan melarang bersaksi dusta (Keluaran 20:16).

Amsal 6:16-19 menyebut kata “lidah dusta” dan “saksi dusta yang menyemburkan kebohongan” sebagai dua dari tujuh kekejian bagi Tuhan.

Alkitab banyak berbicara tentang kebohongan yang merusak, lihatlah Mazmur 119:29, 163; 120:2; Amsal 12:22; 13:5; Efesus 4:25; Kolose 3:9; dan Wahyu 21:8.

Di dalam Alkitab, kita juga dapat menemukan banyak contoh pendusta, misalnya tipu daya Yakub dalam Kejadian 27 hingga kepura-puraan Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5.

Dari waktu ke waktu, kita melihat bahwa kepalsuan menyebabkan kesengsaraan, kerugian, dan penghakiman.

Kebohongan Putih

Memang dalam Alkitab, kita dapat menemukan setidaknya 2 kebohongan yang menghasilkan hal yang menguntungkan atau positif.

Misalnya, kebohongan yang dikatakan bidan Ibrani kepada Firaun tampaknya menghasilkan berkat Tuhan atas mereka (Keluaran 1:15-21). Dan itu telah menyelamatkan nyawa banyak bayi Ibrani.

Contoh lain adalah kebohongan Rahab untuk melindungi mata-mata Israel dalam Yosua 2:5. Terlepas dari hasil “positif” dari kebohongan ini, Alkitab tidak memuji kebohongan itu sendiri.

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ada kasus di mana berbohong adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Kembali pertanyaannya adalah apakah pernah ada saat ketika berbohong adalah hal yang benar untuk dilakukan?

Untuk membantu menjawab saya akan ceritakan ilustrasi berikut ini:

Ilustrasi paling umum dari dilema ini berasal dari kehidupan Corrie ten Boom di Belanda yang diduduki Nazi.

Inti ceritanya begini: Corrie ten Boom menyembunyikan orang Yahudi di rumahnya untuk melindungi mereka dari Nazi. Tentara Nazi datang ke rumahnya dan bertanya apakah dia tahu di mana orang Yahudi bersembunyi.

Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya dan membiarkan Nazi menangkap orang-orang Yahudi yang dia coba lindungi itu? Atau, haruskah dia berbohong dan menyangkal bahwa dia tahu sesuatu tentang mereka?

Melihat contoh diatas, di mana berbohong mungkin satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan yang mengerikan, mungkin berbohong akan menjadi hal yang dapat diterima untuk dilakukan. Contoh seperti itu agak mirip dengan kebohongan bidan Ibrani dan Rahab.

Karena di dalam situasi dunia yang jahat saat ini, mungkin hal yang tepat untuk melakukan kejahatan yang lebih kecil, yaitu berbohong, untuk mencegah terjadinya kejahatan yang jauh lebih besar, Ketika dimana tidak ada lagi pilihan.

Namun, harus dicatat bahwa kasus seperti itu tentu sangat jarang terjadi.

Namun dari kasus-kasus diatas, kemudian hari orang-orang mulai membagi kebohongan kedalam beberapa kelompok, seperti kebohongan putih dan kebohongan hitam, kebohongan masyarakat, kebohongan bisnis, dan sebagainya.

Harus diingat, Firman Tuhan tidak mengenal pengelompokan kebohongan seperti itu. Kebohongan tetaplah kebohongan, tidak peduli dalam situasi apa kebohongan itu diucapkan, atau oleh siapa.

Saya pernah mendengar bahwa di Siam mereka menjahit mulut orang yang terbukti berbohong. Saya khawatir jika itu adalah kebiasaan di negeri ini, banyak yang akan dijahit mulutnya.

Karena itu orang tua harus memulai mengajar anak-anak mereka saat mereka masih muda dan mengajari mereka untuk selalu jujur setiap saat.

Ada pepatah: “Kebohongan tidak memiliki kaki.” Dibutuhkan kebohongan lain untuk mendukungnya. Katakan satu kebohongan dan Anda dipaksa untuk memberitahu orang lain untuk mendukungnya.

Tidak ada kebohongan

Diceritakan tentang seorang ayah pergi ke toko sepeda dengan anaknya untuk membeli sepeda.

Sementara dia berada di toko dan mondar mandir melihat sepeda-sepeda di toko itu, maka tanpa sengaja dia menabrak dan menjatuhkan ke lantai satu set TV yang ditaruh atas dudukan.

Saat ayah dan anak itu memperhatikan, manajer toko berkata, “Jangan khawatir. Kami tidak akan meminta Anda membayar TV itu.”

“Kami akan memberi tahu pabrikan bahwa TV itu rusak dalam pengiriman, dan dia akan memberi kami yang baru.” Kebohongan!

Mendengar itu, sang ayah, seorang yang jujur, meninggalkan toko itu dan tidak melakukan pembelian. Dia tidak ingin berbisnis dengan seorang pria yang berbohong.

Sangat sulit untuk tidak jatuh ke dalam pola kebohongan. Apa yang tidak kita sadari adalah bahwa untuk beberapa rupiah, kita telah menjual prinsip dasar Alkitab (Ep 4:25) dan mengkompromikan kesaksian kita tentang Kristus.

Standar Firman Tuhan itu tinggi. Kita tidak boleh menurunkannya demi keuntungan finansial atau karena kita takut bahwa itulah satu-satunya cara supaya bisnis kita dapat bertahan.

Aturan kita dalam bisnis dan dalam semua kehidupan harus: “Tidak Berbohong.”

Jadi, Katakan yang sebenarnya dan katakan dengan benar, Kebohongan tidak akan pernah berhasil; Alkitab mengatakan bahwa Tuhan adalah kebenaran— Dan Dia menginginkan kebenaran dari Anda. —JDB

Kemampuan untuk berbohong adalah perusak.

Karena itu, “..berkatalah benar seorang kepada yang lain..” Efesus 4:25. Paulus mengutip Zakaria 8:16,

“Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu.”

Pada waktu itu Tuhan mendesak kaum sisa Yahudi setelah pembuangan untuk tidak mengulangi dosa-dosa yang telah membuat mereka dibuang.

Sepanjang pasal 8, Zakharia mengulangi kalimat, “Beginilah firman Tuhan semesta alam.” Tuhan sedang memberitahukan, supaya mereka dapat tinggal dinegeri itu adalah mengatakan kebenaran.

Paulus mengambil peringatan Zakharia ini kepada orang-orang Kristen yang percaya.

Ketika Paulus mengatakan, “Berkatalah benar seorang kepada yang lain..” ini adalah kalimat perintah, dimana dia menyerukan agar kita membiasakan berbicara kebenaran.

Maka, Cara terbaik untuk membunuh kebohongan adalah dengan mengatakan yang sebenarnya.

Orang Kristen harus mengatakan seluruh kebenaran, tanpa distorsi, pengurangan, atau berlebihan. Tidak ada janji yang harus dipalsukan

Bagaimana seharusnya orang percaya berbicara kebenaran kepada sesama mereka?

Ketika Paulus mengacu pada berbicara jujur, dia tidak hanya bermaksud berhenti berbohong, dia juga bermaksud banyak hal lain:

1. Orang percaya berbicara kebenaran dengan mengucapkan Firman Tuhan.

Dalam Yohanes 17:17, “Kuduskanlah mereka dengan kebenaran-Mu, firman-Mu adalah kebenaran.” Sebagai orang percaya, kita harus saling menyampaikan Firman Tuhan.

2. Orang percaya berbicara kebenaran dengan mengungkap kebohongan.

Ketika orang lain berbohong, kita tidak boleh berdiam diri. Tidak! Berbicara kebenaran termasuk mengungkap kebohongan, seperti yang Paulus katakan dalam Efesus 5:11:

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

3. Orang percaya berbicara kebenaran dengan menantang orang-orang dalam dosa.

Kebohongan umum yang disebarkan di dunia adalah sopan, dan karena itu lebih baik, tidak jujur jika kebenaran akan mengecewakan seseorang atau membuat mereka marah.

Alkitab mengajarkan sebaliknya. Amsal 27:6 mengatakan, ” Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”

Salah satu cara kita berbicara jujur adalah dengan penuh kasih menantang orang-orang yang berdosa atau yang sedang murtad dari Tuhan. Inilah yang dilakukan teman atau tetangga sejati.

Kalau begitu, Mengapa begitu penting untuk mengatakan yang sebenarnya?

Karena kita adalah anggota satu sama lain. Pada waktu kita tidak berbicara kebenaran satu sama lain, kita sedang merusak persekutuan kita.

Misalnya, apa yang akan terjadi jika otak Anda memberi tahu Anda bahwa dingin itu panas dan panas itu dingin? Kemudian, Saat Anda mandi, Anda akan mati kedinginan atau melepuh!

Jika mata Anda memutuskan untuk mengirim sinyal palsu ke otak Anda, tikungan berbahaya di jalan raya mungkin tampak lurus dan Anda akan menabrak.

Kita sangat bergantung pada kejujuran sistem saraf kita dan setiap organ dalam tubuh kita. Tubuh Kristus tidak dapat berfungsi tanpa kesesuaian.

Kita tidak dapat menutupi kebenaran kepada orang lain lalu mengharapkan gereja berfungsi dengan baik.

Bagaimana kita bisa saling melayani, saling menanggung beban, saling peduli, saling mengasihi, saling membangun, saling mengajar, dan saling mendoakan jika kita tidak berkata benar? Jadi jujurlah, “Berbicara kebenaran dalam kasih”

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

Seorang pelatih sepak bola perguruan tinggi mengundurkan diri setelah mengakui bahwa dia memalsukan lisensi akademiknya. Seorang perwira militer mengakui mengenakan lencana tempur yang tidak diperolehnya.

Dalam diri kita masing-masing ada kecenderungan untuk membumbui kebenaran untuk mengesankan orang lain.

Baik dalam CV kita atau dalam percakapan biasa, melebih-lebihkan cerita. Kebohongan kecil biasanya akan tumbuh lebih besar.

Alkitab berkata, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru ….” Kolose 3:9-10.

Tuhan, tolong aku untuk menyenangkan-Mu dengan mengatakan yang sebenarnya, Jujur dalam perkataan dan perbuatan..

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.