2. Tugu peringatan kasih karunia (Yosua 3)
Teks: Yosua 3, Bilangan 14:44, Lukas 18:18-27, Yosua 4, Yohanes 14:26, Ibrani 4:8-11
Pendahuluan
Shalom, kita tiba pada pelajaran ketiga seri kitab Yosua, dengan tema “Tugu peringatan kasih karunia..”
Fokus di Yosua 3 dan 4. Bercerita tentang bangsa Israel menyeberang sungai Yordan dibawah pimpinan Yosua. Secara spesifik fokus pada arti dan makna tugu peringatan yang mereka dirikan.
Kita akan mulai dengan sebuah cerita pendek, tentang seorang wanita tua yang meminta suaminya untuk mengambilkan es krim.
Agar tidak lupa dia meminta suaminya untuk menulis pesanannya.
Namun suaminya berkata, ‘Saya tidak perlu menuliskannya karena saya tidak akan melupakannya.
Wanita tua itu memesan es krim rasa vanila dengan sirup cokelat, dengan ceri di atasnya dan segelas besar susu.
Namun apa yang terjadi? Saat suaminya kembali, dia membawa ditangannya sepiring bubur jagung, bacon, dan telur orak-arik.
Cerita lainnya tentang seorang bernama John. Saat berkendara ia diminta polisi menepi untuk diperiksa SIM nya.
Saat dia merogoh kantong celananya, dia baru sadar kalau dompetnya tertinggal. Dia lupa membawanya.
Dia menjelaskan bagaimana dompetnya sampai tertinggal. Polisi menanyakan apa pekerjaannya. John menerangkan bahwa dia seorang professor.
Lalu polisi memberi surat tilang dan berpesan agar surat tilang itu tidak dianggap sebagai denda, namun seperti uang kuliah, yang selalu ingat kapan harus dibayar.
“Ini biaya kuliahmu supaya kamu bisa belajar supaya nggak lupa SIM-mu saat mengemudi. Semoga harimu menyenangkan, Profesor!” kata Polisi.
Sebagai manusia, kita cenderung melupakan hal-hal yang tidak selalu kita lihat. Seperti kita lupa menjawab panggilan telepon, membalas email, menyiram tanaman, mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, dan sebagainya. Daftarnya bisa terus bertambah.
Namun, melupakan kebutuhan rohani kita dapat berakibat fatal daripada sekadar denda, karena ini menyangkut hidup kekal kita.
Mingggu ini, mari kita pelajari penyeberangan Sungai Yordan oleh orang Ibrani dan lihat apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman mereka.
I. Menyeberangi Sungai Yordan (Yosua 3:1-5 dan Bilangan 14:41-44).
Pada bagian ini diterangkan bagaimana Yosua dan orang Israel akan menyeberangi sungai Yordan. Kisah penyeberangan dicatat di pasal 3-5.
Pasal 3:1-5, sebagai pengantar dan informasi sebelum menyeberang. Apa yang kita lihat diayat tersebut?
Kita melihat, Yosua bangun pagi-pagi. Lalu bersama semua orang Israel mereka berangkat dari Sitim.
Kemungkinan pergerakan ini dimulai setelah mata-mata kembali dengan laporan yang menggembirakan.
Jarak tempuh dari Sitim ke Sungai Yordan sekiar 7 mil. Saat mereka tiba disana, sungai itu sedang meluap. Akhirnya mereka berkemah disana.
Saat itu musim semi, air yang turun dari Gunung Hermon dan hujan akhir membuat debit air meningkat, akibatnya sungai itu meluap dengan arus yang sangat deras!
Selama tiga hari mereka melihat sungai ini belum surut. Tidak tahu bagaimana cara menyeberanginya.
Maka tiga hari perkemahan itu digunakan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan rohani.
Setelah itu komandan regu mengadakan inspeksi. Perintahnya jelas, ketika mereka melihat tabut perjanjian TUHAN diangkat oleh para imam, maka mereka harus berangkat mengikutinya..
Ini bagian yang menarik. Untuk pertama kalinya tabut perjanjian disebutkan dalam kitab Yosua.
Dibeberapan peristiwa tabut perjanjian disebutkan: Dalam konteks tempat kudus ( Kel. 40:21 ), dalam perjalanan Israel dari Sinai ( Bil. 10:33-36 ) dan pada upaya yang gagal untuk memulai penaklukan Kanaan ( Bil. 14:44 ).
Tabut adalah benda paling suci di bait suci. Ada tiga benda didalamnya, masing-masing mengungkapkan hubungan khusus Israel dengan Tuhan:
(1) loh yang berisi Sepuluh Perintah; (2) tongkat Harun, imam besar; dan (3) buli-buli manna ( Kel. 16:33 , Ibr. 9:4 ).
Apa pentingnya tabut perjanjian dalam penyeberangan ini? Tabut Perjanjian melambangkan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka.
Menunjukkan bahwa bukan pasukan militer yang akan memimpin jalan, melainkan TUHAN,
Dan ketika berjalan, mereka harus menjaga jarak dua ribu hasta. Ini bukan agar mereka tidak salah jalan. Tetapi agar mereka tidak kehilangan pandangan terhadap Tuhan.
Mereka akan tahu kemana mereka akan pergi dengan memusatkan pandangan mereka pada Tabut Perjanjian.
Kita juga demikian, agar mengetahui jalan yang harus kita tempuh, kita harus memusatkan pandangan kita kepada Yesus (Ibr 12:2).
Jadi, makna sebenarnya dari Tabut Perjanjian terletak pada apa yang terjadi di balik tutup peti itu, yang dikenal sebagai “Tutup Pendamaian”.
Istilah ‘tutup pendamaian’ berasal dari kata Ibrani yang berarti “menutupi, menenangkan, menyucikan, membatalkan, atau membuat pendamaian.”
Di sinilah imam besar, sekali setahun (Imamat 16 ), memasuki Ruang Mahakudus, tempat Tabut disimpan dan menebus dosa-dosanya dan dosa-dosa bangsa Israel.
Imam memercikkan darah hewan kurban ke tutup pendamaian untuk meredakan murka dan amarah Allah atas dosa-dosa masa lalu yang telah dilakukan.
Inilah satu-satunya tempat di dunia di mana pendamaian ini dapat terjadi.
Tutup pendamaian pada Tabut Perjanjian merupakan gambaran simbolis dari pengorbanan tertinggi untuk semua dosa—darah Kristus yang ditumpahkan di kayu salib untuk pengampunan dosa.
Rasul Paulus, memahami konsep ini ketika ia menulis tentang Kristus sebagai penutup dosa kita dalam Roma 3:24-25 :
“..dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”
Sebagaimana hanya ada satu tempat untuk penebusan dosa di Perjanjian Lama—Tutup Pendamaian Tabut Perjanjian—demikian pula hanya ada satu tempat untuk penebusan dosa di Perjanjian Baru dan zaman sekarang—salib Yesus Kristus.
Sebagai orang Kristen, kita tidak lagi memandang Tabut Perjanjian, melainkan kepada Tuhan Yesus sendiri sebagai pendamaian dan penebusan dosa-dosa kita.
Kemudian Yosua berkata kepada bangsa itu, “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (5)
Istilah yang diterjemahkan “menguduskan” (Yosua 3:5) mengacu kepada proses pemurnian yang mirip dengan apa yang diikuti oleh para imam sebelum memulai pelayanan mereka di tempat kudus (Kel. 28:41, Kel. 29:1) dan apa yang dilakukan oleh orang Israel sebelum wahyu Allah di Sinai (Kel. 19:10, 14).
Pengudusan ini melibatkan penyingkiran dosa dan penghapusan semua ketidakmurnian ritual.
Agaknya, Israel juga akan berpantang hubungan seksual dan mengenakan pakaian bersih keesokan harinya (Kel. 19:10).
Persyaratan kesucian ritual menandakan bahwa penyeberangan sungai ini adalah ritual keagamaan yang khidmat, bukan invasi militer biasa.
Untuk kemenangan rohani, kita harus rela memisahkan diri dari segala sesuatu yang mungkin menajiskan kita, agar kita dapat dipisahkan bagi tujuan Allah dalam hidup kita.
Manifestasi khusus kehadiran Allah hendaknya dinantikan oleh umat-Nya dalam sikap merendahkan diri yang mendalam, bertobat, dan berdoa, serta dengan usaha tekun untuk ‘membersihkan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohani.’
II. Dewa Keajaiban yang Hidup (Yosua 3:6-17)
Salah satu alasan Yosua mengapa mereka perlu menguduskan diri, karena besoknya, Tuhan akan membuat keajaiban.
Kata perbuatan ajaib dari kata ibrani pala artinya luar biasa atau menakjubkan, melampaui atau menyebabkan hal yang luar biasa terjadi.
Pala merujuk kepada tindakan yang dilakukan oleh Yahweh yang berada di luar batas kekuatan atau harapan manusia, khususnya pembebasan-Nya atas Israel ( Kel 3:20 , Mzm 106:22 , 136:4 ).
Setelah perintah Yosua untuk menguduskan diri dilaksanakan, kemudian besoknya, Yosua memberi perintah kepada Para Imam untuk mengangkat tabut perjanjian.
“Angkatlah tabut perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu.” Maka mereka mengangkat tabut perjanjian dan berjalan di depan bangsa itu. (6)
Sebagaimana yang sudah kita lihat, bahwa tabut perjanjian lambang kehadiran Allah. Dia lah yang akan menuntun jalan mereka. Itu sebabnya posisinya di depan.
Para imam hanya bertugas mengangkat. Bukan penuntun. Tabut berada pada posisi paling depan, artinya Allah memimpin jalan mereka.
Tuhan berbicara kepada Yosua bahwa pada momen ini nama Yosua akan dibesarkan diantara bangsa itu, tujuannya agar mereka tahu Tuhan tidak berubah dari jaman Musa hingga Yosua..
Sehingga mereka menghormatinya, sama seperti mereka menghormati Musa seumur hidupnya. Lalu Tuhan, melalui Yosua, meminta para imam untuk berdiri ditepi sungai saat mereka tiba disana.
Selanjutnya di ayat 10, Yesua membuat pernyataan Tuhan akan menghalau orang-orang Kanaan dan bangsa lain dari mereka.
Singkatnya setelah kaki para imam pembawa tabut menginjak sungai Yordan, terjadi keajaiban. “..maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan..” (baca ayat 13-17)
Lalu bangsa itu menyeberang ditanah yang kering, seperti ketika menyeberangi laut merah. Mereka berhasil.
Jadi kita lihat, makna penting dari tabut perjanjian adalah untuk berhasil, Allah harus memimpin dan yang harus diikuti.
Tabut melambangkan kedaulatan, kuasa, atau pemerintahan Allah. Kuasa Allah yang memimpin penyeberangan dibawah Yosua, sama seperti dia memimpin penyeberangan laut merah dibawah Musa.
Tabut melambangkan kekudusan Allah. Di dalam tabut terdapat dua loh batu berisi hukum Taurat yang telah diberikan kepada Musa di Gunung Sinai.
Tabut itu merupakan tempat penyimpanan ekspresi tertulis tentang karakter moral Allah. Tabut itu menjadi pengingat terus-menerus bahwa Allah itu kudus.
Bahwa pelanggaran terhadap hukum-Nya merupakan penghinaan kepada karakter-Nya dan pemberontakan terhadap pemerintahan-Nya yang sah.
Tabut juga melambangkan keadilan Allah. Ketika Harun dan Miryam menentang otoritas Musa, ketiganya dipanggil ke hadapan Kemah Pertemuan, yang berisi tabut perjanjian, dan Miryam diadili di sana [Bil. 12:1–15].)
Tabut perjanjian merupakan gambaran penghakiman Allah. Di dalamnya terdapat hukum Taurat, yang telah dilanggar oleh bangsa Israel.
Di atas, di antara sayap-sayap kerubim, terdapat kehadiran Allah yang maha suci. Saat Allah memandang ke bawah, Ia melihat hukum Taurat yang telah dilanggar.
Dengan demikian, tabut perjanjian merupakan pengingat yang terus-menerus akan perlunya Hakim seluruh bumi untuk melakukan yang benar. Penghakiman harus mengikuti dosa.
Tetapi bukan hanya itu yang dilambangkan oleh tabut perjanjian. Jika hanya itu saja, itu akan menjadi gambaran yang sungguh mengerikan.
Tabut perjanjian juga melambangkan belas kasihan Allah. Penutup tabut perjanjian disebut “tutup pendamaian” karena di sanalah setahun sekali, pada Hari Raya Pendamaian, imam besar memercikkan darah yang telah ditumpahkan beberapa saat sebelumnya untuk dosa umat.
Dosa umat diakui di atas kepala binatang itu, binatang itu disembelih menggantikan umat yang dosanya mendatangkan kematian (“upah dosa adalah maut” [Rm. 6:23]),
Dan kemudian darahnya dibawa ke bagian paling kudus dari Kemah Suci dan dipercikkan pada tutup pendamaian di antara hadirat Allah yang kudus dan hukum yang telah dilanggar umat.
Dengan cara itu, Tabut bersaksi tentang prinsip penebusan dosa pengganti, bahwa korban yang tidak bersalah mati bagi mereka yang bersalah.
Prinsip itu dapat ditelusuri kembali ke Taman Eden, ketika Allah sendiri membunuh binatang untuk Adam dan Hawa dan mengenakan kepada mereka kulit binatang.
Puncaknya adalah kematian Yesus Kristus di Kalvari.
Dengan demikian, tabut menunjuk pada karakter Allah yang tidak berubah. Tabut mengajarkan bahwa Allah selalu sama dalam kedaulatan-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, belas kasihan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang lain.
Melalui tabut perjanjian kita mengenal siap Tuhan yang kita sembah. Dia berbeda dengan allah lain, yang disembah orang Kanaan dan bangsa disekitarnya.
Allah Israel Superior. Allah bangsa lain inferior.
Apa yang diungkapkan oleh penyeberangan Sungai Yordan yang ajaib tentang sifat Allah yang kita sembah?
Tuhan itu ajaib (Maz 72:18; Kel 3:20; Mikha 7:15)
Tuhan itu besar (Maz 86:10; Yer 32:17)
Bagaimana tuhan bangsa lain?
Hampa atau mati (Maz 96:5)
Sia-sia (Yes 44:8-18)
Allah dalam Alkitab adalah “Allah yang hidup,” aktif dan hidup, yang para pengikutnya dapat percaya kepada-Nya.
Sungguh menenteramkan bagi seorang Kristen untuk mengetahui bahwa Allah menyertainya ketika mereka melewati wilayah baru—penyakit, rasa sakit, duka cita, kegagalan, kesulitan keuangan, kesalahpahaman, pertentangan.
Di saat-saat seperti ini, orang percaya mungkin mendengar suara Tuhan berkata, “Tenanglah! Jangan takut!”
III. Ingat (Yosua 4)
Penyeberangan sungai Yordan sukses luar biasa. Bukan karena Yosua. Tetapi karena Tuhan. kemudian di Yosua 4:1, penulis memberi informasi penyeberangan telah diselesaikan.
Sekarang mereka telah berada di tanah perjanjian. Tapi itu baru tepiannya. Perjuangan mereka masih panjang.
Tuhan memberi perintah kepada Yosua. Memilih 12 orang. Satu orang setiap suku. Tugas mereka adalah mengangkat 12 batu dari tengah-tengah sungai Yordan. Dari tempat berjejak kaki para imam.
Batu itu akan ditempatkan ditempat mereka berkemah.
Perintah Tuhan itu dia lakukan. Ia memanggil 12 orang yang sudah ditetapkan dari setiap suku. Mereka dikumpulkan.
Perintah Yosua kepada mereka agar pergi menyeberang didepan tabut perjanjian ketengah-tengah sungai Yordan.
Dan masing-masing harus mengangkat sebuah batu diatas bahu mereka, yang nanti jumlahnya 12 batu sesuai jumlah suku Israel.
Setiap batu akan ditempatkan ditengah-tengah perkemahan. Untuk apa? Sebagai tanda peringatan. Untuk siapa? Generasi Israel selanjutnya.
Batu itu akan bercerita kepada mereka tentang sungai Yordan yang terputus didepan tabut perjanjian saat tabut itu menyeberangai sungai, sehingga mereka dapat berjalan ditanah yang kering dasar sungai itu menuju tanah perjanjian.
Jadi batu itu akan menjadi tanda peringatan untuk selama-lamanya. (Yos 4:1-7). Mengapa mereka perlu tanda peringatan? Ada dua alasan utama:
Supaya tidak melupakan sejarah
Agar mereka (Generasi saat itu, yang akan datang, dan bangsa-bangsa) selalu ingat peristiwa sejarah dimasa lalu.
Karena cenderungan manusia melupakan kebaikan dan perbuatan Allah yang dahsyat bagi mereka dimasa lalu.
Generasi pertama yang memasuki negeri itu membutuhkan tugu peringatan, sebab dalam perjalanan, mereka akan menemui banyak kesulitan dan akan ada saat-saat mereka putus asa.
Nah, dengan melihat batu itu secara teratur di Gilgal, mereka akan diingatkan akan kuasa dan kesetiaan Allah yang agung yang menyertai mereka, memimpin mereka dalam penaklukan.
Selanjutnya generasi-generasi mendatang, kedua, ketiga, dst, akan membutuhkan peringatan ini, karena anak-anak mudah melupakan iman dan ajaran orang tua mereka (4: 5-6; 21-23).
Terakhir, bangsa-bangsa di bumi membutuhkan tugu peringatan ini sebagai kesaksian akan keberadaan dan hakikat Allah yang esa dan benar (ayat 24).
Jadi poinnya, selain untuk Israel, batu-batu itu dimaksudkan untuk memberi tahu bangsa-bangsa lain bahwa Allah Israel itu berbeda.
Dia benar-benar ada. Dia adalah Allah yang hidup, Allah yang Maha Kuasa.
Dan tanda peringatan serupa telah banyak diberikan kepada mereka.
Misalnya di Ulangan 16:16, dimana mengharuskan semua pria Israel bertemu di bait suci di tiga kali setiap tahun—pada Hari Raya Roti Tidak Beragi tahunan (yaitu, Paskah), Minggu-minggu (atau Pentakosta), dan Pondok Daun (lih. Kel. 34:23; 2 Taw. 8:13).
Setiap perayaan mengingat beberapa peristiwa penting di masa lalu Israel, suatu peristiwa yang mendasar bagi identitas nasional mereka.
Perayaan tahunan seperti itu melayani tiga tujuan: (1) Mereka memastikan bahwa Israel mengingat sejarah dasar;
(2) mereka mengingatkan Israel akan identitas dan kedaulatan Allah mereka yang unik; dan
(3) mereka menegaskan kembali jenis perilaku yang menyenangkan Yahweh dan melalui perilaku tersebut mereka harus menjalani identitas perjanjian mereka yang unik.
Supaya semua orang takut akan Allah.
Yosua menekankan tujuan dari dua belas batu bagi Israel—untuk menumbuhkan rasa takut akan Allah di Israel (4:24b).
Takut akan Allah adalah salah satu harapan dasar Allah bagi Israel (Ulangan 10:12, 20; 1 Samuel 12:24; Ams. 24:21), dan Petrus juga memerintahkan orang Kristen untuk “takut akan Allah” (1 Petrus 2:17)
Takut akan Allah mengharuskan seseorang untuk hanya melayani-Nya (1 Sam. 12:24). Takut akan Allah, mengakui bahwa TUHAN, adalah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan (Ulangan 10:17-18).
Artinya adalah menyingkirkan allah-allah lain, mengabdikan diri sepenuhnya kepada Yahweh (Yosua 24:14; Hak. 6:10), dan untuk menegaskan, bahwa “kasih setia Yahweh untuk selama-lamanya” (Mazmur 118:4).
Singkatnya, kita menunjukkan bahwa kita takut akan Allah dengan melakukan hal-hal tertentu karena kita tahu bahwa hal-hal itu menyenangkan Dia.
Jadi poinnya, Tugu peringatan yang mereka dirikan, agar mereka tidak melupakan Tuhan.
Kita juga perlu membuat tugu peringatan dalam hidup kita sendiri, agar kita selalu ingat Tuhan.
IV. Kelupaan (Yosua 4:20-24)
Saya lega mengetahui bahwa saya bukan satu-satunya yang mudah lupa. Semua orang pernah mengalaminya, menurut Karen Bolla, seorang peneliti di Johns Hopkins. Berikut hal-hal yang paling sering dilupakan orang:
Nama 83%. 2. dimana sesuatu berada 60%. 3. nomor telepon 57%. 4. kata-kata 53%. 5. apa yang dikatakan 49%. 6. wajah 42%
Dan jika Anda tidak dapat mengingat, Anda tidak sendirian.
Kelupaan adalah kondisi tidak mampu mengingat atau hilangnya ingatan tentang sesuatu yang pernah terjadi, dilihat, atau dipelajari, baik itu sementara atau permanen.
Istilah ini juga bisa merujuk pada kelalaian atau ketidakacuhan terhadap suatu hal.
Nah, kembali tugu peringatan yang mereka dirikan adalah untuk mengingat Tuhan. Tidak melupakan atau melalaikan perbuatan ajaib Tuhan bagi mereka.
Ini merupakan tugu peringatan kedua bagi mereka..
Generasi sebelum penyeberangan sungai Yordan, mempunyai paskah sebagai tanda peringatan keluarnya mereka dari Mesir dengan menyeberang laut merah.
Generasi itu telah mati semua. Tinggal Yosua dan Kaleb. Generasi yang sekarang hanya mendengar cerita tentang peristiwa tersebut.
Peringatan penyeberangan laut merah akan disandingkan dengan penyeberangan sungai Yordan. Dari segi waktu penyeberangan berdekatan.
Penyeberangan sungai Yordan terjadi pada hari ke 10 bulan pertama. Itu masuk hari persiapan paskah (Kel 12:3).
Yang nanti mereka akan rayakan pada hari ke 14 di Gilgal tempat tugu peringatan didirikan (Yos 5:10).
Gilgal adalah basis operasi mereka saat itu (5:9–10; 9:6; 10:6–9, 15, 43; 14:6), kemudian dipindahkan ke Silo (18:1), agar dekat dengan target pertama mereka. Yeriko.
Catatan pertama tentang tugu peringatan (4:1–9) mencatat nilainya bagi generasi sekarang dan mendatang. Catatan ini hanya berfokus pada nilainya bagi generasi mendatang.
Diayat ini hanya berbicara tentang tabut perjanjian dan air yang tertahan
Catata kedua tentang tugu peringatan (4:21-23) mencatat tentang tanah kering dan tindakan Allah mengeringkan air. Jadi, penekanannya pada tanah kering:
“..maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! –sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang..” (22-23).
Ayat-ayat tersebut juga secara implisit merujuk ke Laut Merah melalui penggunaan “tanah kering” yang juga muncul dalam kisah Laut Merah (Kel. 14:16, 22, 29; 15:19).
Dalam membandingkan kedua peristiwa tersebut, Yosua membedakan antara generasi Laut Merah (“kita”) dan generasi sekarang (“kamu”).
Masing-masing generasi mengalami kuasa Allah atas air; masing-masing telah mengalami “eksodus”.
Batu-batu itu mengingatkan Israel, dan ketika kisah itu diingat, Israel harus merespons dengan rasa takut yang khidmat seperti yang mereka lakukan di Laut Merah (Kel. 14:31).
Kisah mukjizat Sungai Yordan akan melampaui Israel, dan bangsa-bangsa juga akan mengenal kuasa Allah yang dahsyat.
Bagaimana bangsa-bangsa akan merespons tidak ditunjukkan di sini, tetapi muncul di ayat berikutnya, yaitu Yosua 5:1.
Ketika semua raja orang Amori di sebelah barat sungai Yordan dan semua raja orang Kanaan di tepi laut mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air sungai Yordan di depan orang Israel, sampai mereka dapat menyeberang, tawarlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel itu.
Raja-raja Amori dan Kanaan di sebelah barat Sungai Yordan mendengar tentang kuasa Allah yang mengeringkan sungai itu (4:23).
Mereka tahu tentang penyeberangan orang Israel, tetapi respons mereka bukanlah rasa takut yang khidmat seperti yang dirasakan Israel (4:24).
Respons mereka sama seperti respons penduduk Yerikho. Raja-raja di sebelah barat Sungai Yordan tidak merespons seperti Rahab.
Jadi poinnya, kedua peristiwa yang dialami oleh dua generasi yang berbeda memiliki makna yang sama.
Agar generasi kedua, melalui kesaksian orang tua mereka, dapat menemukan kembali makna yang sama dari penyeberangan Sungai Yordan bagi diri mereka sendiri.
Karena manusia mudah melupakan atau kelupaan sesuatu, apalagi dalam konteks rohani, yang berkaitan dengan keselamatan. Maka tugu peringatan menjadi penting, agar selalu ingat.
Sebab ketika melupakan sejarah, itu dapat menghilangkan identitas.
Maka kalau kita ingin mempertahankan identitas kita sebagai suatu umat dengan panggilan dan misi khusus, kita harus membuat peringatan untuk menyegarkan ingatan rohani kita, baik secara individu maupun bersama-sama, agar tetap fokus pada asal usul kita, siapakah kita, dan untuk apa kita ada di sini.
Pentingnya ingat sejarah agar tidak melupakan, diungkapkan dalam kutipan berikut:
“Kita tidak perlu takut akan masa depan, kecuali kita akan melupakan jalan yang telah Tuhan tuntun kepada kita, dan ajaran-Nya dalam sejarah masa lalu kita.”— Ellen G. White, Life Sketches , hlm. 196 .–
V. Di luar Yordan
Selanjutnya dibagian ini diterangkan makna lain dan peristiwa lainya diluar sungai Yordan.
“Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia,” Mazmur 66:6.
Apa yang dimaksud dalam ayat ini adalah penyeberangan laut merah (Kel. 14:21-22; 15:19) dan sungai Yordan (Yos. 3:14-17).
Dalam Perjanjian lama penyeberangan Laut Merah maupun Sungai Yordan merupakan penanda era baru dalam sejarah Alkitab, dan keduanya memiliki makna simbolis (lihat Mzm. 66:6 , Mzm. 114:1-7 , dan 2 Raja-raja 2:6-15 ).
Dalam Mazmur 66 dan 114 , pemazmur merayakan tindakan penebusan Allah dalam hidupnya ( Mzm. 66:16-19 ).
Dalam 2 Raja-raja 2, Elia berpindah ke timur membelah Sungai Yordan dan dari tepi sungai Yordan dia diangkat ke Sorga. Kemudian Roh Elia hinggap kepada Elisa dan ia memiliki kuasa seperti Elia untuk bertempur melawan pasukan Baal di tanah itu. Dia menjadi nabi.
Naaman panglima Aram, mengalami transformasi hidup “melalui” Sungai Yordan (2 Raja-raja 5). Dia sembuh dari kusta setelah mandi disungai itu.
Dia menjadi penyembah TUHAN, mengakui, “Tidak ada Allah di seluruh dunia kecuali di Israel” (ay. 15).
Dalam Perjanjian Baru, Sungai Yordan dikaitkan dengan transisi Yesus ke dalam pelayanan publik-Nya.
Dalam Injil (Matius 3:13–17; Markus 1:9–13; Lukas 3:3, 21–22; Yohanes 1:28–34), Yesus dibaptis di Sungai Yordan disertai dengan kesaksian tentang ke putraan-Nya.
Dalam tradisi sinoptik, Bapa bersaksi tentang Anak, menyatakan bahwa Ia “berkenan” kepada-Nya; dalam Injil Yohanes, Pembaptis memberikan kesaksian.
Dia menghabiskan 40 hari di padang gurun ( Mat. 4:2 ) itu sama dengan 40 tahun Israel kuno dipadang belantara.
Dalam Ibrani 3–4, mengakui makna simbolis dari penyeberangan Sungai Yordan dan menyajikan masuknya ke Kanaan sebagai gambaran dari “perhentian kasih karunia” yang dimasuki orang Kristen melalui iman.
Disini ketidakpercayaan Israel dijadikan contoh yang tidak boleh ditiru oleh orang Kristen.
Penulis mengingatkan pendengar bahwa ketidakpercayaan Israel menghalangi masuknya mereka ke tanah yang dijanjikan dan istirahat yang disediakan di sana.
Meskipun istirahat itu mungkin bagi Israel, generasi di padang gurun “tidak berbagi iman dengan mereka yang taat” (4:2).
Mereka berbeda dengan orang-orang Israel (seperti Kaleb dan Yosua) yang memang masuk ke tanah itu.
Namun, bahkan mereka yang masuk ke tanah itu pada akhirnya gagal mencapai istirahat yang dijanjikan karena ketidakpercayaan yang terus-menerus. Surat itu membuktikan hal ini dengan mengatakan:
Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Ibrani 4:8-9.
Perhentian Sabat ini, menurut surat itu, disediakan bagi orang percaya hanya melalui iman, di dalam dan melalui karya Kristus, bukan melalui karya orang percaya itu sendiri.
Orang Kristen memasuki kehidupan di dalam Kristus melalui karya Allah dan berpartisipasi dalam perhentian yang Allah sediakan, karena ” Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.” (Ibr. 4:10).
VI. Kesimpulan
Setelah kita mempelajari pelajaran minggu ini dengan tema “Tugu Peringatan Kasih Karunia” maka kita dapat menyimpulkan:
Bahwa Tugu peringatan kasih karunia bertujuan agar Israel tidak melupakan sejarah, bagaimana Tuhan memimpin, menyelamatkan mereka dengan mujizat yang dahsyat, yaitu membelah sungai Yordan yang sedang meluap. Supaya mereka dapat memasuki tanah perjanjian.
Saat yang sama agar mereka setia kepada Tuhan dengan tidak menyembah allah lain.
Tujuan lain tugu peringatan adalah agar menumbuhkan rasa takut akan Allah di Israel (4:24b). dimana mereka akan melayani Allah saja dan mengabdi kepada-Nya.
Kita berada dalam bahaya yang lebih besar untuk melupakan Allah dan terjerumus ke dalam penyembahan berhala dibandingkan umat-Nya di zaman dahulu.
Banyak berhala disembah, bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai pemelihara Sabat.
Allah secara khusus memerintahkan umat-Nya di zaman dahulu untuk waspada terhadap penyembahan berhala, karena jika mereka terjerumus dari melayani Allah yang hidup, kutukan-Nya akan menimpa mereka, sementara jika mereka mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan mereka, Dia akan memberkati mereka dengan berlimpah, baik dalam keranjang maupun lumbung, dan akan menyingkirkan penyakit dari tengah-tengah mereka.—Testimonies for the Church , vol. 1, hlm. 609.
Untuk menghindarkan kita dari melupakan Tuhan, mari kita masuk kedalam perhentian-Nya. Hari sabat. Dan perjamuan kudus. Mengingat kasih Tuhan kepada kita.
Atau kita dapat mendirikan tugu peringatan kita sendiri, dimana kita mengalami mujizat Tuhan, keluar dari kesukaran hidup dimasa lalu.
Jadi, jangan melupakan sejarah. Ingat Tuhan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now














