Pastordepan Media Ministry
Beranda Khotbah 2 Cara Memberi Sedekah yang Benar Menurut Alkitab

2 Cara Memberi Sedekah yang Benar Menurut Alkitab

Daftar isi:

[Sembunyikan] [Tampilkan]

    Oleh: Deddy Panjaitan

    Teks Matius 6:1-4

    “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

    Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

    Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

    Pendahuluan

    Bersedekah itu kebajikan. Itu perbuatan yang mulia sekali. Setiap sedekah yang dilakukan mendapat pujian dari Tuhan. Bahkan mendapat upah dari Bapa Sorgawi.

    Karena itu banyak orang yang berlomba-lomba bersedekah. Demi mengejar upah atau pahala. Berapa pahala yang didapat dari bersedekah?

    Tidak tahu. Boleh jadi itu tergantung berapa banyak sedekah yang diberikan.

    Mungkin tergantung juga berapa banyak orang yang telah disedekahi.

    Yah mungkin saja ada yang berpandangan demikian. Bersedekah untuk pahala. Salahkan hal itu?

    Bagaimana bersedekah yang alkitabiah? Yesus memberikan jawaban sebagai penuntun bersedekah yang benar.

    Yesus memberikan petunjuk dalam Khotbah diatas bukit. Dituliskan di Matius 6:1-4.

    “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga..”

    Disebut, “ Jangan melakukan kewajiban agama dihadapan orang supaya dilihat mereka..

    Kita coba lihat terjemahan lain mengenai kata “kewajiban agama,” untuk mendapat pengertian yang lebih baik..

    Terjemahan NIV mengatakan, “Berhati-hatilah untuk tidak mempraktikkan kebenaran mu di depan orang lain supaya dilihat oleh mereka…”

    Sementara KJV mengatakan, “Perhatikan, jangan kamu bersedekah dihadapan orang untuk dilihat oleh mereka.”

    Di Bahasa asli Yunani, kata yang digunakan adalah “δικαιοσύνη,n dikaiosuné {dik-ah-yos-oo’-nay}” 1 Memiliki beberapa pengertian:

    1) dalam arti luas: keadaan dirinya yang sebagaimana mestinya, kebenaran, kondisi berterima kepada Allah

    1a) doktrin tentang cara manusia untuk mencapai perkenaan Tuhan

    1b) integritas, kebajikan, kemurnian dari hidup, kebenaran, berpikir dan merasa dengan benar dan bertindak

    2) dalam arti yang lebih sempit, keadilan atau kebajikan yang memberi masing-masing haknya.

    Bersedekah kewajiban

    Dari beberapa bagian terjemahan diatas, kita bisa mengambil poinya dari kata dikaiosune.

    Jika kita ingin berkenaan dan berterima dihadapan Tuhan, kita dapat melakukan kebajikan, melakukan kebenaran, melakukan ajaran Tuhan.

    Salah satunya dengan memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan.

    Memberi sedekah kepada orang miskin merupakan kewajiban agama. Disebut kewajiban karena itu perintah Tuhan.

    Dan segala sesuatu yang bentuknya perintah adalah kewajiban. Artinya wajib di laksanakan.

    Kalau tidak dilakukan menjadi berdosa. Barangkali itu sebabnya TIB menggunakan kata kewajiban agama.

    Perintah memberi sedekah ini kita bisa baca di Ul 15:7-8, 10-11

    “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu,

    tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.

    Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.

    Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”

    Tuhan sahabat orang miskin dan orang kaya

    Jadi perintah Tuhan adalah memberi kepada orang miskin dengan limpah, dengan sukacita.

    Mereka yang memperhatikan orang miskin berkenaan kepada Tuhan.

    Tuhan tidak senang orang-orang miskin diabaikan. Apalagi ditindas. Tuhan tegas berada disamping mereka.

    “Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya.” Kel 23:6

    “Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya..” Ul 24:12

    Tuhan juga sayang kepada orang kaya. Yang memperhatikan orang miskin. Orang kaya adalah mitra Tuhan untuk memelihara hidup orang miskin.

    Itu sebabnya Tuhan sediakan janji berkat kelimpahan kepada mereka yang memperhatikan orang-orang miskin supaya mereka dapat terus memelihara orang miskin.

    Karena itu orang-orang mampu tidak boleh lelah dan berhenti memperhatikan orang-orang miskin.

    Kita kembali kepada teks utama kita, Matius 6:1-4.

    Motif bersedekah

    Kita diingatkan untuk tidak melakukan kewajiban agama yaitu sedekah dihadapan orang lain supaya dilihat..

    Perhatikan baik-baik..

    Ditempat yang pertama, Tuhan memerintahkan untuk bersedekah atau memberi kepada orang miskin.

    Ditempat kedua ketika memberi sedekah tidak boleh di depan orang lain.

    Pertanyaannya kenapa tidak boleh didepan orang lain?

    Untuk memahaminya perhatikan kata “supaya dilihat mereka..”

    Kata “supaya dilihat mereka..” itu bicara tentang motif dalam memberi. Yang dimaksud disini memberi dengan motif untuk mendapat pujian.

    Menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya orang yang dermawan.

    Kemudian dia akan mendapat pujian dan pengakuan kalau dia orang yang baik. Tetapi ini pengakuan palsu.

    Dan ternyata orang-orang yang memberi sedekah dengan maksud supaya mendapat pujian adalah kebiasaan orang munafik.

    Itu disebut di ayat 2.

    “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.”

    Siapa itu orang munafik yang memberi dengan motif untuk mendapat pujian?

    Orang yang berpura-pura. Pura-pura setia, pura-pura baik. Tetapi dihatinya tidak demikian. Disebut juga orang bermuka dua.

    “Munafik” diambil dari “pemain panggung,” mereka bertindak sebagai orang lain, atau berbicara bukan sentimen mereka sendiri, tetapi sentimen orang lain.

    Di PB munafik secara umum dikenal dengan, “menyembunyikan” atau menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya, dan menganggap atau mengungkapkan perasaan lain selain perasaan mereka sendiri. 2

    (cth: dia bukan orang yang dermawan. Tetapi supaya kelihatan baik dia akan memberi dengan catatan diketahui orang banyak)

    Tujuannya untuk pamer, mendapatkan tepuk tangan, dengan mengenakan penampilan agama.

    Itu sebabnya Yesus katakan ketika memberi sedekah jangan seperti orang munafik dengan mencanangkan (canang).

    Bahasa aslinya katakan, “bunyikan terompet”

    Sedekah jangan dipamerkan

    Ada dua interpretasi tentang ini. Diceritakan bahwa orang-orang Farisi benar-benar mempunyai terompet yang ditiup untuk memanggil orang-orang miskin dilingkungan mereka bahwa mereka akan memberikan sedekah. 3

    Dan bunyi itu akan kedengaran dan banyak orang tau kalau dia sedang memberi sedekah.

    Yang kedua ada yang mengatakan terompet itu adalah sejenis kotak tempat sedekah, dan ketika uang sedekah dimasukkan kedalam kotak berbentuk terompet.

    Uang itu akan bunyi berdenting dan sipemberi itu akan mendengar dentingan uang itu sebagai musik yang manis dan dia akan bangga. 4

    Para sarjana mengatakan kalau praktek itu tidak ditemukan dalam literature Yahudi, dan praktek itu tidak mungkin dilakukan di sinagog.

    Maka mencanangkan atau membunyikan terompet ketika bersedekah lebih kepada makna kiasan.

    Maksudnya kalau kita memberi tidak usah dipamerkan.

    Motif memberi tidak boleh untuk mendapat pujian dan pengakuan dari orang banyak.

    Bukti bahwa ada orang-orang yang motifnya untuk mendapat pujian jaman Yesus, terbukti dengan mereka melakukan sedekah itu ditempat-tempat keramaian.

    Tempat dimana perbuatan mereka akan disaksikan orang banyak. Tempat itu seperti dirumah-rumah ibadah.

    Disana tempat orang berkumpul dalam jumlah besar. Maka bagi orang munafik tempat ini sangat cocok.

    Mereka juga mencari tempat diluar ruangan yaitu di gang-gang jalan. Kenapa bukan dijalan besar?

    Jalan besar kemungkinan mereka dilihat orang kecil dan orang miskin biasanya ada di gang-gang jalan.

    Itu sebabnya pilihan utama di gang-gang karena disana banyak orang lalu lalang.

    Itu juga dekat dengan pemukiman, maka kemungkinan perbuatan sedekah mereka dilihat orang lain jauh lebih efektif.

    Yesus mengatakan mereka yang membunyikan perbuatan sedekah mereka supaya dilihat orang sebagai orang munafik.

    Orang yang berpura-pura murah hati, dermawan.

    Sebenarnya perbuatan itu hanya untuk menutupi kelemahan mereka. Untuk menyembunyikan tabiat mereka yang sebenarnya.

    Kemunafikan farisi

    Dalam Lukas 12:1 Yesus berbicara tentang ragi kemunafikan orang Farisi.

    Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”

    Lebih lanjut di Matius 23:3-5, 23, 25

    “..tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat..”

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

    Jadi orang-orang munafik yang salah satu contohnya orang farisi.

    Mereka melakukan tindakan kebajikan motifasinya hanyalah untuk mendapat pujian dan menutupi tabiat mereka yang sebenarnya.

    Tujuannya untuk mendapat pengakuan dari manusia kalau mereka orang yang beragama.

    Padahal tindakan itu murni hanya untuk mencari popularitas, pencitraan. Pemberian mereka tidak dilandasi kasih dan belas kasihan.

    Itu sebabnya Yesus mengajarkan, motivasi dalam memberi harus benar. Memberi harus dilandasi dengan kasih dan belas kasihan.

    Banyak orang mengeksploitasi kemiskinan orang lain. Dengan membunyikan pemberian mereka. Kalau jaman dulu di rumah ibadah, di gang gang.

    Sekarang di media sosial.

    Mohon maaf saya tidak sedang mengomentari orang-orang yang memberi sumbangan kemudian penerima sumbangan difoto dan di upload.

    Saya mungkin pernah beberapa kali di jepret ketika memberi sumbangan lalu di upload di media sosial.

    Sebenarnya saya kurang nyaman, walau saya juga tersenyum menatap kamera..

    Mungkin ada yang bertanya dalam hati, salahkah itu? kasih sumbangan sembako lalu difoto dan diupload?

    Salah atau tidaknya biarlah Tuhan yang menjadi hakim kita. Yang pasti kembali kepada motifasi dalam memberi.

    Apakah yang menjadi motif kita? Saya tau ada banyak juga yang melakukannya untuk memberikan inspirasi kepada orang lain.

    Biarlah Tuhan yang menjadi hakim diantara kita..

    Kembali kepada sedekah

    Yesus mengajarkan prinsip memberi yang benar..prinsip itu kebalikan dari ayat 1 dan 2. Diterangkan dalam bentuk kiasan.

    “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:3-4.

    Kontras dengan cara memberi orang munafik. Orang benar memberi secara rahasia.

    Diumpamakan tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

    Apa maksudnya?

    Pemberian sedekah itu harus disembunyikan bahkan dari saudara terdekat sekalipun.

    Boleh jadi ketika mereka tahu, akan menghalangi kita untuk melakukan kebajikan kepada orang lain.

    Lebih jauh kita harus sembunyikan hal itu sejauh mungkin dari diri kita sendiri, tanpa perlu memikirkan mereka. 5

    Jadi ungkapan, “tangan kanan memberi jangan diketahui tangan kiri” menyatakan kerahasiaan sedekah kita. Seperti yang diungkapkan ayat 4,

    “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi..”

    Dalam kanon Yahudi dikatakan, “memberi hadiah kepada temah karena kasih, membuatnya diketahui. Tetapi jika itu untuk sedekah tidak perlu diketahui.” 6

    Upah sedekah

    Mereka yang memberi sedekah dengan motif pamer dan pencitraan. Demi mendapat pujian. Akan mendapat upah tapi bukan dari Bapa Sorgawi.

    Sedangkan mereka yang memberi dengan motif yang benar. Bukan untuk mendapat pujian. Akan mendapat upah dari Bapa di Sorga.

    Memang penggunaan kata untuk kedua pemberi diatas sama-sama mengunakan kata Upah.

    Tetapi dalam Bahasa aslinya, penggunaan kata upah, baik untuk pemberi munafik dan pemberi yang benar menggunakan kata yang berbeda.

    Kepada pemberi munafik digunakan kata misthos. Sementara kepada pemberi yang benar digunakan kata apodidōmi.

    Kata misthos artinya upah, bayaran, sewa. Kata ini digunakan misalnya menyatakan sesuatu pekerjaan yang sudah selesai kita kerjakan kemudian dapat bayarannya.

    Itu semacam transaksi jual beli. Membeli pujian dengan sedekah..

    Kemudian misthos atau upah digunakan sebagai hasil alami dari dari kerja keras atau usaha keras yang sudah dilakukan. Kemudian dapat upah atau hukuman.

    Pemberi munafik dapat upahnya. Upahnya adalah tepuk tangan. Pujian dari manusia. Dan itulah yang mereka cari. Dan mereka mendapatkannya.

    Itu sebabnya Tuhan tidak memiliki upah lagi yang bisa diberikan kepada mereka, baik hari ini maupun untuk upah akhir pada dunia yang akan datang.

    Mereka sudah mendapatkannya di dunia ini dari manusia.

    Mereka tidak mencari kehormatan Tuhan, melainkan penghormatan dari manusia, dimana semua itu untuk kebanggan diri dan kepentingan diri sendiri.

    Pemberi yang munafik sangat mengharapkan dihargai dan dipuji, disanjung sebagai orang baik oleh manusia.

    Karena itulah mereka memberi dihadapan banyak orang dengan motif untuk pujian bagi diri sendiri.

    Pemberi yang benar

    Pemberi yang benar tidak mencari pujian. Karena itu mereka memberi secara tersembunyi.

    Sedekah mereka tidak perlu dipamerkan. Prinsipnya biarlah Tuhan saja yang mengetahui.

    Itu sebabnya kata yang digunakan adalah apodidōmi artinya memberi, pemberian.

    Disini tidak ada unsur memberi sebagai transaksi. Tidak ada motif untuk mendapat pujian atau pencitraan. Memberi dengan kasih karunia.

    Ada 5 alasan mengapa harus memberi dengan tersembunyi?

    1. Untuk menjamin kemurnian motif di hati si pemberi dengan menghilangkan godaan untuk kemunafikan.

    2. Untuk melindungi dan menghormati privasi penerima, privasi yang sangat diperlukan untuk pemulihan dan rehabilitasi.

    3. Untuk melindungi dermawan dari tersebarnya panggilan atas kemurahan hatinya.

    4. Untuk memberikan dasar yang mulia dalam mengembangkan kasih yang sejati dan persahabatan antara penolong dan orang yang ditolong.

    5, Untuk menghormati perintah khusus Kristus ini; dan, bagi orang Kristen, ini yang paling penting.

    Kegagalan mematuhi perintah Kristus

    Konsekuensi tragis dari kegagalan untuk mematuhi prinsip kerahasiaan ini sekarang terlihat jelas pada skala nasional di mana bantuan terhadap orang-orang miskin telah merendahkan martabat jutaan orang.

    Mereka harus berdiri berbaris, membuka rahasia jiwa mereka yang terdalam.

    Mereka akhirnya tenggelam dalam kemiskinan permanen dan profesional dan sepenuhnya meninggalkan harga diri, kemandirian, dan tanggung jawab.

    Bahkan pemerintah pun dapat melanggar perintah Kristus dalam urusan kesejahteraan manusia, sehingga mengalami kerusakan yang luas dan tidak dapat diperbaiki, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi warganya.

    Mereka yang memberi secara tersembunyi akan mendapat balasan dari Tuhan secara terbuka. Pada hari besar ketika Tuhan datang.

    Dimana semua rahasia akan disingkapkan dihadapan para malaikat dan manusia. Pada saat itu pemberi yang benar akan mendapat upahnya.

    Sementara pemberi munafik tidak mendapat upah. Mereka sudah mendapatkannya dari manusia.

    Kesimpulan

    Memberi adalah sifat Kristus. Sifat ini harus menjadi sifat kita. Yesus memberi dengan tulus tanpa pamrih. Dia memberikan dengan limpahnya.

    Maka ajaran Yesus dalam hal memberi sedekah harus menghindari dua sikap berikut ini:

    1. Motif memberi bukan untuk mendapat pujian.
    2. Memberi tidak boleh didepan orang supaya dilihat.

    Cara memberi yang benar adalah memberi secara tersembunyi. Tidak ada yang melihat kecuali sipenerima dan Tuhan.

    Motifnya karena kasih dan belas kasihan.

    Tujuannya untuk kemuliaan Tuhan. Bukan kepujian diri dan kebanggaan. Karena tidak ada yang bisa kita banggakan.

    Semua yang kita miliki dalam hidup ini adalah pemberian Tuhan. Keselamatan yang kita terima juga karena pemberian Tuhan.

    Mereka yang memberi secara tersembunyi akan mendapat upah secara terbuka dihadapan malaikat dan manusia.

    Biarlah Tuhan yang akan mengumumkan semua kebajikan yang telah kita lakukan.

    Referensi:

    1. The Online Greek Bible. “dikaiosune” https://www.greekbible.com/
    2. Barnes, Albert. “Commentary on Matthew 6:2”. “Barnes’ Notes on the Whole Bible”.
    3. Ellicott, Charles John. “Commentary on Matthew 6:2”. “Ellicott’s Commentary for English Readers”.
    4. Ibid.
    5. Clarke, Adam. “Commentary on Matthew 6:3”. “The Adam Clarke Commentary”
    6. Gill, John. “Commentary on Matthew 6:3”. “The New John Gill Exposition of the Entire Bible”
    Komentar
    Bagikan:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Iklan