10 Saran Menjadi Pendegar Yang Baik, Menurut Amsal 18:13

Apakah Anda Mendengarkan?

“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” Amsal 18:13.

Masalah banyak terjadi karena tidak mendengarkan. Tidak mendengar bukan karena tidak punya telinga. Atau pendengarannya bermasalah.

Punya telinga tetapi tidak mendengar adalah persoalan manusia sejak dulu kala.

Tuhan memberi 2 telinga dibagian kiri dan kanan adalah untuk dapat mendengar dengan jelas dan seimbang.

Namun berfungsi atau tidaknya kedua telinga tersebut tergantung pikiran juga. Pikiran adalah bagian yang mengarahkan telinga untuk berfungsi.

Sekarang ini seni mendengarkan telah banyak hilang. Beberapa pemikiran tentang Amsal 18:13 dan seni mendengarkan yang hilang –

Seperti yang dikatakan Howard Hendricks, “Pernikahan terkadang merupakan dialog orang tuli.”

Harvard Business Review mengatakan 65 persen waktu seorang eksekutif harus dihabiskan untuk mendengarkan.

Ketika saya memikirkan jawaban sementara orang lain berbicara—saya tidak mendengarkan.

Ilustrasi hilangnya seni mendengar mengakibatkan kerugian besar

Apakah anda pernah membayangkan berapa biaya yang harus ditanggung bila tidak mendengar dengan baik?

Di kisahkan Diana Bonet, seorang konsultan mendengarkan dan penulis The Business of Listening.

Sebuah perusahaan harus mengalami kerugian $ 100.000, karena kesalahan petugas, disebabkan oleh petugas operator yang mengarahkan supir untuk mengirimkan bahan bangunan ke negara bagian yang salah.

Operator mendengar kota (Portland), tetapi dia berhenti mendengarkan kalimat berikutnya. Sebab ada 2 tempat dengan mana Portland, tetapi wilayah negara bagian yang berbeda.

Karena dia tidak mendegar bahwa yang dimaksud adalah negara bagian Maine. Hasilnya, bahan bagunan dikirim ke negara bagian Portland Oregon sebanyak delapan truk.

Dan sang supir harus menempuh jarak 3.000 mil dari Portland, Oregon ke Portland Maine.

Mendengar Cara Efektif Membantu

Dalam bukunya Listening To Others (Mendengar Hati Mereka), Joyce Huggett menceritakan pengalamannya mendengarkan sehingga kita dapat menanggapi dengan bijak mereka yang menderita atau dalam situasi sulit.

Dia mengatakan mereka sering mengoceh tentang semua yang telah dia lakukan untuk mereka.

“Dalam banyak kesempatan,” tulisnya, “Saya tidak ‘melakukan’ apa pun. Saya hanya ‘mendengarkan.’

Saya segera sampai pada kesimpulan bahwa ‘hanya mendengarkan’ memang cara yang efektif untuk membantu orang lain.”

Mendengarkan adalah pertolongan yang gagal diberikan oleh teman-teman Ayub. Dari pada mendengar Ayub, mereka bertele-tele dan berkhotbah.

Benar bahwa mereka duduk bersamanya selama 7 hari dalam keheningan, “karena mereka melihat bahwa kesedihannya sangat besar” (Ayub 2:13), mereka tidak mendengarkan ketika Ayub mulai berbicara.

Dia mengeluh bahwa mereka adalah “penghibur yang menyedihkan” (Ayub 16:2) dan sangat putus asa sehingga dia bahkan menuduh Tuhan tidak mendengarkan.

Dia berteriak, ” Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku!” (Ayub 31:35).

Mendengarkan adalah, “Apa yang penting bagi Anda penting bagi saya.” Terkadang orang menginginkan nasihat.

Namun seringkali mereka hanya ingin didengarkan oleh seseorang yang mencintai dan peduli pada mereka.

Apa yang dicapai dengan mendengarkan secara aktif?

Mendengarkan adalah cara mencintai orang lain. Dikatakan, “Saya ingin memahami dan mengenal anda.”

Itu menghibur orang yang patah hati, membangun hubungan, dan mendorong iman kepada Tuhan.

Mendengarkan juga merupakan sarana untuk mempelajari fakta.

Salomo dalam Amsal 18:13, memperingatkan bahwa adalah kebodohan untuk menjawab suatu masalah sebelum mendengarnya.

Jadi, yang terpenting, mendengarkan orang lain harus mencerminkan perhatian kita terhadap Tuhan dan Firman-Nya.

Tuhan memiliki begitu banyak hal yang ingin Dia ajarkan dan beritahukan kepada kita.

Mendengarkan perlu kerja keras, dan butuh waktu. Butuh waktu untuk mendengarkan cukup lama untuk mendengar hati orang lain yang sebenarnya, sehingga jika kita berbicara, kita berbicara dengan kebijaksanaan yang lembut.

Saat kita mengambil waktu hening hari ini dan memberikan telinga untuk mendengarkan-Nya, kita akan lebih mampu mendengarkan orang-orang yang terluka di sekitar kita.

Sebuah kutipan mengtakan, “Anda dapat memenangkan lebih banyak teman dengan telinga Anda daripada dengan mulut Anda. Keheningan yang penuh seringkali lebih baik daripada ucapan yang fasih.”

Mendengarkan adalah seni yang hilang akhir-akhir ini.

Kita tidak mendengarkan dengan baik dan kita tidak terbiasa didengarkan. Sebagian besar kata-kata kita menghilang begitu saja.

Beberapa tahun yang lalu saya menemukan saran berikut tentang mendengarkan, yang mana saat ini masih saya pelajari dan terapkan:

• Saat saya memikirkan jawaban saat orang lain berbicara—saya tidak mendengarkan.

• Ketika saya memberikan nasihat yang tidak diminta—saya tidak mendengarkan. (Saran yang tidak diminta selalu terdengar seperti kritik.)

• Ketika saya menyarankan mereka untuk tidak merasakan apa yang mereka rasakan—saya tidak mendengarkan.

• Ketika saya menerapkan perbaikan cepat untuk masalah mereka—saya tidak mendengarkan.

• Ketika saya gagal untuk mengakui perasaan mereka—saya tidak mendengarkan.

• Ketika saya gelisah, melirik jam tangan saya, dan tampak terburu-buru—saya tidak mendengarkan.

• Ketika saya gagal mempertahankan kontak mata—saya tidak mendengarkan.

• Saat saya tidak mengajukan pertanyaan lanjutan—saya tidak mendengarkan.

• Saat saya melengkapi cerita mereka dengan cerita saya sendiri yang lebih besar dan lebih baik—saya tidak mendengarkan.

• Ketika mereka berbagi pengalaman yang sulit dan saya membalas dengan salah satu pengalaman saya sendiri—saya tidak mendengarkan.

Usaha untuk mendengar

Mendengarkan perlu kerja keras, dan kebanyakan dari kita tidak mau meluangkan waktu.

Waktu adalah kata kuncinya. Mendengarkan berarti mengesampingkan jadwal kita.

Ini berarti mengurangi kecepatan, tidak tergesa-gesa, dan santai. ”Hanya dalam suasana waktu senggang,” tulis Eugene Peterson, ”orang-orang tahu bahwa mereka didengarkan dengan keseriusan mutlak, diperlakukan dengan bermartabat dan penting.”

Di waktu senggang, kita menganggap kepentingan orang lain lebih penting daripada kepentingan kita (Flp 2:3).

Di waktu senggang kita berkata, “Kamu lebih penting dari apa pun yang harus saya lakukan sekarang.”

Anda adalah satu-satunya yang diperhitungkan, orang yang untuknya saya bersedia untuk melupakan kewajiban, janji, dan pertemuan saya yang lain.

Aku punya waktu untukmu. Di waktu senggang, kita mendengarkan cukup lama untuk mendengar hati sejati orang lain sehingga jika kita berbicara, kita berbicara dengan kebijaksanaan.

Langkah santai, telinga yang mendengarkan, hati yang penuh kasih. Semoga Anda dan saya, dengan rahmat Tuhan, memperolehnya. (Dari buku David Roper, Teach Us to Number Our Days).

Seorang psikolog berbicara tentang “mendengarkan secara aktif.” Itu berarti mendengarkan sampai bagian akhir pernyataan mereka.

Alasan mengapa kita tidak mendengar apa yang orang lain katakan adalah karena kita terlalu sibuk memikirkan apa yang akan kita katakan kembali kepada mereka.

Mendengarkan secara aktif berarti kita fokus pada orang lain, mendengarkan seluruh pernyataan, memahami pernyataan mereka, lalu kita menyatakannya kembali dengan kata-kata kita sendiri.

Berikut adalah beberapa tips untuk mendengarkan secara aktif:

• Condongkan tubuh ke arah orang tersebut saat mereka berbicara dengan Anda.

• Lihat langsung ke arah mereka (alih-alih membiarkan mata Anda mengembara) saat mereka berbicara.

• Dengarkan dengan mata dan telinga Anda. Carilah isyarat non-verbal seperti lengan dan kaki yang disilangkan, melihat ke langit, mengepalkan tangan, jari-jari mengetuk meja, dll. Isyarat tersebut biasanya menunjukkan beberapa tingkat stres.

• Jangan menyela. Jangan menyelesaikan kalimat orang lain.

• Ajukan pertanyaan klarifikasi. “Bisakah anda mengulanginya? Sudah berapa lama anda merasa seperti itu? Apa lagi yang benar-benar mengganggu anda? Seberapa sering anda merasa frustrasi tentang cara saya bertindak?”

• Jangan merencanakan respons yang akan adan sampaikan saat anda mendengarkan mereka berbicara.

• Ketika mereka selesai, katakan sesuatu seperti, “Coba saya lihat apakah saya bisa menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri.”

Inti Mendengar

Inti dari mendengarkan bukanlah anda berpikir anda mendengar, tetapi mereka berpikir anda mendengar.

Suatu penghargaan pernah diberikan kepada ahli bahasa yang hebat bahwa dia bisa diam dalam tujuh bahasa.

Ini adalah karunia yang luar biasa dan langka. Lebih banyak dari kita perlu menggunakannya. Komunikasi dimulai dengan lebih banyak mendengarkan.

Kita juga perlu lebih banyak mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita. Sering kita terlalu banyak berbicara kepada Tuhan, tapi kita lupa memberi banyak waktu untuk diam dan mendengar Tuhan berbicara kepada kita.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; – Yakobus 1:19

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” – Matius 4:4

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. – Roma 10:17

Intinya Sederhana.

Tuhan memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada kita dan karena Dia adalah Tuhan yang maha bijaksana dan berdaulat dan karena kemanusiaan kita yang terbatas serta kejatuhan kita, sangat penting bagi kita untuk mendengarkan dengan seksama.

Apa yang Dibutuhkan untuk Mendengarkan Tuhan Secara Efektif

KITA MEMBUTUHKAN PERSIAPAN ROHANI

Tuhan berbicara melalui Firman-Nya. Maka dengan membaca Alkitab, kita sedang mendegarkan Tuhan berbicara.

Live each day as it was your last

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *