
Alkitab menulis orang-orang yang pernah gagal. Baik karena salah mengambil keputusan maupun karena kelemahan karakter.
Ada yang bangkit dari kegagalan dan berjalan dengan Tuhan. Ada juga yang mati dalam kegagalan.
Kita sering berpikir bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya. Sekali jatuh, tamatlah sudah riwayatnya.
Namun, Alkitab memperlihatkan kisah yang berbeda.
Tuhan tidak selalu memilih orang-orang yang sempurna. Dia juga memakai orang-orang yang pernah gagal.
Bahkan, beberapa tokoh besar dalam Alkitab memiliki masa lalu yang buruk dan suram.
Tentu saja, ini bukan berarti Tuhan menganggap dosa sebagai hal yang sepele. Kegagalan tetap mendatangkan akibat.
Tetapi, ketika seseorang mau datang kepada Tuhan, bertobat, dan belajar dari kesalahannya, kegagalan tidak harus menjadi akhir perjalanan.
Berikut adalah sepuluh orang dalam Alkitab yang pernah gagal, tetapi kemudian dipakai Tuhan.
1. Musa: Pernah Membunuh, tetapi Tuhan gunakan memimpin Israel
Musa pernah melakukan kesalahan besar sebelum menjadi pemimpin Israel.
Ketika melihat seorang Mesir memukul orang Ibrani, Musa membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya di dalam pasir.
Namun perbuatannya terbongkar, lalu melarikan diri ke tanah Midian, menjadi seorang penggembala selama empat puluh tahun.
Referensi Alkitab: Keluaran 2:11–15; 3:1–10; 4:10–17.
Namun, kegagalan Musa bukan akhir dari kisahnya. Tuhan memanggilnya melalui semak yang menyala, lalu mengutusnya kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel.
Musa kemudian menjadi salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah umat Tuhan.
Ada satu hal menarik dari kisah Musa. Ketika Tuhan memanggilnya, Musa justru merasa tidak sanggup. Ia berkata bahwa dirinya tidak pandai berbicara.
Tuhan tidak menyangkal kelemahannya. Tuhan memberikan pertolongan yang ia perlukan.
Pelajaran: Masa lalu yang buruk tidak harus menentukan masa depan seseorang. Tuhan sanggup membentuk orang yang pernah gagal dan mempercayakan kepadanya tugas yang besar.
2. Daud: Berzinah dan membunuh, namun tetap dipakai Tuhan
Referensi Alkitab: 2 Samuel 11:1–27; 12:1–14.
Daud dikenal sebagai raja yang dikasihi Tuhan dan orang yang berkenan di hati Tuhan. Namun, jalan hidupnya tidak selalu mulus.
Ketika melihat Batsyeba, istri Uria, Daud jatuh dalam dosa perzinaan. Setelah mengetahui Batsyeba mengandung, Daud berusaha menutupi kesalahannya.
Ia bahkan mengatur agar Uria ditempatkan di garis depan peperangan sehingga terbunuh.
Daud bukan hanya melakukan dosa seksual. Ia juga menyalahgunakan kekuasaannya dan mengambil nyawa orang yang tidak bersalah.
Nabi Natan kemudian menegur Daud. Dia mengakui dosanya dan bertobat. Dalam Mazmur 51, kita menemukan ungkapan pertobatan Daud yang sangat mendalam.
Daud memohon agar Tuhan menciptakan hati yang bersih di dalam dirinya.
Tuhan mengampuni Daud, tetapi akibat dari dosanya tetap terjadi. Keluarganya mengalami pergumulan dan kekacauan.
Pelajaran: Pengampunan Tuhan tidak meniadakan akibat dosa itu. Namun, ketika sungguh-sungguh bertobat akan ada pemulihan dan kembali melayani Tuhan.
3. Petrus: Pernah Menyangkal Yesus, tetapi Dipercayakan Menggembalakan Umat
Referensi Alkitab: Matius 26:31–35, 69–75.
Petrus adalah salah satu murid yang paling bersemangat.
Ia pernah berikrar tidak akan meninggalkan Yesus apa pun yang terjadi. Namun, ketika Yesus ditangkap, dia menjadi takut dan mengikut Yesus diam-diam.
Di halaman rumah imam besar, Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Bahkan, ia bersumpah bahwa dirinya tidak mengenal Yesus.
Petrus kemudian sadar ketika ayam berkokok dan ia mengingat perkataan Yesus. Ia keluar dan menangis dengan sedih.
Namun, kisah Petrus tidak berhenti di halaman rumah imam besar.
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menemui Petrus. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya. Tiga kali pula Yesus mempercayakan tugas kepadanya: menggembalakan domba-domba-Nya.
Referensi Alkitab: Yohanes 21:15–19.
Petrus yang pernah menyangkal Yesus kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan gereja mula-mula. Ia bahkan dengan berani memberitakan Injil di hadapan banyak orang.
Referensi Alkitab: Kisah Para Rasul 2:14–41; 4:8–13.
Pelajaran: Kegagalan tidak selalu menghilangkan panggilan Tuhan. Petrus belajar bahwa kasih kepada Yesus harus lebih besar daripada rasa percaya diri terhadap kemampuannya sendiri.
4. Paulus: Pernah Menganiaya Jemaat, tetapi Menjadi Rasul Kristus
Sebelum dikenal sebagai rasul besar, Paulus dikenal sebagai penganiaya jemaat.
Ia menyetujui pembunuhan Stefanus. Ia juga berusaha melenyapkan orang-orang Kristen dengan menangkap mereka dan menyerahkan mereka ke dalam penjara.
Paulus melakukannya karena menganggap bahwa ia sedang membela keyakinan agamanya.
Referensi Alkitab: Kisah Para Rasul 7:58–8:3; 9:1–2.
Namun, dalam perjalanan ke Damsyik, Paulus mengalami perjumpaan dengan Yesus. Peristiwa itu mengubah seluruh arah hidupnya.
Orang yang dahulu mengejar pengikut Kristus kini menjadi pemberita Injil. Ia melakukan perjalanan misi, mendirikan jemaat, dan menulis banyak surat yang kemudian menjadi bagian dari Perjanjian Baru.
Paulus sendiri tidak pernah melupakan masa lalunya.
Dalam 1 Timotius 1:13–16, ia mengakui bahwa dahulu dirinya adalah seorang penghujat, penganiaya, dan orang yang ganas. Namun, ia menerima belas kasihan Tuhan.
Pelajaran: Tuhan dapat mengubah arah hidup seseorang secara radikal. Masa lalu yang kelam tidak menjadi penghalang seseorang menjadi alat bagi pekerjaan-Nya.
5. Yunus: Melarikan diri dari misi, Namun Tuhan mengutusnya kembali
Yunus menerima perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe menyampaikan pesan penghakiman. Bukanya pergi, ia mangkir dan melarikan diri dengan kapal ke Tarsis.
Referensi Alkitab: Yunus 1:1–3.
Akibatnya, kapal yang ditumpanginya mengalami badai besar. Yunus akhirnya dilemparkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar.
Di dalam perut ikan itu, Yunus berdoa kepada Tuhan. Setelah tiga hari, Tuhan memerintahkan ikan itu memuntahkan Yunus ke darat.
Tuhan kembali memberikan perintah yang sama: pergilah ke Niniwe.
Kali ini Yunus pergi dan menyampaikan pesan Tuhan. Penduduk Niniwe akhirnya bertobat.
Referensi Alkitab: Yunus 2:1–10; 3:1–10.
Namun, ada satu hal yang menarik. Setelah Niniwe bertobat, Yunus justru marah karena Tuhan mengampuni kota itu.
Artinya, Yunus memang menjalankan tugasnya, tetapi ia masih harus belajar memahami belas kasihan Tuhan.
Pelajaran: Seseorang bisa saja melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi masih memiliki karakter yang perlu dibentuk. Tuhan tidak hanya ingin memakai kita; Dia juga ingin mengubah hati kita.
6. Yakub: Pernah menipu ayah dan Esau, namun dipakai Tuhan meneruskan berkat Abraham
Nama Yakub sering dikaitkan dengan kisah penipuan.
Ia membeli hak kesulungan Esau dengan semangkuk makanan. Kemudian, dengan bantuan ibunya, ia menipu Ishak untuk mendapatkan berkat yang seharusnya diberikan kepada Esau.
Akibatnya, Yakub harus melarikan diri karena Esau yang merasa tertipu berniat membunuhnya.
Referensi Alkitab: Kejadian 25:29–34; 27:1–45.
Namun, perjalanan hidup Yakub menjadi perjalanan pembentukan karakter.
Ia sendiri kemudian mengalami penipuan ketika bekerja pada Laban. Ia harus merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tidak jujur.
Bertahun-tahun kemudian, menjelang pertemuannya kembali dengan Esau, Yakub bergumul dengan Tuhan di tepi sungai Yabok.
Dalam pergumulan itu, namanya diubah menjadi Israel.
Referensi Alkitab: Kejadian 29:15–30; 31:38–42; 32:22–32.
Yakub bukan orang yang sempurna. Bahkan, keluarganya penuh dengan konflik. Namun, Tuhan tetap bekerja melalui kehidupannya.
Dari keturunannya lahir dua belas suku Israel.
Pelajaran: Tuhan dapat membentuk karakter seseorang melalui perjalanan panjang. Orang yang dahulu hidup dengan tipu daya dapat belajar hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan.
7. Gideon: Pernah Penuh Ketakutan dan Keraguan, tetapi Dipakai Membebaskan Israel
Ketika Tuhan memanggil Gideon, bangsa Israel sedang ditindas oleh orang Midian.
Gideon tidak terlihat seperti seorang pahlawan. Ia sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur agar tidak terlihat oleh orang Midian.
Ketika malaikat Tuhan menyapanya sebagai pahlawan yang gagah berani, Gideon justru mempertanyakan bagaimana mungkin ia dapat menyelamatkan Israel.
Ia merasa keluarganya paling kecil dan dirinya paling muda.
Referensi Alkitab: Hakim-hakim 6:11–16.
Gideon juga beberapa kali meminta tanda kepada Tuhan untuk memastikan bahwa Tuhan benar-benar menyertainya.
Namun, Tuhan tetap sabar membimbingnya.
Akhirnya, Gideon memimpin hanya tiga ratus orang untuk mengalahkan pasukan Midian yang jauh lebih besar.
Referensi Alkitab: Hakim-hakim 6:36–40; 7:1–22.
Gideon membuktikan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan manusia.
Namun, kisahnya juga mengingatkan bahwa seseorang yang pernah dipakai Tuhan tetap harus berhati-hati.
Pada akhir hidupnya, Gideon membuat efod yang kemudian menjadi jerat bagi dirinya dan keluarganya.
Referensi Alkitab: Hakim-hakim 8:22–27.
Pelajaran: Tuhan dapat memakai orang yang penuh ketakutan dan keraguan. Tetapi pengalaman dipakai Tuhan tidak membuat seseorang kebal terhadap kejatuhan berikutnya.
8. Simson: Menyalahgunakan panggilan Tuhan sebagai hakim, tetapi kembali berseru kepada Tuhan
Simson memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Sebelum lahir, ia telah dipilih untuk menjadi nazir Allah dan mulai membebaskan Israel dari tangan orang Filistin.
Namun, Simson sering bermain-main dengan karunia yang diberikan kepadanya.
Ia berkali-kali mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Hubungannya dengan Delila akhirnya menjadi awal kehancurannya.
Delila membujuk Simson hingga ia membuka rahasia kekuatannya. Rambutnya dicukur, dan orang Filistin menangkapnya.
Simson kehilangan kekuatannya, kedua matanya dicungkil, dan ia dipenjarakan.
Referensi Alkitab: Hakim-hakim 13:1–5; 14:1–3; 16:4–21.
Namun, di dalam penjara, rambut Simson mulai tumbuh kembali. Pada saat terakhir hidupnya, ia berseru kepada Tuhan dan memohon kekuatan sekali lagi.
Tuhan menjawab doanya. Simson merobohkan tiang-tiang penyangga bangunan tempat para pemimpin Filistin berkumpul.
Referensi Alkitab: Hakim-hakim 16:22–30.
Kisah Simson adalah kisah yang tragis. Ia dipakai Tuhan, tetapi juga harus menanggung akibat dari pilihan-pilihannya.
Pelajaran: Karunia besar tidak menjamin karakter yang kuat. Kita perlu menjaga kesetiaan kepada Tuhan, bukan hanya mengandalkan kemampuan yang diberikan-Nya.
9. Markus: Pernah meninggalkan misi, tetapi dikemudian hari menjadi berguna
Markus, yang juga dikenal sebagai Yohanes Markus, pernah mengikuti Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misi.
Namun, di tengah perjalanan, ia meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem.
Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci alasan Markus meninggalkan perjalanan tersebut.
Referensi Alkitab: Kisah Para Rasul 13:5, 13.
Ketika Paulus dan Barnabas hendak melakukan perjalanan misi berikutnya, Barnabas ingin membawa Markus kembali. Namun, Paulus menolak karena Markus pernah meninggalkan mereka.
Perselisihan itu begitu tajam sehingga Paulus dan Barnabas akhirnya berpisah.
Referensi Alkitab: Kisah Para Rasul 15:36–40.
Tetapi cerita Markus tidak berakhir di sana.
Bertahun-tahun kemudian, Paulus menulis kepada Timotius agar membawa Markus karena ia berguna baginya dalam pelayanan.
Referensi Alkitab: 2 Timotius 4:11.
Markus juga dikenal dalam tradisi gereja sebagai penulis Injil Markus.
Kisahnya menunjukkan bahwa orang yang pernah dianggap tidak dapat diandalkan masih bisa bertumbuh dan kembali dipercaya.
Pelajaran: Jangan terlalu cepat memberi label kepada seseorang berdasarkan kegagalan masa lalunya. Ada orang yang membutuhkan kesempatan untuk bertumbuh dan membuktikan kesetiaannya.
10. Thomas: Pernah meragukan kebangkitan Yesus, namun menjadi saksi iman
Thomas sering dikenal sebagai murid yang ragu-ragu.
Ketika murid-murid lain memberitahukan bahwa Yesus telah bangkit dan telah melihatnya, Tomas tidak langsung percaya.
Dia ingin bukti dengan melihat bekas paku pada tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke bekas luka itu.
Referensi Alkitab: Yohanes 20:24–25.
Delapan hari kemudian, Yesus datang kembali ketika Thomas berada bersama murid-murid lainnya.
Yesus mempersilakan Thomas melihat tangan dan lambung-Nya. Ia juga berkata agar Thomas tidak menjadi orang yang tidak percaya, melainkan percaya.
Thomas kemudian menjawab: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).
Yesus tidak membiarkan keraguan Thomas menjadi akhir dari perjalanan imannya.
Kita memang tidak memiliki banyak catatan Alkitab tentang pelayanan Thomas setelah peristiwa itu.
Karena itu, kita tidak perlu membuat klaim berlebihan mengenai perjalanan selanjutnya. Namun, pengakuannya kepada Yesus menjadi salah satu pernyataan iman yang sangat kuat dalam Injil Yohanes.
Pelajaran: Keraguan dapat menjadi titik awal pencarian yang lebih dalam, jika seseorang bersedia datang kepada Yesus dan menerima kebenaran-Nya.
Apa yang dapat kita pelajari dari 10 kisah ini?
Kesepuluh kisah ini memperlihatkan bahwa Tuhan bekerja melalui manusia yang tidak sempurna. Namun, ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan.
- Tuhan tidak mengabaikan kegagalan.
Musa, Daud, Petrus, dan Paulus tidak sekadar melupakan masa lalu mereka. Mereka harus berhadapan dengan kesalahan dan akibatnya.
- Pertobatan lebih penting daripada mempertahankan citra diri.
Daud mengakui dosanya. Petrus menangisi penyangkalannya. Paulus mengakui masa lalunya sebagai penganiaya jemaat.
Mereka tidak berusaha membenarkan kesalahan.
- Dipakai Tuhan bukan berarti seseorang sudah sempurna.
Yunus masih bergumul dengan belas kasihan. Gideon dan Simson juga menunjukkan bahwa orang yang pernah dipakai Tuhan tetap dapat membuat keputusan yang keliru.
- Kegagalan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.
Markus pernah ditinggalkan dari perjalanan misi Paulus. Namun, kemudian ia menjadi rekan pelayanan yang berguna.
- Kasih karunia Tuhan memberi kesempatan untuk memulai kembali.
Tuhan tidak hanya melihat siapa kita dahulu. Dia juga melihat apa yang dapat Dia kerjakan dalam kehidupan kita ketika kita bersedia menyerahkan diri kepada-Nya.
Penutup
Ada satu kesamaan dari kisah-kisah ini.
Mereka bukan orang-orang sempurna. Mereka pernah takut, ragu, menipu, menyangkal, melarikan diri, bahkan melakukan dosa yang sangat serius.
Namun, Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan mereka.
Kisah-kisah ini bukan pembenaran untuk hidup sembarangan. Bukan pula alasan untuk menganggap dosa sebagai hal yang biasa.
Sebaliknya, kisah mereka ada untuk mengingatkan kita bahwa kasih karunia Tuhan jauh lebih besar daripada kegagalan manusia.
Boleh jadi kita merasa sudah tidak berguna. Karena melakukan kesalahan. Mengecewakan keluarga. Gagal dalam pelayanan. Atau merasa sudah terlalu jauh dari Tuhan.
Ingatlah satu hal: jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti datang kepada Tuhan.
Petrus pernah menyangkal Yesus, tetapi kemudian dipercayakan untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Markus pernah meninggalkan perjalanan misi, tetapi kemudian disebut Paulus sebagai orang yang berguna dalam pelayanan.
Tuhan dapat membentuk kehidupan siapa pun, yang bersedia datang kepada-Nya. Sebab, ditangan Tuhan, kegagalan bukan akhir cerita.






















